Luna Milik Tuan Muda Barra

Luna Milik Tuan Muda Barra
Dosen sastra kuno


__ADS_3

"Aku cuman pingin lihat, Lid. Kemarikan bukumu." Jihan berusaha menggapai-gapai novel yang Lidia sembunyikan di balik tubuhnya.


"Sejak kapan kamu suka baca?" Mata Lidia memicing curiga. Ia masih enggan menyerahkan novel yang baru saja di belinya tadi siang.


"Aku cuman mau lihat, Lidiaa," seru Jihan tak sabar. Lidia akhirnya dengan berat hati menyerahkan novel yang baru satu bab ia baca.


"Ini? ...." Jihan mengacungkan buku itu di depan wajah Lidia dengan raut penuh tanya.


"Iya, itu novel yang dulu aku baca. Sekarang sudah ada versi cetaknya, tapi banyak revisi di dalamnya. Alur cerita juga berubah total, bahkan judul juga berubah. Memang aneh tuh penulis bikin bingung aja, yang versi online di aplikasi malah sudah dihapus." Jihan masih mengamati sampul depan novel sementara Lidia terus bercerita dengan semangat.


"Padahal aku lebih senang cerita yang pertama loh, Han. Karakter Violet itu anggun, keibuan cocoklah jadi peran utama. Eehhh, ini diganti sama cewek bar-bar si Luna ... aduuuhh!" Lidia menjerit kesakitan saat novel tebal itu menghantam pundaknya.


"Tahu apa kamu tentang si Luna dan Violet hah?!" seru Jihan gemas.


"Ee ... tahulah! 'kan itu bacaanku." Lidia yang sempat tergagap kebingungan akan reaksi Jihan langsung menyembur kesal.


"Kamu tuh ga tahu apa-apa tentang mereka. Kalau Luna yang jadi peran utama di cerita ini, itu sudah benar!" seru Jihan. Lidia melongo melihat reaksi kawannya yang seketika terlihat sehat.


"Serah lu deh, kemarikan novelnya aku belum baca." Lidia berusaha meraih bukunya kembali.


"Tunggu, aku pinjem sebentar. Kamu ga kasihan lihat aku cuman bisa tiduran gini," ucap Jihan dengan wajah memelas.


Lidia terpaksa mengalah dari pada diusir perawat karena buat onar dalam ruang perawatan. Ia memilih tidur di sofa panjang dalam ruang rawat, sementara kawannya itu mulai membuka lembar demi lembar novel miliknya.


Jihan mengusap cover bergambar Luna yang persis dengan lukisan yang ada di dalam kamar Luna. Di belakangnya Barra terlihat sangat gagah dengan setelan jas berwarna abu yang kontras dengan warna hijau matanya.


Judul yang tersemat di sana bukanlah Violet milik Tuan Muda Barra lagi, melainkan Luna milik Tuan Muda Barra. Air mata mulai menitik di pipi Jihan saat ia membuka halaman pertama.


Kisah bermula seperti awal ia masuk sebagai Luna, hanya bedanya yang tertulis adalah benar Luna bukan Jihan sebagai Luna. Jihan membaca satu demi satu kata yang tertulis di sana dengan sangat perlahan.


Ingatannya melayang masuk kembali seakan ia masih berada di sana sebagai Luna. Tiap percakapan bagian Luna ia pun ikut bersuara dengan intonasi yang sama persis.


Jihan mengusap air matanya untuk kesekian kalinya. Pandangannya sudah mulai mengabur karena banyak mengeluarkan air mata. Tanpa terasa ia pun mulai tertidur dengan novel itu dalam dekapannya.

__ADS_1


Dalam tidurnya yang hampir terlelap, Jihan merasakan buku yang di peluknya bergerak. Spontan tangannya menahan agar buku itu tidak berpindah tangan.


"Aku belum selesai baca, Lid!" ucap Jihan masih dengan mata terpejam.


"Sudah mulai suka membaca novel?" Spontan mata Jihan terbuka lebar saat menyadari bahwa bukan Lidia yang menarik buku dalam dekapannya.


"Ad ... Pak Abi?" Mata Jihan mengerjap-ngerjap. Sesaat wajah Adam ada di hadapannya, namun silau matahari sore yang menembus jendela kamar ruang rawatnya membuatnya menyipit. Wajah Adam sekejap berganti dengan wajah Pak Abi, dosen sastra kunonya.


