Luna Milik Tuan Muda Barra

Luna Milik Tuan Muda Barra
Titik jenuh Jihan


__ADS_3

"Adam?" Jihan terkejut saat pengawal aneh itu ada dibelakang tubuhnya, dan terlebih lagi pria itu membawakan jaket tebal untuknya. Tidak ada yang aneh sebetulnya, tapi kenapa dari sekian banyak pengawal dan pelayan di mansion ayah Luna ini, hanya Adam yang nampak sangat perhatian padanya.


"Cuaca masih dingin, Nona. Jangan pernah keluar tanpa jacket," ucapnya datar.


"Terima kasih, Adam. Aku hanya lagi senang melihat salju." Adam yang berdiri di belakangnya hanya menimpali dengan anggukan kecil.


"Kau masih di sini?" tanya Jihan tak nyaman saat pria itu mengikuti tiap langkahnya.


"Saya hanya memastikan anda aman."


"Dari pada kau mengikuti aku bermain salju yang sudah dipastikan aman karena hanya di area mansionku sendiri, bagaimana jika kau menemaniku menemui Baron?"


"Maaf, Nona sa---"


"Kalau kau tidak mau, jaga jarak dariku!" ancam Jihan saat menangkap nada penolakan dari Adam.


"Saya bukan melarang, tapi belum waktunya."


"Kenapa semua orang membicarakan waktu! apa yang kau tahu tentang waktuku!" seru Jihan merasa frustasi ketika teringat kembali tentang sisa waktunya.


"Tak apa jika kamu tidak mau membantu, aku akan mencari tahu sendiri." Jihan mengangkat dagunya angkuh.


"Apa yang anda ingin ketahui, Nona?"


"Mengapa aku bisa begitu bodoh ada dalam satu ranjang dengan pria bernama Baron. Setampan apakah pria itu, hingga aku rela naik ke atas ranjangnya dengan keadaan polos," papar Jihan tanpa ada rasa malu sedikitpun, toh yang melakukan hal itu bukan dia tapi Luna.


"Tapi belum waktunya anda mengetahui itu semua, Nona."


"Persetan dengan waktu!" Jihan meninggalkan Adam di tengah taman dengan perasaan kesal luar biasa.


Setidaknya jika pengawal itu sedikit memberi alasan atau wajah yang berekspresi tidak datar jika menyampaikan sesuatu, Jihan mungkin akan merasa sedikit terhibur.


Ia melangkah masuk kembali ke kamarnya, lagi pula ia baru tersadar kalau tadi keluar dari kamar menuju taman, masih mengenakan baju tidur.


Jihan sedikit berhias dan bersiap untuk kembali ke mansion milik Barra setelah membasuh tubuhnya dengan air hangat, lebih tepatnya tubuh milik Luna.


"Hhhuuhh ...." Prrakkk!

__ADS_1


Jihan mengeluh saat sedang menyisir rambut lalu melemparkan sisir itu ke meja riasnya. Ia tiba-tiba merasa lelah berpura-pura menjadi orang lain yang mempunyai karakter, gaya berbicara dan kehidupan yang berbeda jauh dengannya. Terlebih lagi wanita yang ia gunakan tubuhnya ini sudah menikah, dan parahnya lagi ia menjadi istri kedua yang tidak diinginkan.


J : B ... B!


B : Ya, Nona.


J : Aku ingin pulang.


Jihan mulai terisak. Ia merasakan kerinduan bicara secara normal, bercanda dengan bahasa yang sedikit nakal bersama dengan teman-temannya, bukan seperti Luna yang memakai bahasa baku dan kaku.


Ia juga lelah harus merawat tubuh yang bukan tubuhnya. Walaupun secara fisik tubuh Luna lebih indah dan cantik, Jihan merindukan tubuhnya yang asli.


Walaupun ia di dunia ini dilayani bagaikan putri raja, ia masih bahagia menjadi seorang mahasiswa yang berjuang mendapatkan beasiswa tiap tahunnya.


Di titik ini Jihan mulai sadar dan mensyukuri dan sangat merindukan kehidupan aslinya yang sangat sederhana namun bahagia. Menjadi Luna yang berkelimpahan harta tapi tidak dicintai dan harus memohon agar dinikahi oleh kekasihnya membuat hati Jihan miris. Belum lagi masa lalu Luna yang kehilangan ibu karena tuduhan yang tidak benar.


