
"Saya kurang tahu pasti Nyonya, saat saya sampai di kolam Adam sudah menarik Nyonya Violet dan menemukan tube berisi racun di saku bajunya."
"Millie, apa kamu tahu siapa yang datang terlebih dulu di kolam. Tuan Barra atau Adam?" Jihan penasaran siapa yang memanggil nama aslinya. Ia sangat yakin mendengar suara pria memanggil namanya bukan nama Luna.
"Saya kurang tahu pasti Nyonya, tapi waktu saya dan pelayan lain sampai di kolam Tuan Barra masih di dalam air menolong Nyonya, sedangkan Adam sudah naik ke atas menarik Nyonya Violet yang terus memberontak," jelas Millie setelah mengingat-ingat sejenak.
"Benar kan dugaan saya, Tuan Barra masih mencintai Nyonya." Millie tersenyum bangga seakan baru menemukan rahasia besar yang tersembunyi.
Jihan hanya menimpali dengan senyuman, ia tidak terlalu ambil peduli dengan perasaan Barra sekarang. Jelas ia tahu Barra masih sangat mencintai Luna, tapi saat ini hanya terhalang fitnah yang dirancang oleh Violet dan mantan suaminya.
Sekarang yang mengganggu pikiran Jihan adalah suara yang memanggil namanya di dunia yang tidak nyata ini. Jika orang itu memanggil nama aslinya, berarti dia tidak sendiri. Ada orang lain di dunianya yang ikut masuk ke dalam dunia novel ini. Tapi siapa? Barra ataukah Adam?
Apakah ia sedang berhalusinasi tadi, seperti orang yang akan menjemput ajalnya. Ia bahkan bisa melihat wajah dosen idolanya saat di dalam air.
"Nyonya, air hangat sudah siap." Panggilan Millie menyadarkan Jihan dari lamunannya.
Jihan mandi di bawah kucuran air hangat. Berendam dan berkelahi di dalam air kolam yang hampir mencapai titik beku, membuat sendinya ngilu dan nyeri. Tiba-tiba Jihan teringat akan nasib Violet, ia langsung mempercepat mandinya dan langsung akan keluar dari kamar.
__ADS_1
"Nyonya mau kemana?" Millie menahan Jihan yang sudah berada di depan pintu kamar siap akan keluar.
"Mau menemui Nyonya Violet."
"Tuan minta Nyonya istirahat." Millie menahan tangan Jihan.
"Saya sudah banyak istirahat saat pingsan tadi, Millie. Biarkan aku keluar, jangan khawatir aku baik-baik saja." Jihan bersikeras keluar dari kamar.
Jihan mencari Violet ke kamarnya, tapi kamar itu tampak kosong. Lalu Jihan berjalan menuju ruang tamu, ia menemukan Barra sedang berdiri di ambang pintu masuk.
"Sayang, kenapa kamu tidak istirahat?" Barra berbalik lalu langsung berjalan cepat ke arah Jihan dan memeluknya.
"Aku baik-baik saja, di mana Violet?" Jihan memeluk Barra sekedarnya lalu bertanya ulang.
"Dia baru saja pergi."
"Kemana?"
__ADS_1
"Ke tempat di mana dia seharusnya berada," ujar Barra seraya tersenyum misterius.
"Maksudnya?" Seketika Jihan merinding, di kepalanya melintas hal-hal yang mengerikan.
"Sepertinya ia pergi ke mansion Baron." Jihan menghela nafas lega mendengar kelanjutan penjelasan Barra.
"Bagaimana bisa? mengapa kau ijinkan?" tanya Jihan penasaran melihat raut wajah suami Luna yang terkesan santai tanpa beban.
Pria itu tertawa mendengar pertanyaan Jihan, "Untuk apa aku menahannya? Ini memang sudah waktunya, Sayang. Kita berhasil," ucap Barra yang semakin membuat Jihan bingung, "Duduklah." Barra menggiring Jihan duduk di sofa ruang tamu.
"Aku membiarkan Violet lari keluar dari mansion, karena aku tahu tempat yang akan ia tuju."
"Mansion Baron?" Barra mengangguk, "Dari mana kau bisa sangat yakin?"
"Sangat yakin, karena mereka berdua tidak pernah benar-benar berpisah."
...❤🤍...
__ADS_1