Luna Milik Tuan Muda Barra

Luna Milik Tuan Muda Barra
Pulang


__ADS_3

"Han ... Jihan??" Adam mengibaskan tangannya di depan wajah Jihan.


"Ya?" Jihan kembali memfokuskan pada Adam yang duduk di depannya.


"Kamu siap kembali sekarang?"


"Bolehkah aku bertemu dengan mereka dulu sebelum aku kembali?" pinta Jihan memelas.


"Kau sendiri mengatakan kalau ini dunia yang tak nyata, untuk apa kau hiraukan keberadaan mereka." Jihan mengerutkan wajahnya mendengar pertanyaan Adam yang seolah mengejeknya.


"Kalau permintaanku ini berat bagimu, tak usah saja."


"Bukan tidak boleh, hanya aturannya memang seperti itu. Jika kamu memaksa untuk bertemu mereka lagi, saat waktumu untuk kembali tiba, dikhawatirkan kau akan berubah pikiran."


Jihan menatap Adam lekat, "Adam, mengapa aku merasa tidak asing denganmu?" Adam mengangkat kedua alisnya hal itu membuat Jihan semakin penasaran. Tangannya tanpa sadar terangkat akan menyentuh wajah Adam.


"Kamu siap?" ujar Adam tiba-tiba membuat tangan Jihan yang hampir menyentuh wajah Adam melayang di udara.


"Siap," sahut Jihan sedikit kesal. Pelit. Jihan menggerutu dalam hati.


Aku bisa mendengarmu, Jihan. Suara gaib itu melintas di kepala Jihan.


Jihan terkesiap menutup mulutnya. Dilihatnya Adam menyeringai menatapnya. Jihan merutuki dirinya sendiri, ia lupa bahwa selama ini Adam adalah B atau suara gaib yang berbincang dengannya melalui pikiran.


"Berdirilah." Adam mengulurkan tangannya membantu Jihan berdiri dari ranjang.


"Kita mau kemana?" tanya Jihan saat Adam menuntunnya ke arah pojok kamar Luna. Adam tidak menjawab, ia terus menuntun Jihan yang masih sedikit sempoyongan akibat luka di pelipisnya.


Kening Jihan semakin berkerut saat Adam membawanya ke depan lukisan Luna yang tergantung di atas dinding.


"Kita mau apa di sini?" tanya Jihan heran. Adam masih belum mau menjawab. Ia meraih tangan Jihan lalu mengangkatnya.


"Kamu siap?" tanya Adam.


"Eemm ... apa sakit atau menakutkan?" tanya Jihan khawatir. Adam tidak mau menjawab, ia hanya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Jihan.


"Sampai bertemu di seberang sana, Jihan. Semoga kau bisa mengenaliku," bisik Adam di telinga Jihan.

__ADS_1


Saat Jihan akan memutar kepalanya ingin melihat wajah Adam yang berada di belakang tubuhnya, Adam sudah meletakan telapak tangannya di gambar tangan Luna yang terlukis indah.


Seperti ada yang menariknya masuk ke dalam lukisan itu. Jihan terpekik ngeri, ia mencoba bertahan dan mundur tapi kekuatan di seberang sana jauh lebih kuat. Ia menoleh ke arah belakang, tampak Adam terlihat semakin mengecil.


"Adaaamm! ...."


Sekejap nafas Jihan terasa berhenti seolah berada di ruang hampa udara lalu ....


"Huaaaaaa ... hhhehh ... hhheehhh!" Seperti orang yang tenggelam lalu naik ke atas permukaan air, Jihan terengah-engah mencari udara untuk mengisi paru-parunya yang terasa sesak.


"Doookk! Dokterrrr! ...." Jihan mendengar suara ibunya berteriak kencang.


Aku sudah pulang. Di tengah-tengah rasa sakitnya Jihan masih dapat mengamati lingkungan sekitarnya.


Beberapa orang berpakaian putih setengah berlari mendekati ranjangnya. Dari posisinya berbaring Jihan bisa melihat petugas kesehatan sibuk memasang alat di tubuhnya. Ia juga dapat mendengar suara tangisan ibunya di sudut ruangan.


Aku belum mau mati! Jihan berseru dalam hati. Semakin sesak rasanya saat menyadari ia pulang kembali ke tubuhnya dalam keadaan sekarat.


Perlahan-lahan matanya semakin berat dan nafasnya berangsur-angsur menjadi lebih teratur. Setelah itu Jihan tidak dapat mengingat apapun lagi.


