
"Pak ... tolong, Pak ... lepaskan sayaa." Jihan memukul-mukul daun pintu tebal yang terbuat dari kayu jati dengan kepalan tangannya.
Entah sudah berapa lama ia disekap di dalam ruangan tanpa jendela dan penerangan. Di luar masih terang atau sudah gelap ia sama sekali tidak tahu.
Jihan meringkuk dan bersandar di balik pintu, tangannya sudah memerah dan bergetar kesakitan karena sejak tadi memukul daun pintu yang keras.
"Siapapun di luar sana, tolong sayaaa." Jihan meraung dan berteriak di lubang kunci pintu berharap gadis yang membuka pintu untuknya tadi mendengar jeritannya.
Sejak matanya di tutup Pak Abi, ia sempat pingsan entah beberapa lama. Saat terbangun ia sudah di dalam ruangan yang sangat gelap.
"Saya takuuut, Pak Abi tolong buka pintunya ... saya mohooonn." Suara Jihan semakin melemah. Samar-samar ia mendengar suara orang berdebat di balik pintu. Jihan mencoba menempelkan telinganya di daun pintu berusaha mendengar pembicaraan di luar sana.
Tiba-tiba suara anak kunci berputar, Jihan langsung beringsut menjauh dengan merangkak karena tubuhnya masih terasa lemas.
"Astagaa ... mari, Nak berdiri. Ikut saya." Jihan menggeleng ketakutan saat pria tua berwajah mirip Tuan Jose mengulurkan tangan. Untuk saat ini tak ada seorangpun yang bisa ia percaya.
"Jangan takut." Pria itu berusaha mendekat. Jihan tetap tak bergeming di tempatnya.
Ia sungguh merasa takut dengan siapapun di rumah ini. Namun saat melihat wajah gadis yang serupa Millie mengintip dari balik daun pintu dengan wajah khawatir, Jihan akhirnya mau menyambut uluran tangan pria tua yang mirip Tuan Jose itu.
"Bantu dia, Merri." Pria itu menyerahkan Jihan ke tangan gadis itu. Kaki Jihan yang lemah untuk bergerak, harus di papah agar dapat berjalan.
"Ikut saya, Kak." Gadis yang bernama Merri itu membawa Jihan masuk ke dalam kamarnya. Ia membantu Jihan untuk membersihkan tubuhnya dan memberi pakaian ganti.
Jihan terharu melihat Merri, di matanya Merri seperti Millie yang sedang membantu ia bersiap saat menjadi Luna.
"Kak ... Kak?"
"Eh, ya?" Jihan tersadar dari lamunanannya.
"Makan dulu ya, sejak datang tadi belum makan 'kan?" Merri menyodorkan sepiring nasi beserta lauknya.
"Pak ... Pak Abi di mana?" tanya Jihan lirih. Wajah Merri langsung berubah keruh saat Jihan menyebut nama Pak Abi.
"Kakak di kamar," ucap Merri singkat, "Setelah makan, biar Papa yang jelaskan langsung," lanjut Merri cepat saat Jihan kembali akan menanyakan sesuatu.
Setelah selesai makan, Merri membawa Jihan ke ruang kerja Papanya.
"Nama kamu siapa, Nak?"
__ADS_1
"Jihan." Jihan tersenyum, ia kembali merasakan kembali kehangatan Tuan Jose dari tatapan dan cara bicara Papa Merri.
"Ada apa kamu datang kemari mencari putra saya?"
Jihan mulai menceritakan sejak awal tujuannya kemari termasuk keanehan yang ia alami tanpa ada satupun yang ia tutupi. Namun sayangnya ia tidak dapat menunjukkan novel yang diberikan Lidia karena tas miliknya beserta isi sudah tidak tahu di mana.
Raut wajah Papa Merri dan Merri sendiri tidak menyiratkan kebingungan saat Jihan bercerita. Seolah bagi mereka itu adalah sesuatu yang biasa terjadi.
"Abiyasa, putra pertama saya. Sangat pintar, cerdas dan berbakat. Tulisannya banyak menghiasi halaman berita dan menginspirasi banyak orang." Papa Merri menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
"Namun di balik itu semua, Abiyasa memiliki kemampuan istimewa yang tidak banyak orang lain tahu. Abiyasa dapat mengendalikan pikiran orang melalui kata-katanya."
"Menghipnotis?"
"Lebih dari itu. Seperti yang kamu pernah alami, terasa nyata bukan?" Jihan mengangguk membenarkan perkataan Papa Merri, karena sampai detik ini ia terkadang masih merasa menjadi Luna.
"Sebetulnya tidak masalah, Abiyasa dapat mengontrol bahkan hampir melupakan kemampuannya itu. Sampai ada suatu kejadian kelam di dalam keluarga kami." Papa Merri meminum teh dari cangkirnya sebelum melanjutkan ceritanya.
"Itu putri kedua saya, lebih tepatnya anak bawaan dari istri saya." Papa Merri menunjuk ke arah potret keluarga yang tergantung di dinding kerjanya.
