
Jihan berusaha menggerakan tungkai kakinya. Ia terus mengayun agar segera sampai ke tepi kolam renang sebelum kakinya kaku karena membeku di dalam air. Kepalanya ia tengadahkan agar tidak terendam di bawah air dan masih bisa menghirup udara.
Saat ujung jarinya hampir saja mencapai pinggir kolam, Violet menarik rambutnya sehingga tubuh Jihan terseret kembali ke tengah kolam.
"Mati kau perempuan pembawa sial!" Violet berusaha membenamkan tubuh Jihan masuk ke dalam air.
Seketika air dingin kolam, masuk ke dalam semua lubang yang terbuka di kepala Jihan. Jihan menggelepar-gelepar di dasar kolam. Dadanya semakin sesak, kupingnya berdenging kencang. Tangannya berusaha menggapai wajah dan rambut Violet yang berada di atasnya, tapi tetap tidak sampai.
Kedua tangan Violet mencengkram kuat leher Jihan. Keduanya masih berada di dasar kolam. Pandangan Jihan mulai memudar, Violet di atasnya masih menahan tubuhnya dengan tatapan marah yang mengerikan.
Jihan tidak menyangka wanita yang sedang mengandung seperti Violet mempunyai tenaga sekuat itu, bahkan wanita itu sedang mabuk berat.
Jadi seperti ini akhirnya? Jihan membatin sedih.
Ia merasa usahanya selama ini sia-sia. Ia tetap mati dalam tubuh Luna tanpa seorangpun mengenalnya sebagai pribadi yang lain. Luna pun tidak bisa meraih kebahagiaannya bersama orang yang dicintainya dan Luna juga tidak bisa membersihkan namanya dari fitnah yang dibuat Violet. Jihan merasa gagal dalam misinya.
B ... B! genapi janjimu, bawa aku ke duniaku sebelum aku mati. Jihan bergumam sebelum ia benar-benar menutup mata.
Lamat-lamat ia mendengar suara yang memanggil namanya, bukan nama Luna. Lalu air kolam terasa bergoyang sangat kencang. Sekilas ia melihat tubuh Violet ditarik seseorang dan wajah Barra yang berganti di hadapannya.
Gelap.
Sementara di sisi alam bagian lain, tubuh Jihan bergetar hebat. Mama yang sedang menjaganya di rumah sakit, berlari keluar mencari perawat untuk memeriksa kondisi Jihan.
"Ada apa, Tante?" Lidia yang baru datang dengan beberapa orang lainnya, tampak ikut panik saat beberapa perawat dan dokter masuk dan mengerumuni tubuh sahabatnya.
"Tante ga tahu, tadi tiba-tiba badan Jihan gemetar. Tangannya juga dingin sekali. Tante takut, Lid." Mama Jihan menggenggam tangan Lidia erat.
"Tante jangan khawatir ya, Dokter sama perawat 'kan sedang memeriksa Jihan."
"Tante takut, kapan dia bisa sadar dan pulih ya, Lid. Kasihan Jihan." Mama Jihan terisak mengingat putri satu-satunya yang sudah terbaring tak sadarkan diri selama hampir dua minggu.
"Sebentar lagi dia sadar," ucap salah seorang di sana. Semuanya menoleh ke arah sumber suara. Jika semuanya terlihat panik dan khawatir, pria bertubuh tinggi itu terlihat sangat tenang dengan kedua tangan di dalam sakunya.
__ADS_1
Sementara di waktu yang sama, Jihan di dalam tubuh Luna sedang dibantu pernapasan oleh Barra.
"Damn it! bangun Luna!" Barra terus memompa dada Jihan dan memberi nafas buatan berulang kali.
Sedangkan Violet meronta dalam cengkraman tangan pengawal kepercayaan Barra.
"Wanita ja la ng! mati saja kau!" Violet terus berteriak sembari kakinya menendang ke segala arah.
"Nonaaa," tangis Millie menambah haru dan kepanikan suasana pagi di taman belakang mansion Barra.
Semua pengawal dan pelayan berkumpul dengan wajah tegang. Adam berdiri tak jauh di belakang Barra, mengamati bagaimana pria itu menolong Nona mudanya.
Tiba-tiba ujung matanya menangkap pergerakan cepat diantara seorang pelayan. Adam mengikuti pelayan muda yang menjauh dari kerumunan itu.
