Luna Milik Tuan Muda Barra

Luna Milik Tuan Muda Barra
Mengejar Pak Abi


__ADS_3

"Pak Abi bacain aku cerita? cerita apaan, Lid?" Bulu kuduk Jihan meremang membayangkan dosen tanpa senyum yang cenderung sinis kalau berpendapat itu, membacakan cerita di samping ranjangnya.


"Ga tahu aku. Pak Abi kalau datang kemari, aku auto menjauh. Kamu tahu sendiri gimana rasanya kalau dekat beliau. Aura Pak Abi itu seperti menebar aura mistis." Lidia bergidik.


"Ngaco kamu," ujar Jihan sembari tertawa kecil, walaupun dalam hati ia mengakui kebenaran perkataan Lidia.


"Lid, aku pinjam dulu ya. Belum selesai baca." Jihan mengacungkan novel milik Lidia yang tadi ia bawa. Walaupun jalan cerita di dalam novel ia telah hafal di luar kepala, Jihan masih ingin terus membaca untuk mengobati kerinduannya pada tokoh dunia di seberang sana.


"Buat kamu aja," ujar Lidia tanpa disangka-sangka.


"Bener Lid??" tanya Jihan hampir tak percaya. Lidia yang maniak membaca, buku miliknya tidak sembarang orang dapat meminjamnya. Sekarang novel yang bahkan belum selesai ia baca, diberikan begitu saja untuk Jihan yang tidak menyukai cerita fiksi romansa.


"Ya, buku itu buat kamu. Aku kurang suka sama jalan ceritanya, menurut aku lebih bagus versi awalnya."


"Maksudmu yang Violet sebagai tokoh wanita utamanya?" Jihan yang awalnya terharu diberi buku secara cuma-cuma, menjadi dongkol mendengar tanggapan Lidia.


"Iya. Dimana-mana cerita versi awal itu biasanya bagus, dan sudah pasti original," ujar Lidia sembari membentuk lingkaran dengan jari telunjuk dan jempolnya.


"Hmm ... andaikan kamu tahu betapa breng seknya Violet itu," gumam Jihan.


"Kamu bilang apa?"


"Bukan apa-apa. Terima kasih ya, aku lagi ingin memahami hobi sahabatku. Siapa tahu habis ini kita punya hobi yang sama," ujar Jihan.


...🤍...


Seminggu masa pemulihan di rumah sakit dan tiga hari hanya berdiam di rumah, membuat Jihan tidak sabar untuk pergi ke kampus menemui orang yang paling membuatnya penasaran.


Sejak kedatangannya yang terakhir, Pak Abi tidak lagi menampakan diri lagi di rumah sakit.

__ADS_1


Jihan sudah tuntas membaca buku novel Luna milik Tuan Muda Barra yang diberikan Lidia untuknya. Cerita di sana dari awal hingga di bagian pertengahan hampir 90% mirip dengan apa yang ia alami saat menjadi tokoh Luna.


Hanya beberapa bagian yang sedikit berbeda. Kalau Jihan hanya menjalani sampai kejadian di mansion Baron, sedangkan yang tercantum di dalam cerita Luna akhirnya menikah dengan Barra dan hidup bahagia bersama. Sedangkan Violet di penjara seumur hidup dalam keadaan depresi berat.


Namun ada satu hal yang membuat Jihan sangat penasaran. Dalam cerita tersebut tidak ada yang namanya Adam. Tuan Jose tidak mempunyai pengawal pribadi bernama Adam.


Semua bagian Adam di dalam cerita diganti oleh Millie, pelayan pribadi Luna. Jihan sangat ingat sesaat sebelum ia kembali ke dunia nyata, Adam mengatakan ia pun berasal dari dunia yang sama dan bertugas melindungi dirinya.


Beberapa kali juga Jihan mendapati wajah Adam dan dosen sastra kunonya itu saling berganti seakan ada kemiripan dari kedua orang itu, tapi ia masih belum dapat menemukan ujung benang merahnya. Apakah Pak Abi ada hubungannya dengan pindahnya ia ke dunia novel, Jihan sama sekali takut memikirkannya jika dosen kakunya itu ikut andil dalam pengalaman luar biasanya.


Hal itu yang membuat pagi ini Jihan memaksakan diri untuk berangkat kuliah meski Ibu melarangnya.


