
"Heh? ... aah, ya kamu benar, tapi aku sudah tidak mmm ... agak sedikit bosan dengan pemandangan di sini." Jihan menjawab dengan tergagap di bawah tatapan penuh selidik dari Barra, "Tapi ga apa-apa, kita duduk di sini," lanjutnya cepat.
Barra mengikuti langkah Jihan, mereka duduk saling berhadapan. Tatapan Barra tidak lepas mengamati semua gerak gerik Jihan.
"Kenapa, Barra? ada yang salah?" tanya Jihan akhirnya. Ia merasa jengah dengan tatapan menyelidik dari pria yang duduk di hadapannya itu.
"Kamu berbeda."
"Semua orang bisa saja berubah." Menutupi rasa gugupnya, Jihan meneguk satu sloki anggur yang baru saja ditaruh oleh pelayan di atas meja.
Walaupun Jihan melihat keluar jendela, ia masih mendengar Barra menarik nafas berat, "Bagaimana hubunganmu dengan pria itu? apa dia tahu kau menikah denganku?" tanya Barra.
Jihan tidak langsung menjawab pertanyaan Barra. Ia harus memastikan arah dan maksud pertanyaan suami Luna ini, karena sepertinya Barra sudah mulai merasa ada yang aneh pada diri Luna.
"Apa maksudmu?" Jihan tertawa pelan. Ia meneguk anggur sekali lagi.
"Kau tahu maksudku, Luna."
"Baron?" tanya Jihan ragu, karena hanya satu nama pria yang masih terkait dan masih dalam misteri dalam hubungan Luna dan Barra.
Barra melempar pandangannya ke luar jendela, sudut bibirnya terangkat sinis.
__ADS_1
"Aku tidak tahu dia di mana, dan aku tidak peduli dia tahu aku sudah menikah denganmu atau tidak." Jihan tidak berbohong, ia memang tidak tahu wujud pria bernama Baron itu seperti apa, karena sejak dirinya menjadi Luna sosok yang katanya mantan suami Violet itu, tidak pernah muncul sekalipun.
"Aku tak percaya kamu bisa melakukan hal itu, Luna." Barra menggelengkan kepalanya.
"Jika kamu tidak percaya, maka jangan percaya. Pastinya aku pernah meyakinkanmu, bukan?" Jihan yakin jika Luna pasti pernah menjelaskan perbuatannya yang bodoh atau bahkan mungkin menyangkalnya.
"Bagaimana aku bisa tidak percaya, kalau dengan mata kepalaku sendiri aku melihat kau dan pria itu satu ranjang tanpa sehelai benang pun di balik selimut?!" Barra sudah kembali naik emosinya, sama seperti saat bermalam di kamarnya.
Jihan memilih diam. Kedua tangannya saling mere*mas-re*mas di atas meja. Ia ingin mengajukan pertanyaan lagi, tapi takut semakin menambah masalah yang semakin runyam.
"Cukup!" Barra menghentikan tangannya yang akan meneguk anggur untuk kesekian kalinya, "Mengapa kamu selalu saja bersikap semaunya. Batas kadar alkohol dalam tubuhmu tipis, jangan ulangi perbuatan bodohmu yang dulu." Barra memberikan botol anggur yang masih terisi setengah pada pelayan yang kebetulan lewat.
"Perbuatan bodohku yang dulu? maksudmu ... Baron?"
"Apa aku mabuk malam itu?" tanya Jihan dengan hati-hati.
"Kau selalu mabuk, tapi bodoh hanya dalam satu malam. Entah kau memang bodoh atau kau memang menikmati dengannya ... aku tak tahu." Barra menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
Luna wanita yang suka minum dan sering mabuk, namun hanya satu kali ia tidak dapat mengkontrol batas alkoholnya dan saat itu, Luna ditemukan seranjang dengan Baron. Jihan mencatat fakta baru di dalam memori otaknya.
"Kau kesini mau minum kopi bukan? kenapa jadinya minum anggur?" tanya Barra setelah ia berhasil menguasai perasaannya.
__ADS_1
"Aku tidak memesan, pelayan itu yang menaruhnya di atas meja." Jihan berkelit.
"Apa kau sudah mabuk atau berpura-pura? welcome drink, tidak perlu kau minum jika tak ingin."
Barra mengangkat tangannya hendak memanggil pelayan, tapi karena hari sudah mulai sore dan pengunjung semakin banyak berdatangan, sehingga tidak seorang pun pelayan yang memperhatikannya.
"Aku pesankan teh hangat dan makan malam, kau tunggu disini," perintah Barra sembari menunjuk meja kasir.
"Aku mau kopi, Barra," rengek Jihan. Ia membutuhkan kafein untuk energi bagi otaknya.
"Kamu baru saja minum alkohol, jauh lebih baik tidak minum kopi dulu," ucap Barra pelan. Jihan menemukan sorot mata teduh dan penuh cinta di mata Barra untuk Luna.
Aku akan mendapatkan dia untukmu Luna. Jihan membatin dalam hati seraya memandangi tubuh bagian belakang Barra yang berjalan menjauh.
Jihan menyandarkan tubuhnya dan melemparkan pandangannya ke arah danau yang terlihat tenang. Saat mulai senja seperti ini, semakin banyak orang yang bersantai menikmati suasana pergantian matahari dan bulan.
Mata Jihan menangkap sepasang pria dan wanita yang baru saja turun dari sebuah mobil mewah. Sesaat keduanya saling berci*uman di depan danau, lalu mereka kembali dan menaiki kendaraan yang berbeda.
"Violet??"
...❤❤...
__ADS_1
mampir sini dulu yuk