
Tangan besar Baron menghempas keras pipi Jihan. Sangking kerasnya tamparan Baron, pegangan kedua pengawal itu sampai terlepas, dan Jihan terlempar ke lantai.
Darah segar mengucur di sudut bibir Jihan. Tubuhnya terasa sakit dan nyeri, ia merasa sudah tak sanggup lagi berdiri. Ketukan kaki besi Baron terdengar berjalan mendekatinya.
"Angkat dia!" seru Baron pada dua pengawalnya.
"Apa maumu datang kemari hah?! jangan bilang kau merindukanku seperti ucapanku tadi." Baron menarik rambut Jihan ke belakang sehingga kepalanya terdongak ke atas.
"Rindu pada tua bangka sepertimu?? ccuhhh!" Jihan kembali meludah, kali ini liurnya tercampur dengan darah dari bibirnya yang pecah.
"BANG SAT!!" Sekali lagi pipi Jihan terkena tamparan yang jauh lebih keras dari tangan besar Baron.
Jihan tergelatak tak sadarkan diri di lantai. Pipinya lebam dan bibirnya semakin pecah berdarah.
"Dia matii??!" Violet menjerit ketakutan.
"Masih hidup, Nyonya," ucap salah satu pengawal yang memeriksa denyut nadi Jihan.
"Kenapa kau pukul seperti itu, Sayang? kalau Barra atau Tuan Jose tahu, kita bisa habis di tangan mereka." Violet mulai ketakutan.
"Kenapa kita harus khawatir. Mereka tidak akan tahu jika tidak ada yang memberi tahu bukan?" ucap Baron santai sembari menyalakan cerutunya.
"Maksudnya?"
"Aku sangat yakin, kedua orang bodoh itu tidak ada yang tahu jika dia kemari. Kita lempar saja tubuhnya ke jalanan." Violet menutup mulutnya mendengar perkataan Baron, tapi sejurus kemudian wanita itu tersenyum lega.
"Maaf Tuan, mobil Nona Luna ada di pinggir jalan Roovie. Dari kondisi mobilnya, sepertinya Nona Luna baru saja mengalami kecelakaan. Bagaimana kalau Nona Luna ditaruh di dalam mobilnya, seolah terluka karena kecelakaan." Salah satu pengawal memberikan informasi dan saran sembari merunduk.
"Bagus sekali idemu. Tidak salah aku menunjukmu sebagai orang kepercayaanku. Cepat bawa dia sebelum dia sadar."
"Kalau nanti Luna cerita dengan Tuan Jose atau Barra, bagaimana Sayang?" Violet kembali khawatir.
"Mana ada yang percaya? biar saja dia bercerita di mana-mana, tidak ada orang satu pun yang akan mempercayai ucapan seorang wanita yang pernah depresi." Baron tersenyum penuh kemenangan.
Sementara itu tubuh Jihan diangkat dengan paksa oleh dua pengawal yang bertubuh besar.
"Mau apa dia kesini. Kalau sampai dia bicara yang aneh-aneh sama Barra, awas aja!"
"Sepertinya Luna masih belum percaya kau dan aku benar-benar sudah berpisah. Kamu jangan khawatir, kau bilang Barra sudah dalam genggamanmu hmmm?" Baron mere mas bongkahan padat bagian belakang tubuh Violet.
"Auwww, kamu nakal sayang hihihihi."
__ADS_1
"Kita selesaikan urusan kita yang tertunda sebelum kau kembali ke pelukan pria lemah itu." Baron menggiring Violet masuk ke dalam kamar utama.
...❤...
Sementara itu, ayah Luna tampak sangat khawatir mendengar putrinya keluar dari mansion tanpa memberi kabar.
Terlebih lagi Adam kembali dari mencari Luna, dengan membawa mobil yang kondisinya rusak parah di bagian depan.
"Apa yang terjadi? Kenapa putriku Adam??" Tuan Jose mengejar Adam yang masuk dengan menggendong tubuh putrinya.
Adam belum menjawab, ia berjalan dengan sangat cepat terus ke arah kamar Luna. Dengan sigap Adam memberi perintah pada para pelayan, agar membawa obat dan air untuk mengkompres luka Jihan.
"Adam!" seru Tuan Jose tidak sabar.
"Maaf Tuan, saya menemukan Nona Luna di tepi sungai sudah dalam keadaan pingsan dan berdarah seperti ini. Sepertinya Nona Luna mengalami kecelakaan tunggal," jelas Adam.
