
"B, aku tidak salah lihat itu Violet, 'kan?" Jihan semakin mempertajam penglihatannya. Jihan mendengus kesal saat menyadari, ternyata ia hanya berbicara seorang diri.
"Dasar! kau itu tidak terlihat B, kenapa seperti pengecut yang langsung menghilang?!"
Jihan kembali melanjutkan perjalanannya. Ia berjalan mengendap-endap di balik pepohonan. Niatnya ingin mencari tahu siapa dan bagaimana rupa Baron, tapi malah serasa mendapat jackpot hari ini.
Semakin dekat dengan tembok mansion yang tinggi menjulang, pengamanan di sana semakin ketat. Pria berbadan besar dan bertato berdiri mengelilingi mansion dengan mata awas.
Jihan bergidik melihat senjata tajam dan api tersemat di pinggang para pria besar itu.
"Aku hanya ingin tahu wajah Baron, sudah itu saja lalu aku langsung pergi dari sini." Jihan mengulang-ulang kalimatnya di dalam hati agar perasaanya semakin tenang dan mantap melanjutkan penyelidikan.
Jihan berjongkok di balik pohon besar, dari posisinya ia bisa melihat ke dalam halaman mansion, sekaligus pintu masuknya yang besar. Ia berharap Violet dan Baron keluar bersamaan.
__ADS_1
"Kalau aku sudah tahu rupa Baron, lalu apa? kalaupun terbukti mereka masih punya hubungan bahkan di depan mata kepalaku sendiri, bagaimana aku bisa menyampaikan pada Barra?"
"Hei, penulis! apa kau lupa memasukan unsur teknologi dalam ceritamu ini? sungguh merepotkan!" Jihan menggerutu sembari berbisik.
Hampir dua jam lamanya Jihan berada di antara pepohonan. Ia sudah mulai tidak tahan dengan serangan nyamuk yang mengecup kulitnya.
"Menciptakan nyamuk saja ingat, tapi menciptakan ponsel dan kamera kau lupa!" Jihan mulai menggerutu kembali. Ia sudah tidak ingat peringatan dari suara gaib untuk tidak menghina sang penulis.
Tanpa pikir panjang, Jihan segera melompat dan bergelantungan di pinggir salah satu gerobak pengangkut bahan makanan.
Kereta kuda itu membawanya ke bagian belakang mansion. Saat ia merasakan laju kereta mulai melambat, Jihan melompat ke arah semak-semak dekat gudang penyimpanan bahan makanan.
"Adduhh!" demi apa aku adegan action kayak gini?!" Jihan meringis menahan perih pada lututnya yang berdarah.
__ADS_1
Jihan meniup-niup lututnya sembari matanya mengamati situasi sekitar. Penjagaan bagian belakang mansion ini, tidak seketat di luar gerbang. Hanya ada satu sampai tiga orang penjaga yang tampak berjalan hilir mudik tapi terkesan santai.
Di bagian belakang ini, kolam renang besar dengan gazebo terhubung dengan bangunan mansion utama tanpa penghalang apapun. Saat situasi terlihat aman dan sepi, Jihan berjingkat masuk ke dalam mansion.
Suasana di dalam mansion sangat lengang malah terkesan sunyi. Jihan bersembunyi di balik pilar besar, matanya menyapu ke seluruh sudut ruangan yang mempunyai langit-langit tinggi.
Suara tawa wanita yang sangat dikenalnya, terdengar dari dalam mansion. Jihan berjalan pelan dengan merapat ke arah tembok, sesekali kepalanya menoleh ke arah belakang mengawasi jikalau ada yang melihatnya menyelinap.
Sampai di ruang tengah dengan perabotan dan hiasan dinding yang mewah dan mahal, Jihan melihat Violet sedang duduk di pangkuan seorang pria seumur ayah Luna.
Pria itu duduk di kursi bar miliknya, dengan minuman keras berjejer di atas meja. Violet tampak nyaman berada di pelukan pria itu. Pria yang sama yang Jihan lihat di tepi danau.
...❤🤍...
__ADS_1