
Selama bercerita, raut wajah Luna terus berganti-ganti, dari sedih, tersenyum lalu bersedih lagi begitu terus. Jihan tidak berani menyela, ia masih tekun mendengarkan sembari mengingat-ingat perjalanan hidupnya sebagai Luna.
"Saat itu aku sudah hampir lompat dari atas sini, Jihan." Luna menoleh kearahnya sembari tersenyum miris.
"Bagaimana bisa aku hidup bersama mantan dari wanita yang sudah merebut tunanganku sendiri. Selama itu juga aku akan melihat kemesraan mereka yang seolah mengolokku!" Luna terlihat kembali emosi.
"Sampai pengawal ayahku menarik tubuhku dan ia menggagalkan rencana bunuh diriku."
"Ayahku menawarkanku untuk menjadi istri kedua dari Barra. Aku sempat menolak saat itu, mana sanggup harus melihat kemesraan mereka dari jarak dekat. Apalagi Barra yang sudah membenciku pasti perlakuannya semakin menyakitkan."
"Namun ayahku berhasil meyakinkanku dan memberi harapan jika suatu saat nanti, Barra akan melihat kebenarannya. Saat itu aku sangat senang, akhirnya dapat menikah dengan pria idamanku. Di kepalaku sudah tersusun rencana matang untuk menendang Violet dari kehidupan kami."
"Tapi semua gagal gara-gara dia menahanku di sini dan menggantikannya denganmu." Bibir Luna mengkerucut kesal.
Jihan langsung memasang pendengarannya baik-baik akan penjelasan Luna selanjutnya. Ia masih tidak berani menyela cerita Luna. Ia juga masih penasaran dengan 'Dia' yang disebut oleh Luna tadi.
"Dia menganggapku akan mengacaukan jalan ceritanya. Hah! lucu sekali. Dia merasa kamu jauh lebih bisa diandalkan untuk menghadapi Violet, tapi setelah aku melihat caramu bersikap menjadi diriku ... aku mengakuinya, kau hebat." Luna menepuk bahu Jihan.
"Andaikan aku yang berhadapan dengan Violet, sejak malam pertamaku dengan Barra mungkin tanganku ini sudah ada di lehernya mencengkramnya dengan erat sampai ia kehabisan nafas," ujar Luna geram.
"Emm ... dia siapa?" tanya Jihan ragu.
"Dia." Luna menekankan kata dia dengan penekanan. Ia menatap Jihan dengan pandangan heran.
"Siapa?" tanya Jihan lirih dengan dahi berkerut.
"Dia yang bawa kamu masuk kesini untuk menggantikan aku." Luna mencoba menjelaskan pada Jihan yang terlihat kebingungan.
"Aku tak tahu dia siapa." Jihan menggelengkan kepala bingung.
"Namanya pun aku tak tahu, hanya aku sering menyebutnya Tuan sok kuasa." Luna terkekeh geli.
"Dimana dia sekarang?" tanya Jihan penasaran.
"Dia ada dimana-mana," ujar Luna dengan senyum misteriusnya.
__ADS_1
"Mmm ... lalu bagaimana nasib kita berdua?" tanya Jihan ragu.
"Kita tunggu saja. Aku pun ingin segera bersatu dengan suamiku." Luna tersenyum senang.
"Maafkan aku tidak bisa melindungi suami dan ayahmu," ujar Jihan sedih.
"Jangan khawatir mereka baik-baik saja. Sekali lagi terima kasih untukmu, Jihan." Luna memandangi Jihan dengan tersenyum lebar.
"Sama-sama," sahut Jihan pelan. Di benaknya masih tersimpan sejuta pertanyaan, tapi tak sanggup ia lontarkan pada wanita anggun di hadapannya itu.
"Sebentar lagi, mungkin 'Dia' akan mengantarmu kembali," lanjut Luna.
"Mengantarku kembali kemana?"
"Pulang ke duniamu. Kau tentu rindu bertemu keluargamu sama sepertiku, bukan?"
Senyum Jihan terkembang lalu kembali surut, "Tapi aku ga tahu apakah tubuhku di sana masih bisa menerimaku," ucapnya lirih.
"Semua akan baik-baik saja." Luna memeluk Jihan erat lalu memberikan senyuman lebar kepadanya. Perlahan-lahan raut wajah Luna memudar dari penglihatan Jihan.