"Lunaa!" Tuan Jose menangis sembari mengusap wajah Luna yang lebam. Ia meratapi nasib putrinya yang semakin hari semakin menyedihkan.
"Mari Tuan, biarkan pelayan mengobati luka dan mengganti pakaian Nona Luna." Adam menggiring Tuan Jose keluar dari kamar.
...❤...
"Kau penipu, Vio!"
Jihan berjalan mencari arah sumber suara. Ia melihat dua orang wanita yang sedang beradu mulut di taman belakang mansion milik Barra.
Itu Luna dan Violet? kalau itu Luna lalu aku?? Jihan mengamati tubuhnya sendiri. Ini badanku sendiri, tapi kenapa aku masih di dunia ini?
"Dasar wanita iblis kau Vio! kau sudah menjebak kami semua. Apa mau mu sebenarnya?"
Perhatian Jihan kembali terarah ke arah Luna dan Violet yang masih bertengkar bahkan terlihat semakin panas.
"Kau sudah tahu, Luna. Aku ... mau ... semua ... yang ... ada ... pada ... dirimu." Violet berbisik tepat di depan wajah Luna.
"Wanita gila kau Vio!"
"Hehehe, benar sekali aku sudah gila. Gila gara-gara Amanda, Ibumu yang ja la ng!" seru Violet.
"Jangan sebut nama Ibuku dengan mulut busukmu!" Luna menarik rambut Violet ke belakang.
"Aakkkhhh!" Violet mendorong tubuh Luna sehingga tarikan di rambutnya terlepas, "Kenapa? apa sebutan yang pantas untuk ibumu Luna? seorang pelayan yang merebut kekasih Nona mudanya hah!"
__ADS_1
"Ibumu berselingkuh!"
"Pembohong! kalian semua berbohong!" seru Violet tak terima.
"Ibumu merebut kekasih Ibuku, dan kau ... kau merebut ayahku!"
"Tuan Jose bukan ayahmu Vio!"
"Dia ayahku! Ibuku yang mengatakan hamil dengan Tuan Jose tapi bajingan tua itu tidak mau bertanggung jawab! dia lebih memilih wanita ja la ng ... ibumu!" Violet semakin berteriak histeris.
"Tuan Jose bukan ayahmu, Vio. Ayahku tidak mungkin berbohong. Ayahmu adalah Tuan Baron, suami ibumu." Luna merendahkan nada suaranya. Ia masih punya hati untuk mengatakan hal yang menyakitkan itu.
"BOHONG!! Tuan Baron memang suami ibuku, tapi aku anak dari Tuan Jose. Kau jangan memutar balikan fakta, Luna." Violet sudah semakin tampak frustasi.
Ia sebenarnya sudah tahu jika Tuan Baron adalah ayah kandungnya, tapi hati dan pikirannya menolak kenyataan itu.
"Sadarlah Vio, kau masih bisa memperbaiki diri." Luna berjalan mendekat ke arah Violet yang mere mas- re mas rambutnya.
"Jangan mendekat." Violet menghadang Luna dengan tangannya. Wajahnya sudah tampak kacau dengan air mata.
"Apa kau tahu apa ini, Luna?" Violet mengacungkan tube kecil berisi cairan berwarna ungu.
"Apa itu, Vio?" tanya Luna waspada.
"Sebentar lagi, cerita lama akan terulang kembali. Bagaikan de javu, aku akan jatuh tergeletak di sini dan kau akan di tangkap lalu di eksekusi mati seperti ibumu hahahaha ...." Violet tergelak namun frustasi.
"Kamu jangan bertindak gila, Vio. Kamu sedang hamil!" Luna berjalan semakin dekat.
"Hamil? hehehe .... jika benar Tuan Baron itu ayahku ... berarti aku mengandung anak dari ayahku hehehe ...." Violet tertawa dalam tangis.
"Vio ... semua akan baik-baik saja. Percaya padaku." Luna masih berusaha menenangkan Violet.
"Percaya padamu? anak dari orang yang mengkhianati ibuku?? hahahaha .... selamat mendekam di penjara, Luna." Begitu selesai menegak cairan ungu itu, Violet langsung terkapar di tanah dalam hitungan detik.
"VIO!" Luna mengguncang-guncang tubuh Violet yang mulai menghitam wajahnya.
"Ada apa?" Beberapa pelayan dan pengawal berjalan mendekat.
"Ada apa dengan Nyonya Violet?"
"Anda membunuhnya??"
__ADS_1
...❤🤍...