
Jihan melajukan mobil yang dikendarai dengan sangat laju. Kota Zena di negara Trivenus ciptaan penulis ini, tidaklah padat penduduk malah terkesan sepi dan kosong.
Jihan mengedarkan pandangannya, ia baru menyadari keadaan kota ini ternyata sangat indah. Jika kemarin-kemarin ia selalu tak acuh dengan situasi sekitar karena selalu satu kendaraan dengan orang lain, sekarang ia lebih bebas mengarahkan kemudi mobil kemana pun ia suka.
Jihan membuka kaca mobilnya lebar-lebar, ia menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. Namun sekarang ia bingung, di mana letak kawasan Volaer yang dimaksud.
"Dasar bodoh, aku lupa kalo di dunia ini tidak mengenal teknologi ponsel dan peta online!"
"Lalu aku mau kemana sekarang?!" Jihan memukul-mukul setir mobilnya.
"Tunggu, ini dunia novel. Semua yang terjadi pasti dia juga tahu."
"Woooiii, kamu yang di ataaasss. Do you hear meee!!" Sembari menyetir Jihan berteriak dengan lantang sekalian melepaskan beban pikiran dan hatinya.
"Siapa pun anda, karena sudah membawa aku ke dunia yang ... istimewa ini, please help me." Jihan ingin mengumpat, namun urung karena mengingat pesan suara gaib agar tidak lagi menyinggung sang penulis.
Ada satu jam Jihan mengendarai mobil menyusuri sungai yang membatasi kota, tapi ia masih belum menemukan tanda-tanda kawasan Volare seperti yang dibicarakan Adam dan ayah Luna.
"Apa aku salah dengar ya?"
Sesekali Jihan melirik ke arah kaca spion atas juga kanan dan kiri, memastikan tidak ada yang mengikuti ia dari arah belakang, tapi ternyata ia menemukan sebuah kenyataan lain yang mengejutkan.
Jihan menepikan kendaraannya, mencoba memastikan hal yang ia amati sedari tadi. Ia melirik kembali ke arah spion setelah kendaraannya terparkir dengan sempurna.
"Waaaahh, ternyata benar!" Jihan membesarkan matanya, kepalanya lebih ia dekatkan ke arah spion. Lalu untuk memastikan kembali ia menoleh langsung ke arah belakang.
"Aneh?" Jihan mengernyit bingung, lalu kembali memusatkan perhatiannya kembali pada kaca spion. Begitu yakin dengan apa yang ia lihat, dengan cepat Jihan memutar kepalanya menghadap ke belakang.
"Luar biasaaa!!" Jihan tertawa terbahak-bahak menyadari jika orang-orang di sekitarnya yang lalu lalang, hanyalah seperti pemain figuran.
Mereka akan bergerak dan beraktifitas saat berada di sekitar Jihan atau saat ia memperhatikan mereka, tapi jika Jihan mengalihkan perhatiannya dan melewati orang-orang itu, mereka akan berhenti seperti mematung.
"Aku seperti pemain utama yang di sorot oleh lampu besar." Jihan mengembangkan senyumnya. Sejenak ia lupa dengan permasalahan Luna dan tujuan untuk apa ia keluar diam-diam dari mansion ayah Luna.
"Hei, penulis! ku akui kau luar biasa. Baru sekali ini bukan aku memujimu? jadi tolong berikan aku petunjukmu."
Jihan terdiam sejenak berusaha mengamati perubahan ataupun mendengar suara di sekitarnya yang sekiranya memberikan petunjuk.
"Ga ada suara kilat, guntur atau apa gitu kayak di film-film?? ... okelah." Jihan akhirnya menyerah ketika apa yang diharapkannya tidak terwujud, lalu ia kembali menyalakan mesin mobilnya dan menyusuri pinggir sungai dengan kecepatan sedang.
J : B ... B!
B : Ya, Nona
__ADS_1
J : Tidak bisakah kau kupanggil sekali langsung menyahut?!
B : Maaf, Nona
J : Aku harus apa?
B : Nona mau apa?
J : Seharusnya kamu tahu aku ingin mencari Baron!
B : Bukannya ayah Luna dan Adam melarang Nona untuk menemui Baron?
J : Kalau aku tidak segera bertindak, aku akan tetap selamanya di sini, B!
B : ...
J : B!