"Bagaimana kondisimu, Jihan?" tanya Pak Abi santai. Mata Jihan mencari-cari keberadaan Lidia, rupanya kawannya itu sudah tertidur pulas di atas sofa.


"Ba-baik, Pak," sahut Jihan tergagap. Ia sibuk membenahi penampilannya yang mungkin terlihat kacau karena lama terbaring di atas ranjang.


"Syukurlah," ucap Pak Abi seraya tersenyum.


"Terima kasih sudah menjenguk."


"Saya selalu menjenguk kamu," ucap Pak Abi datar.


"Ow."


"Hah?"


"Itu, suka ceritanya?" Pak Abi menunjuk novel yang masih ia peluk.


"Oh ini punya Lidia, saya baru baca sedikit terus ketiduran."


"Bagus?" tanya Pak Abi lagi.


"Mmm ... lumayan," ucap Jihan. Ia sedikit merasa gengsi mengakui jika novel fiksi romansa itu bagus di depan dosen sastra yang terkenal kaku itu.


"Menurut kamu ceritanya masih tergolong terlalu biasa atau receh barangkali?" tanya Pak Abi lagi dengan gaya khas dosennya.


"Mmm ... kalau dari ringkasan ceritanya sih tergolong cerita romansa ringan biasa. Seputar pernikahan, pengkhianatan dan percintaan sepasang kekasih," ujar Jihan lugas. Mengapa ia merasa seperti menghadapi sidang skripsi di hadapan dosen ini.

__ADS_1


"Kamu tidak suka dengan cerita semacam itu?" tanya Pak Abi lagi seolah masih belum puas dengan jawaban yang diberikan Jihan.


"Hehehe ... dibilang suka sih, yaah suka-suka enggak, Pak. Cerita semacam ini cocok dibaca di kala santai saja," ujar Jihan.


Dalam hatinya ia berharap jawabannya terdengar berkelas di hadapan dosen sastra kuno yang selalu menggunakan bahasa tingkat tinggi, serta majas yang terkadang sulit dimengerti saat mengajar.


Pak Abi menanggapi perkataan Jihan dengan anggukan kepala dan ujung bibir melekuk ke bawah. Dada Jihan berdegub gugup melihat reaksi wajah Pak Abi yang sulit dibaca. Ia melirik ke arah sofa lalu merutuk dalam hati pada Lidia yang semakin lelap tidurnya.


"Bagaimana pengalamanmu selama dua minggu ini?" tanya Pak Abi lagi dengan seringaian di bibirnya.


"Heh?" Jihan tidak mengerti maksud pertanyaan dosennya itu. Pengalaman apa yang diinginkan oleh penderita koma selama dua minggu?


"Kamu lebih senang berada di sini atau di sana?" tanya Pak Abi lagi. Jihan semakin tidak memahami arah pembicaraan dosennya ini. Apa otaknya yang sulit berpikir karena baru sadar dari koma, ataukah memang dosennya ini memang salah bertanya.


"Hmm, baiklah sepertinya anda harus lebih banyak beristirahat ... Nona." Pak Abi tersenyum penuh arti.


"Nona??" Jihan membelalak. Pak Abi tidak mengatakan apa-apa. Ia berdiri, mengangguk sekilas lalu berbalik dan berjalan keluar dari ruang rawat Jihan.


"Tunggu ... tungguuu, Pak!" seru Jihan setelah sadar dari tertegunnya. Ia berusaha turun dari ranjang pasien dan berusaha mengejar dosennya yang sudah menghilang di balik pintu.


"Aaahhh!" Jihan lupa ia baru saja sadar dari koma selama dua minggu. Kondisinya yang belum benar-benar pulih, membuatnya jatuh tersungkur di lantai karena kakinya masih lemah untuk menopang beban tubuhnya.


"Jihan?!" Lidia terbangun dari tidurnya lalu berlari menghampiri sahabatnya yang meringis kesakitan, "Kamu kenapa??" Lidia membantu Jihan berdiri dan membaringkan tubuh sahabatnya itu ke atas ranjang.


"Pak Abi," ucap Jihan lemah.


"Kenapa Pak Abi? dia datang lagi?" Lidia menoleh ke arah pintu.


"Iya. Emang dia pernah datang jenguk sebelumnya?"


"Pak Abi hampir setiap hari datang kemari, Han."


"Ngapain?"

__ADS_1


"Ya jenguklah. Kalau datang ngobrol sama ibumu terus duduk di sampingmu sambil bacain kamu cerita." Jihan melongo mendengar penjelasan Lidia.


...❤️🤍...


__ADS_2