...❤️...


"Jihan? kamu sudah sadar??" Sebuah wajah bulat menyembul di atas kepalanya.


"Lidia?" ucap Jihan lirih hampir tak terdengar.


"Iyaaa ini kawanmu yang paling manis," ujar Lidia gembira melihat temannya yang sudah tiga minggu lebih tak sadarkan diri sudah membuka mata.


"Lid ...." panggil Jihan serak.


"Kenapa, Han? kamu butuh apa? sakit yang mana? aku panggil dokter ya??" Lidia mulai panik.


"Pengen pipis," bisik Jihan. Panggilan alam saat bangun tidur tetap terasa, walaupun ia sudah lama berbaring di atas ranjang pasien.


"Ow, kirain. Pipis aja, kamu kan pakai kateter," ujar Lidia sembari menunjuk ke arah bawah ranjang pasien menggunakan kepalanya.


"Ibu?" tanya Jihan lagi.

__ADS_1


"Ibu kamu lagi sarapan di bawah. Aku panggil dokter dulu ya, sama kasih kabar ke ibumu kalau kamu sudah sadar." Jihan hanya mengangguk samar pasrah.


Tubuhnya terasa lemah tapi hatinya sangat bahagia dapat kembali lagi ke tubuh aslinya. Perlahan ia mengangkat tangannya yang tertancap jarum infus. Diusapnya lengan dan telapak tangan miliknya yang sudah lama tak disentuhnya.


Saat Lidia bersama Ibu kembali ke ruang rawatnya, Ibu langsung menghambur memeluk Jihan dan menangis di sana.


"Syukurlah kamu sehat-sehat, Nak. Ibu senang kamu akhirnya sadar."


"Ibuu, aku kangenn ... maafkan Jihan, Buu." Jihan balas memeluk ibunya. Seketika ingatannya melayang pada Amanda, Ibu Luna. Walaupun menjadi Luna hanya sebentar saja, jiwa Jihan seakan menyatu dengannya.


Pelukan Ibu dan anak itu harus terpisah karena Dokter dan perawat masuk ke ruangan untuk memeriksa Jihan.


"Ada keluhan Mba Jihan?" tanya dokter setengah baya yang memeriksanya.


"Lemas aja, Dok."


"Wajar karena Mba Jihan tidak sadar selama tiga minggu. Selama itu juga Mba Jihan hanya terbaring di atas ranjang dan sering terjadi serangan kejutan di tubuh Mba Jihan, seperti bergetar, menggigil juga lonjakan denyut nadi dan jantung yang tidak beraturan. Tapi, hasil CT scan otak dan lain-lain semua normal, saya yakin Mba Jihan akan segera pulih."


"Terima kasih, Dok," ucap ibu Jihan.


"Han, Ibu pulang dulu ambil baju ganti untuk kamu ya. Nanti kamu ditemani sama Lidia," ujar Ibu seraya melirik ke arah Lidia yang duduk di sofa dengan buku di tangannya. Jihan mengangguk pelan menanggapi.


Selang lima belas menit Ibu Jihan pulang, Lidia masih tekun dengan buku bacaan dan snack di pelukannya. Jihan yang merasa bosan diabaikan seorang diri sudah merasa kesal.


"Lid," panggil Jihan dengan suara yang masih parau. Wajah gadis gembul itu masih tenggelam di balik halaman buku yang dipegangnya.


"Lidia!" seru Jihan sekuat tenaga.


"Yaa! kamu butuh apa, Babe?" Lidia terlonjak dari duduknya lalu segera menghampiri ranjang temannya.


"Babe-babe ... bilangnya teman sejati tapi selalu kalah sama bacaan," gerutu Jihan.


"Maaf, aku kira kamu tidur. Abis lagi seru ini." Lidia mengacungkan buku novel yang dibacanya. Mata Jihan membesar saat melihat wajah yang sangat dikenalnya menjadi cover novel.


"Lihat!" Jihan berusaha menggapai buku yang dipegang Lidia.


"Eeiittsss, jangan dong. Aku janji nemenin kamu ga baca lagi." Lidia menjauhkan buku yang ia pegang dari jangkauan tangan Jihan. Ia masih trauma dengan ponselnya yang pecah gara-gara insiden Jihan yang terjatuh dari tangga.

__ADS_1


...❤️🤍...


__ADS_2