B : Ya, Nona
J : Mengapa kau semakin lama semakin menjengkelkan?? cepat tunjukan padaku di mana kawasan Volare itu berada
B : Maaf saya tidak bisa memberitahu Nona, karena hal itu termasuk menyalahi peraturan. Nona belum saatnya pergi ke sana, alur ceritanya belum tertulis tentang itu
B : ...
J : B!
Suara gaib itu tetap tidak mau memberikan jawaban maupun petunjuk sedikitpun
"Baiklah kalau tidak ada yang mau membantu, aku Jihan Prameswari akan mengubah takdir Luna dan takdirku sendiri!"
"Come on, Luna. Kita harus bekerjasama!"
Jihan menginjak pedal gas semakin dalam, ia terus menyusuri tepian sungai Gloria sembari matanya mengawasi sekitarnya.
"Hai, penulis aku tidak tahu kau sekarang ada di pihak yang mana, mendukungku atau melenyapkanku. Tapi kalau kau berniat ingin menjatuhkanku, kau salah pilih orang!" Jihan berkata dengan nada sengit seraya melirik ke arah langit yang cerah, seakan-akan sang penulis sedang mengamati dirinya dari atas sana.
Ciiiiiitttt! ... Braakkk!
"Aaaww!" Mobil yang ia kendarai menghantam pembatas sungai yang melengkung mengikuti aliran sungai.
Kepala Jihan terhantuk kemudi dan terpental ke arah kaca samping. Dua hantaman keras pada kepalanya membuat Jihan tak sadarkan diri.
__ADS_1
Mata Jihan mengerjap-ngerjap menahan silau sinar putih yang menusuk matanya.
"Aaakkhh." Rasa sakit di kepalanya membuat ia tidak mampu berdiri. Kaki dan tangannya serasa lemas tidak bisa digerakan sama sekali.
Tidak! bukan hanya kaki dan tangan, tapi seluruh tubuhnya tidak dapat bergerak. Matanya pun ternyata tidak bisa terbuka tapi anehnya ia bisa melihat sekitarnya dengan sangat jelas.
Ruangan putih, bau obat, selang menjulur di beberapa bagian tubuhnya. Ini rumah sakit!
Jihan menoleh ke arah samping tubuhnya yang terbaring saat terdengar sayup-sayup suara orang memanjatkan doa.
Mama?? Jihan menitikkan air mata saat melihat mamanya duduk dengan buku doa di pangkuannya
Aku sudah pulang? tapi kenapa aku tidak bisa bergerak sama sekali? masa iya aku lumpuh karena jatuh dari tangga kampus?
Maaa ... Mamaa! Jihan berusaha memanggil mamanya, tapi sekeras apapun ia mengeluarkan suara, mamanya seolah tidak mendengar apapun.
Tiba -tiba mamanya berdiri dari kursi dan menuju pintu ruang rawat, lalu membukakan pintu untuk seseorang.
"Masuk Lid."
Aahh, Lidiaa. Si biang kerok pembawa novel lak*nat! Jihan menggerundel dalam hati.
"Gimana keadaan Jihan, Tante?"
Kamu ga liat aku terbujur kaku gini!
"Masih tetap, Lid. Kata dokter kemarin diperiksa kepalanya ada grafik peningkatan yang tidak beraturan."
"Semoga pertanda baik ya, Tan." Lidia berjalan mendekati ranjang rawat, sahabat Jihan itu lalu memegang tangan Jihan dan menitikan air matanya.
"Cepet sadar dong, Han. Aku kangen banget denger suara bawel kamu. Ga ada lagi yang mau dengerin kalo aku lagi kesel sama cerita novel."
Kamu kira aku suka?! gara-gara novel kesukaanmu yang ga jelas itu aku seperti ini!
"Han, penulis cerita Violet untuk Tuan muda Barra hapus beberapa bab ceritanya. Dia buat pengumuman, katanya mau ada revisi."
Please ... please kamu ga akan cerita di sini kan, Lid?
"Silahkan masuk, ...." Suara mama menghentikan niat Lidia untuk bercerita.
Jihan menoleh ke arah pintu masuk melihat siapa lagi yang menjenguknya. Sosok tubuh tinggi berpakaian rapi melangkah masuk ke dalam ruangan, tapi sayang Jihan tidak bisa melihat dengan jelas karena terhalang tubuh Lidia dan mamanya.
...❤🤍...
__ADS_1