Apa tujuan penulis menarik aku ke dalam dunia hayalnya? apa karena hanya seleraku yang berbeda dengan karyanya? heh, pecundang!


B : Bersabarlah sebentar lagi, Nona.


J : Mengapa semua memintaku menunggu dan bersabar?! Aku ga mau mati konyol, B!


J : Lalu apa maksudmu, begitu aku menyelesaikan misi di dunia ini, lalu aku kembali lagi, tapi ternyata tubuhku sudah ada di dalam tanah menjadi santapan cacing-cacing?! begitu maksudmu, B?!


B : Tenanglah, Nona. Kalau terlalu panik, anda akan kesulitan menemukan jalan keluar


J : Kau itu manusia atau jin sebenarnya, B? Suara gaib itu tidak menjawab pertanyaan aneh Jihan.


J : Ck! sudah ku kira kau bukan manusia. Pantas tidak punya hati!


Jihan keluar dari kamarnya dengan perasaan yang tidak lebih baik dari saat ia masuk tadi.


Berbicara dengan B dan Adam sama-sama menjengkelkan! Jihan terus melangkah ke arah ruang kerja ayahnya hendak berpamitan pulang.


Saat sampai di depan pintu ruang kerja ayah Luna dan tangannya hampir saja mendorong pintu yang sedikit terbuka, ia mendengar dua suara pria sedang berbincang serius.


"Saya sudah pastikan, orang itu masih ada di sana , Tuan."

__ADS_1


"Awasi terus, Adam. Temukan titik lengah mereka, jangan bertindak gegabah. Putriku taruhannya."


"Jangan khawatir, Tuan. Sampai saat ini tidak ada yang curiga, saya pastikan Nona Luna juga tidak akan menginjakan kaki lagi ke kawasan Volaer milik Baron."


Kawasan Volaer di mana itu? Luna pernah kesana? Jihan semakin merapatkan telinganya di daun pintu.


"Sudah sampai mana perkembangannya di sana?" suara ayah Luna kembali terdengar.


"Tuan muda hampir saja lepas kontrol, tapi situasi kembali terkendali."


"Syukurlah, tapi aku masih merasa bersalah kepada mereka berdua, Adam." Suara ayah Luna terdengar sangat sedih sekali.


"Tidak lama lagi, Tuan. Semuanya akan berubah." Suara Adam terdengar sangat misterius di telinga Jihan.


Suara ketukan sepatu Adam mendekat ke arahnya membuat Jihan segara berlari dan sembunyi di balik pilar. Di lihatnya pria berpunggung lebar itu berjalan lurus ke arah belakang mansion.


Tak mau membuang waktu, Jihan segera berlari ke arah pintu depan dan langsung menuju pintu gerbang. Ia harus mengambil resiko sekarang atau tidak sama sekali.


Saat sudah agak dekat ke arah pos penjaga, Jihan mengatur nafasnya yang menderu dan memelankan jalannya. Sesekali ia menoleh ke arah belakang, khawatir jika ayah Luna atau Adam memergokinya.


"Ada yang bisa kami bantu, Nona?" tanya seoran penjaga di sana.


"Ee, saya ingin pinjam mobil." Jihan berusaha memasang wajah datar.


"Nona, jalan sendiri??" tanya pengawal itu sembari memanjangkan lehernya ke arah belakang Luna.


"Iyaa, saya lagi ingin sendirian," ucap Jihan tak sabar.


"Mmm ... baiklah." Akhirnya penjaga itu mengambil salah satu kunci mobil yang tergantung dan mengantar Jihan ke deretan mobil yang terparkir di halaman.


"Silahkan, Nona." Penjaga itu membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Jihan untuk masuk.


"Terima kasih." Jihan mengucap syukur berulang kali dalam hatinya saat melihat pengoperasian mobil di dunia novel ini sama dengan dunia nyata, bukannya memakai mantera khusus.


Pintu gerbang dibukakan baginya, Jihan segera menyalakan mobil dan langsung mengarahkan kemudi ke luar mansion. Sebelumnya ia menoleh ke arah mansion memastikan ayah Luna dan Adam tidak tahu perbuatannya.


...❤🤍...

__ADS_1


Yang belum mampir ke karya tamat pertama aku yuk kesana juga yaa



__ADS_2