"Kami tidak tahu jika Abiyasa memendam rasa cinta pada adik tirinya. Ia terus menyimpan rapat-rapat rasa itu, hingga Lusi akhirnya menemukan pendamping hidupnya, Bram."
"Awalnya semua baik-baik saja, sampai suatu ketika Bram ditemukan selingkuh dengan teman bisnisnya, Violet." Jihan menggelengkan kepalanya mendengar cerita ayah Merri yang terasa lebih rumit dari kisah yang dialaminya.
"Abiyasa dan Bram berkelahi satu lawan satu, lalu Bram mengambil pisau di dapur hendak menusuk Abiyasa. Namun pisau berhasil di rebut oleh Abi, tapi ... Lusia menghalangi saat Abi akan menusuk suaminya."
"Lusia tewas di tangan putraku. Abi yang panik dan marah, semakin membabi buta menusuk Bram hingga lantai rumah ini berlumuran darah."
"Sejak saat itu istri saya, ibu kandung Lusia shock dan koma tidak pernah sadar hingga akhir hidupnya."
"Abiyasa sempat dipenjara dan menjalani teraphy kejiwaan, tapi hasilnya ia baik-baik saja. Berita ini tidak pernah keluar dari desa ini."
"Saya mengijinkan dia untuk mengajar di kampus karena melihat kondisinya yang sudah jauh lebih baik, tapi saya salah ternyata kemampuannya belum hilang bahkan semakin kuat."
"Sampai tadi ia bercerita bahwa ia sudah membawa Lusia kembali ke tengah-tengah kami dan menghukum Violet. Lusia pun telah bahagia bersama Bram, karena ia tahu adiknya itu sangat mencintai suaminya."
"Abi akan menjadikan kamu wayangnya, karena ia menjanjikan kepada saya, untuk membawa kembali Amanda ke sisi saya." Jihan terperangah mendengar kalimat ayah Merri.
"Pergilah jauh dari sini, Nak. Saya tidak ingin kamu menjadi tumbal di rumah ini." Ayah Merri berdiri dan mengambil tas miliknya yang disimpannya di dalam lemari.
__ADS_1
"Pergilah, tukang ojek yang mengantarmu sudah menunggu di depan." Ayah Merri mendorongnya keluar dari ruang kerja.
"Jangan khawatir, Abi sudah saya beri suntik penenang, ia sedang tidur," ucap Ayah Merri seolah tahu kekhawatirannya.
"Jangan pernah kembali lagi kemari dan berlarilah jika Abi mencarimu." Ayah Merri memperingatkannya sekali lagi sebelum ia naik ke atas motor.
"Terima kasih," ucap Jihan tulus.
Kepalanya masih memandang Villa megah di belakangnya saat motor yang dinaikinya melaju dengan sangat kencang. Ia tidak menyangka Pak Abi yang dikenalnya sangat berwibawa menyimpan sejuta misteri.
"Neng dari kepolisian ya?" tanya tukang ojek.
"Bukan, Pak saya cuman mahasiswi."
"Ow saya pikir kepolisian yang mau selidiki kasus pembunuhan dan kebakaran Villa Tuan Josep."
"Bukan ... eh, kebakaran?"
"Loh, gimana toh Neng. Tadi bukannya Neng lagi periksa bekas Villa yang habis terbakar tiga minggu yang lalu?"
"Terbakar habis?" Jihan menoleh sekali lagi ke arah belakang. Letak Villa yang di puncak bukit memungkinkan masih dapat ia lihat meskipun dari jarak yang jauh.
Tubuhnya bergetar saar melihat Villa yang baru beberapa menit lalu ia tinggalkan sudah menghitam dan hanya menyisakan reruntuhan saja.
"Gosipnya ada pertengkaran keluarga, lalu salah satu menyiram bensin ke seisi rumah dan membakarnya, Neng. Kasihan semuanya ga ada yang selamat." Suara tukang ojek terdengar samar di telinga Jihan. Ia hanya mencengkram jaket milik tukang ojek agar tidak pingsan dan jatuh sebelum sampai di terminal.
...❤️🤍...
Terima kasih bagi yang sudah mengikuti cerita ini. Maaf jika tidak sesuai dengan harapan teman-teman semua. Cerita ini sudah di luar jalur konsep awalnya, mohon maaf jika sedikit terasa aneh karena baru ini mencoba genre misteri 🙏😅
...❤️...
Aku bawa cerita bagus lagi nih
Risma
Saat ku putuskan untuk berubah, rasanya mudah sekali. Hanya dengan mengenakan hijab panjang dan pakaian syar'i. Namun, ternyata salah, aku juga harus menata hati dan menahan diri.
__ADS_1
Memasrahkan semua yang terjadi pada sang pemilik nyawa. Namun, aku tidak bisa berbesar hati. Melihat laki-laki yang telah mengusik hatiku terbaring tak berdaya. Sedangkan aku hanya bisa terdiam menunggu kabar baik yang entah kapan itu datangnya.
Namun, saat hati tak lagi berdaya, sedang raga meminta untuk tetap bertahan, bolehkah aku menyalahkan sang pemilik nyawa? Mampukah aku bertahan di tengah keputusasaan yang mendera?