Luna Milik Tuan Muda Barra

Luna Milik Tuan Muda Barra
Akhir


__ADS_3

"Kamu ingin masuk, Jihan?" tanya Pak Abi. Jihan mengernyit bingung, belum ada tuan rumah yang bertanya pada tamu apakah ingin masuk atau tidak, yang ada tuan rumah menawarkan untuk duduk dan bertamu.


"Boleh kalau Bapak ijinkan," ucap Jihan. Badannya yang lelah dan tenggorokannya yang kering mengharapkan sajian dari pemilik rumah.


"Silahkan, Jihan." Pak Abi mundur dan memberi jalan pada Jihan.


Perlahan Jihan menapakkan kakinya di lantai marmer yang indah. Begitu masuk ke dalam rumah, matanya langsung tertuju pada sebuah foto keluarga yang sangat besar. Niatnya ingin duduk di sofa empuk, Jihan malah berdiri mematung di depan foto yang tergantung di dinding.


"Kenapa, Jihan? ada yang kamu kenal?" tanya Pak Abi ringan sembari berdiri di samping Jihan.


Jihan mengatupkan bibirnya rapat. Ingin ia mengatakan bahwa ia sangat mengenal semua wajah yang ada di dalam foto keluarga itu dan menyebutkan satu persatu nama mereka. Namun mengingat reaksi wanita yang mirip dengan Millie, Jihan menahan pertanyaannya dari pada dosennya ini menganggapnya gila.


"Tidak ada," ucapnya pelan sembari berjalan ke arah sofa.


"Ada urusan apa kamu jauh-jauh kemari Jihan?" tanya Pak Abi sembari menopangka satu kakinya ke kaki yang lain.


"Tentang skripsi," ucap Jihan ragu. Matanya tidak mau lepas dari foto yang terpasang di dinding.


"Hahahahahahaa ...." Jihan menoleh terkejut saat Pak Abi tertawa lepas, "Kamu jauh-jauh datang kemari hanya untuk membicarakan skripsimu? sedangkan saya juga bukan dosen di kampusmu lagi Jihan."


"Itu ... siapa?" Akhirnya Jihan tidak bisa menahan rasa penasarannya. Ia bertanya sembari menunjuk ke arah foto yang tergantung.


"Keluarga saya," ucap Pak Abi singkat.


"Saya seperti pernah melihat mereka," ucap Jihan hati-hati.


"Oh ya? di mana?" Jihan menggigit bibirnya. Ia bingung harus mengatakan apa. Lalu ia mengeluarkan novel yang dibawanya dari kota.


"Seperti mimpi, cerita di dalam buku ini saya alami dan ... mereka juga menjadi tokoh di dalamnya," ujar Jihan sembari menaruh buku itu di atas meja. Wajah Pak Abi sama sekali tidak memperlihatkan keterkejutan atau bingung mendengar perkataannya.


"Siapa mereka di dalam mimpimu?" tanya Pak Abi sembari mengambil buku dari atas meja lalu membuka-buka halamannya.


"Tuan Jose, Millie, Luna, Barra dan Amanda," Jihan menyebutkan satu persatu wajah yang dikenalnya di dalam foto.


"Di sana ada enam orang hanya satu yang tidak masuk di mimpimu?" tanya Pak Abi lagi dengan mata masih tertuju pada buku di tangannya.


"Mmm ... Pak Abi ga ada," ucap Jihan ragu.


"Kamu yakin saya tidak ada di dalam mimpimu, Jihan?" tanya Pak Abi sembari menutup buku yang di bukanya.


"Sepertinya," ucap Jihan pelan.

__ADS_1


"Saya ada ... saya selalu ada," ucap Pak Abi sembari memajukan tubuhnya ke arah Jihan.


"Adam?" tanyanya lirih.


"Hai, Jihan." Pak Abi tersenyum lebar.


"Bagaimana mungkin??"


"Terima kasih Jihan kamu sudah bersedia menjadi tokoh di dalam cerita saya."


"Tokoh dalam ceri--. Tidak! saya tidak pernah bersedia, tapi saya dipaksa. Tiba-tiba saja saya sudah menjadi orang lain di dunia yang asing." Jihan mulai menunjukan emosinya.


"Hehehe, saya anggap itu bersedia."


"Bagaimana Bapak bisa memasukan saya ke dalam cerita?"


"Entalah, sejak kecil saya suka membuat cerita dan membayangkan semua tokoh yang saya tulis itu nyata."


