
"Oh, yaaa?? hahahahahaa ... ternyata tubuh tegap dan muda tidak menjamin." Baron semakin tergelak kencang.
"Soal keperkasaan, kamu tidak ada duanya, Sayang." Violet melingkarkan kedua tangannya di leher Baron dari arah belakang.
"Setelah wanita angkuh itu mendekam di penjara seumur hidup, lalu giliran pria tua dan pria lemah itu kita habisi. Setelah itu semuanya jadi milik kita." Violet menji lat dan menggigit telinga Baron. Pria gemuk tua itu, mengeluarkan de sahan yang membuat Jihan menutup mulut karena mual melihat tingkah keduanya.
Jihan hampir saja berteriak dan melompat saat benda tajam dan dingin menyentuh lehernya.
"Berdiri!" Suara dingin dan tajam mengancamnya. Jihan masih terpaku di tempatnya tanpa berani menoleh. kakinya terlalu berat untuk digerakkan.
"Cepat!" Benda tajam dan dingin itu semakin menekan lehernya menimbulkan rasa yang sangat perih.
"I-iyaa." Jihan mengangkat kedua tangannya lalu perlahan berdiri.
"Maju!" Tubuhnya ditarik lalu didorong dengan keras mendekati Violet dan Baron.
__ADS_1
"Tuan, ada penyusup," ujar salah satu pengawal pada Baron.
Kedua sejoli yang sedang saling mende sah itu, menoleh dengan kesal karena kegiatan mereka terusik. Namun saat tahu siapa yang tersungkur di lantai, Baron tertawa dengan keras. Sedangkan Violet tampak sedikit pucat dan langsung bersembunyi di balik tubuh Baron.
"Rindu padaku, Sayang?" Baron berjalan mendekati Jihan dengan langkah pincang. Dari jarak yang dekat seperti ini, Jihan bisa melihat kaki kanan Baron ternyata terbuat dari besi.
"Angkat dia, biar aku bisa melihat wajahnya yang jelita," ujar Baron pada kedua pengawalnya.
Kedua tangan Jihan di tarik paksa agar berdiri. Baron memegang dagu Jihan, lalu jari jempol pria itu mengusap bibirnya. Jihan menahan diri agar tidak menggigit jempol besar itu.
"Apa pria yang kau kejar-kejar dulu tidak bisa memuaskanmu di ranjang hhmmm? Aku bisa memberikanmu kepuasan kepadamu seperti Violet." Baron semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Jihan.
"Sayang!" Violet berseru tak suka di belakang Baron.
"Tenang Baby, aku hanya ingin bermain-main dengannya," sahut Baron tanpa menoleh ke arah Violet. Matanya masih nyalang memandang ke arah wajah dan tubuh Jihan.
__ADS_1
"Ada yang berbeda darimu. Mengapa saat telanjang bulat di sebelahku, kau tidak terlihat semenarik ini?" bisik Baron di telinga Jihan.
"Dasar pembohong! malam itu tidak terjadi apapun di antara kita!" Jihan memberanikan diri menatap langsung pada mata Baron.
"Hahahahaha ... bukannya kau sudah tahu? tapi sayangnya mereka tidak ada yang percaya padamu. Mereka hanya percaya pada Baron, yang mereka tahu kau datang menyerahkan diri di atas ranjangku." Pria itu menepuk dadanya jumawa.
"Bahkan semua orang menaruh simpati padaku, aku yang ingin bertanggung jawab menikahimu malah kau tolak. Lalu salah apa aku? hahahahahaaaa ...."
"Ba jingan! apa salahku dan ayahku padamu?!" Walaupun Jihan tahu alasan Violet melakukan hal itu, tapi ia belum tahu alasan Baron. Apakah hanya empati sebagai suami, ataukah ada alasan lainnya.
"Kau tidak bersalah apapun, Sayang ... sama sekali tidak ...." Wajah Baron semakin mendekat dengan pandangan mata nanar tertuju pada bibirnya. Pria itu mengincar bibirnya.
Cciiuuuh! Jihan meludah tepat di wajah Baron.
"Wanita laknat!" Plaaakkk!!
__ADS_1
...❤🤍...