"Arrgghh ...." Jihan mengerang kesakitan. Sayup-sayup.ia mendengar suara pelayan wanita memanggil seseorang, lalu terdengar langkah tegap yang cepat semakin dekat ke arahnya.
Jihan mengernyitkan keningnya, tapi langsung meringis kesakitan karena ia lupa ada luka bekas peluru yang menyerempet di pelipisnya.
"Pelan-pelan. Tidak perlu memikirkan hal yang berat," ucap Adam. Jihan semakin merasa aneh dengan kalimat yang diucapkan pengawal ayah Luna itu, tapi ia berusaha menahan reaksi wajahnya.
"Barra ... Tuan Jose?" Pertanyaan pertama yang dilontarkan Jihan setelah ia sadar.
"Sudah ada yang menangani, mereka baik-baik saja. Pikirkan dirimu sendiri dulu," ucap Adam datar.
"Adam ... ada yang aneh denganmu." Akhirnya Jihan tidak tahan untuk menanyakan pada Adam.
"Mengapa kau menyebutku bukan Nona? aku sempat mendengar, kau juga memanggil namaku bukan Luna, apa aku salah dengar?" tanya Jihan berhati-hati.
"Tidak. Anda tidak salah dengar."
__ADS_1
Mata Jihan membesar dengan bibir terbuka lebar. Ia tadinya berharap Adam menjawab ia salah dengar, tapi ia tidak menyangka Adam secara tidak langsung membenarkan telah memanggilnya dengan nama aslinya.
"Kau ... kau tahu siapa aku?"
"Saya tahu," sahut Adam masih dengan nada datar.
"Siapa kamu?" Jihan berusaha bangkit dari ranjang. Entah ia harus senang ada orang lain dari dunia nyata yang mengenalnya, ataukah ia harus takut dan terancam.
"Saya tidak penting."
"Tidak ada yang tidak penting, Adam. Bagaimana kau bisa di sini? dan bagaimana kau bisa mengenaliku?" Jihan memberondongnya dengan pertanyaan.
"Saya ada di sini untuk memjaga anda."
"B?? kamu B??" Jihan terbelalak saat Adam tidak menjawab pertanyaannya karena secara tidak langsung pria itu membenarkan pertanyaannya.
"Jadi kamu tahu siapa yang membawa aku kemari, Adam. Katakan siapa dia??!" Jihan mencengkram kemeja Adam dengan geram. Ia menemukan tempat untuk melampiaskan emosinya sebagai Jihan yang sesungguhnya.
"Tugasmu sudah selesai, kau ingin kembali atau tetap di sini?" tanya Adam yang tidak terpengaruh dengan kemarahan Jihan.
"Tentu saja aku ingin kembali untuk apa kau tanyakan hal itu lagi!" sembur Jihan. Seketika rasa sakit yang dideritanya tidak terasa sama sekali.
"Harus aku tanyakan, barangkali kau lebih suka menjadi Luna?"
"Ga lucu!"
"Buktinya sejak tadi kau menanyakan keadaan Barra terus, apa kau sudah jatuh cinta pada suami Luna?" tanya Adam dengan nada yang sedikit sinis.
"Omong kosong apa lagi ini? Aku tidak hanya menanyakan keadaan Barra, tapi aku juga menanyakan kondisi Tuan Jose. Lagi pula apa salahnya aku menanyakan mereka. Aku di sini sebagai Luna." Jihan sudah mulai kesal dengan pertanyaan Adam yang baginya terkesan mengada-ngada.
"Hmmm," sahut Adam datar.
"Kapan aku bisa kembali? Tubuhku di sana baik-baik saja bukan?" Jihan sedikit merasa khawatir dengan pilihannya. Bagaimana jika ia kembali ke tubuh aslinya saat tubuhnya itu sudah berada di dalam tanah.
"Sekarang pun bisa."
__ADS_1
"Benarkah? tapi ...." Jihan menoleh ke arah pintu kamar Luna.
Ia mulai memikirkan, apakah ia akan merindukan kehidupan di luar pintu kamar itu. Apakah nanti ia tidak merasa kehilangan kehangatan Barra yang baru saja ia rasakan? Apakah ia juga akan merindukan kasih sayang seorang ayah yang sejak kecil tidak pernah ia rasakan? Juga Millie, gadis ceria itu apakah ia tidak bisa bertemu dengannya lagi?