"Kebiasaan itu terbawa hingga sekarang. Saya sendiri tidak mengerti kalau kamu juga ikut masuk ke dalam dunia yang saya ciptakan. Sampai saat kamu menampar Tuan Jose, ayah Luna hahahahaaa ... itu lucu sekali." Pak Abi tertawa lepas seakan semuanya hanya lelucon.


"Tokoh Luna tiba-tiba mengatakan hal yang aneh, bahwa ia bukan Luna. Padahal saya tidak menulis kalimat itu di dalam cerita."


"Maksud Bapak ... saya yang merubah alur cerita?" Pak Abi menganggukan kepala yakin.


"Tapi suara itu ... anda 'kan suara gaib yang menyebutkan nama sebagai B?" Pak Abi kembali mengangguk.


"Suara itu bilang kalau saya harus mengubah alur cerita gara-gara saya menghina novel ... Bapak." Suara Jihan melemah saat menyadari penulis novel yang ia hina adalah dosennya yang selama ini ia kagumi.


"Hahahahaha ... kalau saya tidak mengatakan hal itu, apa yang kamu lakukan di sana? hanya duduk diam menanti ajal?"


Benar juga kata Pak Abi, akhir cerita asli Luna akan mati dipenjara, jika ia tidak mengubah alur cerita mungkin sekarang ia tidak ada di dunia nyata.


"Jadi kenapa saya bisa masuk ke cerita Bapak?" tanya Jihan masih penasaran.


"Sudah saya katakan, saya pun tidak tahu. Barangkali kita punya ikatan batin yang cukup kuat?" Pak Abi menyeringai lebar.


"Hehehe." Jihan tertawa canggung, "Mmm, itu siapa? apa mereka juga masuk ke dalam cerita?" Jihan mengalihkan pembicaraan dengan menunjuk foto di dinding.


"Tidak, saya hanya memakai mereka sebagai gambaran saja. Ini ayah dan ibu saya." Pak Abi menunjuk foto Tuan Jose dan Amanda.


"Nama ayah saya, Josef dan ibu saya Amanda. Lalu ini adik saya dan suaminya." Pak Abi menunjuk foto Luna dan Barra, "Nama mereka Lusia dan Bram."

__ADS_1


"Lalu ini adik saya yang paling kecil, namanya merri." Pak Abi menunjuk foto gadis yang tadi membuka pintu untuknya.


"Lalu ini kamu tahu siapa?" Pak Abi menunjuk foto dirinya sendiri.


"Adam sekaligus B," ucap Jihan dongkol.


"Hahahahaa, kamu berperan denga sangat baik, Jihan."


"Anda sangat menyeramkan," ucap Jihan jujur.


"Awalnya saya pun merasa begitu, tapi kau tahu ... hal itu sungguh menyenangkan." Pak Abi tersenyum misterius, "Tapi saya harus berterima kasih padamu, Jihan. Berkatmu cerita versi baru ini, naik cetak dan terjual ribuan buku."


"Sama-sama." Jihan mengusap-usap lengannya, seketika ia merasa merinding dengan situasi aneh yang ia alami.


"Apa kamu ingin mencoba cerita baru lagi, Jihan?" Pak Abi berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekat.


Mata Jihan terbelalak ngeri, dengan cepat ia berdiri dan mencari ponselnya untuk menghubungi tukang ojek yang membawanya kemari.


"Aaaahhhh!" Jihan terpekik kaget, saat pintu utama terhempas lalu tertutup rapat. Seperti kilat Pak Abi menarik tangannya lalu menutup matanya.


Ibuuu, tolong!


Gelap.


...❤️🤍...


Aku bawa cerita bagus untuk mu



"Where is, Minerva Bee?" tanya Austin menyeruak kumpulan orang yang sedang mengelilingi Minerva.


"Here is Me." ucap Minerva membuat seorang Austin Wycliff terpana.


Gadis yang tadi ditabraknya ternyata yang mengalahkannya kali ini. Tidak hanya itu, Minerva juga akan makan malam gratis di cafenya selama satu minggu. Austin berjalan ke arah Minerva dan bertanya siapa dia sebenarnya. Karena selama ini Austin memang tidak terkalahkan.


"Who are you?" tanya Austin sambil menatap kedua netra Minerva.


"Bukankah kau lebih tahu siapa yang kini menjadi lawan mainmu?" tanya Minerva menantang Austin.


Austin sedikit terkejut mendengar jawaban Minerva kali ini. "Baiklah, kau berhak makan malam gratis di cafeku selama satu minggu penuh. Dengan syarat kita akan tetap bermain selama itu. Kita lihat siapa yang lebih unggul di antara kita." ucap Austin sambil meninggalkan Minerva.

__ADS_1


__ADS_2