
Sepertinya ini waktunya Violet membuat drama pembunuhan dirinya. Jihan bersikap waspada, jelas ia harus berhati-hati sekali dengan segala gerakan dan ucapannya.
"Ibumu seorang ja lang, Luna. Sama sepertimu, rela menjadi istri kedua dari suami orang." Violet mulai memancing kemarahan Jihan.
"Kau yang ja lang, Vio. Kau mengandung anak dari ayahmu sendiri. Bukankah itu sesuatu yang menjijikan?" Jihan tidak dapat menahan kesabarannya saat Violet mulai menyinggung Ibu Luna.
"BOHONG!! Tuan Baron memang suami ibuku, tapi aku anak dari Tuan Jose. Kau jangan memutar balikan fakta, Luna." Violet sudah semakin tampak frustasi.
"Sadarlah Vio, kau masih bisa memperbaiki diri." Jihan berjalan mendekat ke arah Violet yang mere mas- re mas rambutnya, persis seperti apa yang dilakukan oleh Luna dan yang ia lihat dalam mimpi.
"Jangan mendekat." Violet menghadang Luna dengan tangannya. Wajahnya sudah tampak kacau dengan air mata.
"Apa kau tahu apa ini, Luna?" Violet mengacungkan tube kecil berisi cairan berwarna ungu.
__ADS_1
"Aku tahu itu apa." Jelas Jihan tahu apa yang diacungkan Violet. Racun yang mematikan tapi ia juga tahu seorang pelayan juga sedang memegang penawarnya.
"Sebentar lagi, cerita lama akan terulang kembali. Bagaikan de javu, aku akan jatuh tergeletak di sini dan kau akan di tangkap lalu di eksekusi mati seperti ibumu hahahaha ...." Violet tergelak namun frustasi.
"Kamu jangan bertindak gila, Vio. Kamu sedang hamil!" Jihan berjalan semakin dekat. Mencari celah kelemahan Violet.
"Hamil? hehehe .... jika benar Tuan Baron itu ayahku ... berarti aku mengandung anak dari ayahku hehehe ...." Violet tertawa dalam tangis.
"Vio ... semua akan baik-baik saja. Percaya padaku." Bibir Jihan berkata persis seperti Luna yang ia lihat dalam mimpi seakan ada yang mengaturnya.
Jihan segera menahan tangan Violet dan berusaha merebut tube kecil itu. Jihan tidak menyangka wanita yang terlihat mabuk berat itu ternyata sangat kuat. Violet mempertahankan tube kecil itu dalam genggamannya.
"Serahkan padaku, Vio. Kau jangan gila!" Jihan terus berusaha membuka kepalan tangan Violet.
__ADS_1
"Pergi kau, perempuan lacur!" Violet menendang ke segala arah. Berkali-kali Jihan meringis menahan sakit pada tungkai kakinya terkena tendangan Violet.
"Aku tahu maksudmu, Vio. Jangan kira kau bisa menjebakku!" Jihan merebahkan tubuh Violet di atas rumput agar lebih mudah mengunci pergerakannya.
"Ciiuuh! terima ini anak ja la ng!" Jihan memejamkan mata saat air liur Violet masuk ke dalam matanya. Hal itu dipergunakan Violet untuk segera melepaskan diri dari kukungan Jihan.
Violet segera berdiri dan segera membuka penutup tube berisi racun. Namun belum sempat ia menegak isi tube itu, Jihan sudah mendorongnya masuk ke dalam kolam.
Byuuurrrr
Keduanya masuk ke dalam kolam renang yang bersuhu sangat dingin. Violet seketika panik saat menyadari tube berisi racun itu terlepas dan masuk ke dalam air.
Ia mencoba menyelam dan mencari di dasar kolam, tapi tetap tidak menemukan tube itu. Sedangkan Jihan yang tidak mempunyai kemampuan berenang yang baik, ditambah suhu air yang hampir mendekati titik beku membuat kakinya mati rasa.
__ADS_1
Tangan Jihan berusaha menggapai-gapai tepi kolam renang, Dadanya semakin sesak oleh tekanan air yang sangat dingin. Walaupun tubuh Luna yang ia gunakan terbiasa dengan cuaca dingin, tapi tidak dengannya yang berasal dari iklim tropis.
...❤🤍...