
Jihan berusaha mengamati sosok yang sedang berbincang dengan mamanya di ambang pintu. Ia sedikit kesal karena orang itu tidak mau melangkah masuk ke dalam, tapi hanya berdiri di sana sehingga Jihan hanya bisa melihat tubuh bagian sampingnya.
"Han, tuh si bzbzbzbzbz dateng terus loh nengokin kamu," ujar Lidia, tapi saat menyebutkan nama orang itu, suara Lidia terdengar seperti dengungan lebah di telinga Jihan.
Ngomong yang bener kenapa sih, Lid!
"Eh, kamu pasti kaget kalau tahu siapa penulis novel favoriteku itu." Lidia mengerling jenaka.
Siapa?! bilang cepat, siapa orang yang menulis cerita gila itu! Apa dia orangnya?
Jihan berusaha melihat lebih jelas sosok yang masih serius berbincang dengan mamanya, tapi kepala Lidia yang bergerak-gerak membuatnya kesulitan mengamati wajah orang itu.
"Cepat sadar dong, Han. Ada yang rindu tuh selain aku."
Tepat saat Lidia mengatakan hal itu, sosok tinggi itu menoleh ke arah tubuh Jihan yang terbaring. Namun Jihan harus menelan kekecewaan, karena wajah orang itu menjadi samar dan silau terkena sinar matahari dari jendela yang terbuka.
Sangat tidak asing. Aku sangat kenal, tapi siapa ya??
Jihan berusaha mengingat-ingat tapi tidak menemukan petunjuk sedikitpun, seakan jawaban sudah di ujung lidah, tapi tidak dapat terucapkan. Semakin ia berusaha mengingat denyutan di kepalanya semakin keras.
Aaakkhh ... Jihan merasakan kepalanya semakin berdenyut dan berputar, pandangannya semakin memudar.
Jihan sempatkan menoleh sekali lagi pada Lidia dan Mamanya, ia ingin merekam wajah keduanya dalam ingatannya jika sewaktu-waktu ia tidak akan kembali lagi ke dunia nyata. Saat ia melihat ke arah mamanya, Jihan menangkap sosok misterius memberikan senyuman tipis padanya.
"Nona, nona!" Jihan merasakan tubuhnya terguncang.
"Aawww." Jihan merintih kesakitan saat menggerakan tubuhnya.
"Anda tidak apa-apa, Nona?" Suara dengungan di sekitarnya membuat matanya terbuka lebar.
Hhhh, kenapa harus ke sini lagi sih?
Ia mengedarkan pandangannya, ternyata ia masih berada di dalam mobil. Rupanya saat mobilnya menabrak pembatas sungai, kepalanya terbentur sehingga membuatnya pingsan.
Namun ia harus bersyukur karena dengan adanya kejadian itu, ia dapat bertemu dengan mama dan sahabatnya. Walaupun hanya sebentar dan mereka pun tidak menyadari, jika Jihan dapat melihat semuanya.
"Aakkhh!" Jihan menjerit kecil saat merasakan nyeri di kepalanya. Tangannya terangkat memyentuh pelipisnya yang terasa bengkak. Ada darah di sana tapi tidak terlalu mengkhawatirkan.
"Anda tidak apa-apa, Nona?" Orang di samping mobil itu kembali bertanya dengan nada khawatir.
"Saya tidak apa-apa." Jihan mencoba tersenyum. Beberapa orang yang mengelilingi mobilnya tampak mundur dan berlalu dari sana.
"Terima kasih," ucapnya pada beberapa orang yang masih bertahan berdiri di sisi mobilnya. Namun saat ia akan menyalakan kendaraannya, mesin mobil itu hanya mengeluarkan suara meraung yang tidak jelas.
"Mogok, Nona?" tanya orang itu lagi. Jihan hanya tersenyum sedikit menanggapi. Ia lalu mencoba kembali menyalakan mesin mobilnya, tapi tidak membuahkan hasil.
__ADS_1
"Sh it!" desis Jihan geram.
"Kenapa Nona?"
"Eh, ga bisa nyala," ujar Jihan sembari keluar dari mobil. Kepalanya yang masih terasa nyeri ia pegang dengan sebelah tangan.
"Nona mau kemana?"
Jihan baru teringat alasan ia berada di sana membawa mobil ayah Luna.
"Kawasan Volare ... saya mau ke kawasan Volare, dimana itu?" tanyanya penuh harap.
