
"Hei! mendorong bagaimana, sedangkan aku berdiri jauh di depanmu," tukas Jihan tidak terima dituduh oleh Violet.
"Dasar pembohong! sekali berbohong pasti akan terus berbohong!" tuding Violet.
"Buktikan kalau aku yang mendorongmu. Kalau kau tidak bisa membuktikan, kau yang pembohong." Jihan terus bertahan tak ingin difitnah oleh Violet.
"Sayang, kau percaya aku kan? dia sudah mendorong aku." Violet bersandar pada tubuh Barra yang terlihat bingung di antara kedua istrinya.
"Ow, rupanya ada yang ingin mengalihkan isu panas yang terjadi tadi sore." Jihan tersenyum mengejek. Ia baru menyadari sandiwara Violet hanyalah untuk menghalangi dirinya berbicara dengan Barra.
"Aaaahhh, perutku!" Violet meremas perut bagian bawahnya.
"Ck, sudahlah, Vio. Aku yakin kamu hanya berpu---"
"HENTIKAN, LUNA! cukup sudah kau menyakiti keluargaku." Barra berseru lantang.
"Apa maksudmu keluargamu? apa aku tidak termasuk di dalamnya?" protes Jihan.
"Benar kata, Vio. Kamu memang hadir sebagai benalu, sudah untung aku menerimamu kembali ," desis Barra saat melewati Jihan dengan Violet di dalam gendongannya.
"Hah! dasar wanita ular!" maki Jihan geram. Ia langsung masuk ke dalam mansion dan membanting pintu kamarnya.
__ADS_1
"Sia-sia aku merayu dia tadi. Kalau seperti ini caranya gimana aku bisa cepat kembali ke duniaku sendiri??" Jihan meremas rambutnya.
"Kenapa di dunia ini tidak ada yang namanya teknologi telepon selular? kalau ada sudah aku rekam tingkah Violet dan pria bertongkat itu di danau."
"Cerita macam apa yang ditulis oleh pembuat cerita itu? bagaimana bisa Lidia suka dengan cerita macam begini? apa bagusnya tokoh Violet??"
Jihan terus menerus uring-uringan di dalam kamarnya. Ia berjalan mondar-mandir sembari sesekali meremas rambut dan menggigit kukunya.
B : Nona, saya ingatkan sekali lagi, anda hidup di dunia ciptaan sang penulis. Hentikan mencaci hasil karyanya.
J : Aku tidak mencaci, aku hanya heran, B. Bagaimana bisa penulis mengangkat kisah Violet padahal aslinya busuk! aku melihat wanita itu berciuman di pinggir danau, B!
B : Sudah pernah saya bilang kepada anda, Nona jika dunia novel ini bagaikan dua sisi cermin yang bertolak belakang. Apa yang pembaca lihat bisa jadi berbeda dengan apa yang anda lihat dan rasakan.
B : Jika sama saja, tidak ada gunanya anda di sini. Dunia yang anda rasakan saat ini, ibaratnya terjadi saat pembaca menutup novelnya. Bagaimana cara mengangkat kisah Luna sebagai peran utama dalam kisah ini, semua ada di tangan anda.
J : Berapa lama waktuku, B?
Jihan merebahkan dirinya diatas pembaringan. Tiba-tiba ia merasa lelah dengan segala usahanya yang selalu menemukan jalan buntu.
B : Masih ada waktu, Nona. Jangan khawatir, saya selalu ada disini menemani anda
__ADS_1
Suara gaib itu terdengar merdu di telinga Jihan, membuatnya sangat mengantuk dan membawanya ke alam mimpi yang terasa nyata.
"PEMBUNUH!"
Suara kecaman orang-orang yang marah di sebuah pesta besar membuat Jihan bergerak lebih mendekat.
"Bu-bukan ... bukan akuuu!" Wanita cantik berambut hitam tampak gemetar. Wajahnya yang putih semakin terlihat pucat saat semua jari tertuju kepadanya.
"Aku melihatmu berdebat dengannya tadi," ucap salah satu tamu di sana.
"Benar, mereka tadi bertengkar." Yang lainnya ikut menimpali.
"Itu gelas minuman anda, bukan?" Seseorang menunjuk gelas yang jatuh berkeping dan di sebelahnya, tergeletak wanita yang menangis di pernikahan orang tua Luna dengan mulut penuh buih.
"I-iyaa, tapi aku tidak ...." Wanita cantik itu mulai menangis ketakutan.
"Kau pembunuh, Amanda!"
...❤🤍...
Mampir sini dulu yuk
__ADS_1