"Han, kamu masih sakit. Cuti kuliahmu masih ada dua minggu, coba dimanfaatkan untuk istirahat aja," keluh Ibu masih berusaha membujuk anak semata wayangnya untuk tetap di rumah. Walaupun ia tahu mengharapkan Jihan membatalkan niatnya untuk berangkat pagi ini, sesuatu yang mustahil untuk putrinya yang keras kepala itu.


"Jihan ga kuliah, Bu. Jihan cuman mau ketemu sama dosen aja, mau bimbingan skripsi." Jihan melontarkan alasan. Ia terpaksa berbohong sedikit agar Ibunya tidak menahannya lagi.


"Jihan berangkat dulu ya, Bu," ucap Jihan sembari mengecup pipi Ibunya serta tidak lupa menyambar novel yang diberi Lidia untuknya.


"Cari siapa, Nak?" tanya Ibu Mery dosen baru di kampus Jihan.


"Pak Abiyasa, Bu. Beliau lagi mengajar ya?"tanya Jihan sambil melongokan kepala di pembatas ruangan Pak Abi yang kosong.


"Pak Abi 'kan sudah ga mengajar lagi di kampus ini."


"Sejak kapan Bu?"


"Sudah hampir satu bulan. Kamu lama ga ke kampus?"


"Iya, saya kecelakaan," ucap Jihan lirih.

__ADS_1


"Ow, syukurlah kamu sudah pulih," ujar Bu Merry lalu hendak berjalan ke arah biliknya.


"Bu ... maaf, saya mau tanya alamat tempat tinggal Pak Abi kemana ya?" Bu Merry tidak langsung menjawab, ia menelisik Jihan dari kaki hingga kepala dan berfokus pada perut Jihan.


"Saya mau sharing pendapat tentang ... novel ini ... bahan skripsi," ujar Jihan cepat sebelum pikiran dosen wanita itu kemana-mana. Semoga saja Bu Merry tidak merasa geli ia menjadikan novel percintaan sebagai bahan skirpsi.


"Kamu ke sekretariat, coba tanyakan di sana," ucap Bu Merry.


"Terima kasih, Bu." Secepat kilat Jihan berlari ke arah ruang sekretariat. Tanpa kesulitan yang berarti ia berhasil mendapatkan alamat lengkap beserta nomer ponsel Pak Abi yang terbaru.


Jihan terbelalak melihat alamat yang diberikan oleh petugas sekretariat kampus. Alamat Pak Abi berada di pinggiran kota. Butuh waktu dua jam untuk bisa sampai kesana dan harus naik bis karena melewati jalan bebas hambatan.


Setelah menghubungi ibu jika nanti akan pulang lebih lambat, Jihan lalu mengarahkan sepeda motornya kearah terminal bis. Ia tidak tahu untuk apa ia senekat ini menemui Pak Abi. Ada dorongan yang sulit untuk dijelaskan.


Jihan masuk ke dalam bus setelah menitipkan sepeda motornya. Di dalam bus yang berjalan ke arah pinggiran kota, Jihan termenung memikirkan kira-kira apa yang akan disampaikan ke dosen sastra kunonya itu.


Sesungguhnya tidak ada alasan kuat ia menemui dosen kaku itu hingga harus mendatangi rumahnya. Terlebih dosennya itu sudah tidak mengajar lagi di kampusnya.


Jihan membuka dan membaca sekali lagi novel yang berjudul Luna milik tuan muda Barra yang terus didekapnya. Satu persatu kata dibacanya dengan sangat perlahan. Di bolak baliknya buku tersebut dari awal hingga akhir dan baru ia sadari jika novel itu tidak tercantum nama penulisnya.


...❤️🤍...


Bawa cerita baru untukmu :


Blurb



Terlahir sebagai putri seorang ningrat, terbiasa dengan aturan yang begitu ketat membuatnya susah didekati kaum Adam.

__ADS_1


Terpaksa menikah karena perjodohan, tetapi sebelum pernikahan terjadi sang mempelai pria justru meninggal karena hal mistik.


Konon karena ia adalah perempuan spesial dengan sebutan "Bahu Laweyan". Akankah ia mampu bertahan di atas kutukan yang tidak pernah ia minta?


__ADS_2