"Mau kemana?" Adam menghalang langkah pelayan itu.
"A-ambil minum untuk Nyonya Lu-Luna." Pelayan itu meski terkejut masih bisa menguasai keadaan.
"Yang mana yang kau sebut Nyonya?"
"Akkhh, lepaskan!" Pelayan itu memberontak dan mulai melawan, dengan satu kali serangan pelayan wanita itu langsung tersungkur di lantai.
Adam memberi kode pada pengawal di sana untuk mengamankan pelayan wanita yang mencurigakan itu.
"Lunaaa! bangun sayang." Saat Adam kembali ke taman belakang Jihan masih belum sadar dan Barra terus berusaha memberi pertolongan pertama dengan panik.
"Permisi, biar saya coba." Adam menyeruak kerumunan yang mengelilingi Barra dan Jihan.
"Mau apa kau!" Barra menahan tubuh Adam yang mendekat ke arah Jihan.
"Saya juga bertanggung jawab atas keselamatan Nyonya Luna, Tuan." Adam menyahut dengan tegas.
Begitu Barra memberi celah pada Adam untuk mendekat, ia langsung memiringkan tubuh Jihan dan menepuk-nepuk punggungnya. Lalu merebahkan kembali, memompa dadanya dan memberi nafas buatan.
__ADS_1
Barra yang melihat Adam juga melakukan bantuan nafas buatan pada istrinya, hendak menarik tubuh Adam tapi tangannya ditahan oleh Millie.
"Tunggu sebentar, Tuan saya mohon. Biarkan Adam membantu Nyonya Luna." Pelayan setia Luna itu sudah menangis bersimbah air mata.
Beberapa saat kemudian Jihan mulai terbatuk-batuk dan mulai membuka matanya perlahan.
"Pak Abi?" ucap Jihan lirih. Matanya yang masih buram mencoba kembali fokus. Raut wajah dosen sastra kunonya terbayang di hadapannya.
"Nyonya," panggil Adam.
"Adam??" Berangsur-angsur bayang wajah Pak Abiyasa berubah menjadi wajah Adam.
"Kamu baik-baik saja, Luna??" Barra mengambil alih tubuh Luna dari pelukan Adam.
Jihan hanya mengangguk bingung. Baru saja ia merasa hidupnya akan berakhir, tapi sekarang ia menjadi pusat perhatian penghuni mansion.
Aku masih hidup, di mana Violet? Jihan menoleh ke asal suara pekikan wanita. Ia melihat Violet di tarik paksa menjauh dari taman belakang.
Mulut wanita itu terus menerus meneriakan sumpah serapah dan memanggil nama Barra. Namun pria yang dipanggil rupanya sama sekali tidak peduli. Pria itu masih merengkuh tubuh Jihan dan menatapnya penuh dengan rasa khawatir.
"Sayang, kamu baik-baik saja??" Barra menangkup wajah Jihan. Ia yang masih belum sadar betul hanya mengangguk dan berusaha menetralkan rasa sesak di dada.
"Tuan, biar saya bantu Nyonya berganti pakaian." Millie berjalan mendekat.
"Baiklah. Aku akan menyusulmu, tunggu aku memberi pelajaran pada wanita ular itu." Barra memandang Violet dengan tatapan beringas.
Jihan berjalan pelan dituntun oleh Millie dan pelayan lainnya. Saat melewati Adam, matanya menelisik raut wajah pengawal itu. Adam memberikan senyuman tipis pada Jihan saat Nona mudanya itu melintas di hadapannya.
"Millie, apa yang sudah aku lewatkan?" tanya Jihan sambil menunggu pelayannya itu mengisi air hangat pada tempat mandinya.
"Anda berkelahi dengan Nyonya Violet di kolam renang," ujar Millie. Ya, kalau itu Jihan sudah tahu, tapi yang membuatnya penasaran adalah mengapa Barra marah pada Violet. Apa suami Luna itu tahu kejahatan istri pertamanya?
"Lalu, bagaimana semua orang tahu kami ada di dasar kolam?"
__ADS_1
"Saya kurang tahu pasti Nyonya, saat saya sampai di kolam. Adam sudah menarik Nyonya Violet dan menemukan tube berisi racun di saku bajunya."
...🤍❤...