Orang-orang yang masih berdiri di sekitarnya saling bertukar pandangan dengan wajah penuh tanya.
"Bapak tahu?" tanya Jihan mulai tak sabar.
"Itu." Pria tua itu menunjuk ke arah seberang jalan. Sebuah tanah menanjak membentuk perbukitan kecil, dengan banyak pohon cemara di sekitarnya.
"Bukit itu?" tanya Jihan memastikan. Orang-orang di sana mengangguk membenarkan.
Kenapa baru kelihatan sekarang ya? apa iya aku tadi ga lihat bukit sebesar itu?
"Pak, saya taruh mobil di sini ga apa-apa?"
"Iya, Nona ga apa-apa. Nona mau kesana?"
"Nona yakin?"
"Kenapa memangnya? ada apa di sana?"
Orang-orang di sana tidak ada yang menjawab, mereka kembali lagi saling bertukar pandangan. Lalu satu persatu pergi meninggalkan Jihan yang masih bertanya-tanya.
"Hati-hati, Nona," ucap satu orang terakhir yang pergi.
Begitu semua orang yang mengelilinginya pergi, Jihan memandang ke arah bukit kecil itu. Lalu perlahan ia berjalan mendekati kawasan Volare yang dikatakan orang-orang itu.
Walaupun jalanannya sedikit menanjak, namun tidak membuatnya merasa lelah karena suasana yang teduh dengan banyak pepohonan di sekitarnya.
Kawasan itu sangat sepi, sepertinya memang tidak diperuntukan untuk umum. Ada beberapa rumah kecil dengan jarak yang cukup jauh.
Jihan menghampiri sebuah rumah yang terlihat ada pergerakan di dalamnya, tapi begitu ia berjalan mendekat gorden rumah itu langsung ditutup dengan rapat seolah penghuni rumah langsung menolaknya.
Jihan kembali mengedarkan pandangannya mencari orang yang bisa ia tanya tentang keberadaan pria bernama Baron. Namun saat orang-orang yang ada di sana beradu pandang dengannya, mereka langsung masuk ke dalam rumah dan menutupnya dengan rapat.
B : Hati-hati, Nona. Anda tidak diterima di sini.
__ADS_1
J : Tumben kamu muncul sebelum aku panggil. Kepalang tanggung, B. Aku sudah di sini, mobil ayah Luna rusak. Masak aku harus kembali dengan tangan kosong?
B : Saya hanya memperingatkan untuk kebaikan anda
J : Terima kasih, tapi akan lebih berguna kalau kamu bantu aku menemukan Baron secepatnya.
B : Maaf, saya tidak bisa
J : Kalau begitu, diamlah
B : Anda bahagia sudah bertemu dengan orang tua dan sahabat, Nona?
J : Kamu tahu??
B : Apapun yang terjadi dengan anda, saya pasti tahu
J : Apa benar keadaanku di dunia nyata seperti itu, B?
B : Benar
J : B, ada orang lain selain mama dan Lidia ada di ruang rawatku, kamu tahu siapa dia?
B : Sembunyi, Nona!
J : Heh?
B : SEMBUNYI!
Jihan merasakan tubuhnya di tarik lalu di hempaskan di balik pohon yang besar.
J : Hei!
B : Lihat
Sebuah mobil merah melintas dengan cepat melewatinya. Dengan jendela kaca mobil yang terbuka, membuat Jihan mengenali wanita berambut pirang yang ada di dalamnya.
"Violet!" seru Jihan yakin.
Jihan mengendap-endap dari balik pohon satu ke pohon lainnya. Semakin menanjak, semakin banyak orang bertubuh besar dengan senjata api berkeliaran di sekitar kawasan itu.
Jihan memandang kagum bangunan besar yang terletak di puncak bukit. Bangunan itu hampir sama megahnya dengan mansion milik ayah Luna.
Mobil merah yang membawa Violet berhenti tepat di depan pintu mansion puncak bukit. Violet turun dari mobil dengan langkah yang angkuh dan berkelas, sangat jauh berbeda dengan saat ia berada di sisi Barra.
Saat di sisi Barra, Violet akan bersikap seperti layaknya istri yang sederhana, anggun dan manis. Sedangkan Luna adalah gambaran Violet saat di mansion puncak bukit ini.
__ADS_1
Inikah dunia di balik novel saat cerita itu tertutup?
...❤🤍...