
Perlahan Jihan membuka matanya, raut wajah lucu milik Millie lebih dulu terlihat olehnya. Jihan memandang ke sekelilingnya, rupanya ia sudah berada di dalam kamarnya sendiri.
"Aku pingsan lagi, Millie?" Gadis itu mengangguk cepat, "Berapa lama?" tanyanya lagi.
"Setengah jam, Nona. Tuan Barra yang menggendong, Nona kemari. Beliau nampak khawatir sekali." Perkataan Millie menjawab rasa heran Jihan, bagaimana ia bisa ada di ranjangnya sendiri.
"Kalau ia memang khawatir, dia akan ada di sampingku sampai aku sadar, Millie." Jihan terkekeh pelan. Ia masih agak sedikit kesal dengan perilaku Barra yang menurutnya tidak tegas sebagai seorang pria.
"Tuan Barra memang menunggui Nona tadi, ia duduk di sini sambil memegang tangan Nona seperti ini." Millie memeragakan posisi Barra dengan semangat.
"Kamu yakin?" Jihan terkekeh lagi. Bukan karena senang ia berhasil memikat Barra kembali, tapi karena tingkah Millie yang lucu.
Sungguh ia akan merindukan pelayan setia Luna ini, jika ia kembali ke dunia nyata nanti. Mengingat misi dan waktunya yang singkat, senyum Jihan surut kembali.
"Saya sangat yakin, Nona. Sampai Nona Violet menangis di kamar meminta Tuan Barra menemaninya ... Nona kenapa?" tanya Millie saat menyadari Nona mudanya sudah tidak fokus lagi mendengarkan ceritanya.
"Aku ingin jalan-jalan," ucap Jihan singkat setelah menghela nafas panjang yang terasa berat.
"Nona mau kemana?"
"Eee ... cafe?" ucap Jihan tak yakin apakah si dunia ini, ada cafe yang hanya untuk sekedar duduk bersantai dan menikmati secangkir kopi seperti di dunia nyata.
"Aku ingin minum kopi," ucap Jihan akhirnya saat melihat Millie melipat keningnya karena tak mengerti keinginannya.
"Aaa, tempat minum kopi dan makan roti?"
__ADS_1
Jihan menganggukan kepala, berharap tempat yang dimaksudkan Millie sama dengan keinginannya.
"Baiklah, Nona saya bersiap dulu." Millie langsung melesat keluar kamar, rupanya ia juga merasa jenuh di mansion sebesar ini.
Sepeninggal Millie, Jihan duduk di depan meja riasnya lalu mengambil kertas dan buku kecil. Ia menuliskan di sana semua yang terjadi sejak awal ia masuk ke dalam tubuh Luna, sampai ia pingsan tadi. Ia juga menuliskan semua penglihatannya beserta nama-nama yang ia dengar.
Jihan memberi tanda tanya besar pada nama Baron dan Emily. Siapa sebenarnya mereka?
"Nona, sudah siap?" Kepala mungil millie muncul dari balik pintu.
"Sudah." Jihan menutup buku itu lalu memasukannya ke dalam tas.
"Kau mau kemana, Luna? Kamu masih sakit." Suara Barra yang terdengar khawatir menghentikan langkahnya.
"Nona ingin ke de'lettuito, Tuan," celetuk Millie.
"Apa itu?" tanya Jihan berbisik pada Millie. Rasanya ia tidak menyebutkan nama itu saat mereka berbicara berdua tadi.
"Tempat minum kopi dan makan roti ... tempat favorite Tuan dan Nona," ujarnya seraya tersenyum penuh arti.
Jihan mengalihkan pandangannya ke arah Barra. Pria itu sedang memandangnya dengan tatapan sayu.
"Aku temani," ucap Barra.
"Tidak perlu, Barra. Biar aku sendiri tidak apa-apa, kau temanilah Violet. Bukankah ia sedang mengandung?" Jihan bukan ingin melewatkan kesempatan berdua saja dengan Barra, tapi kali ini ia ingin hanya sendirian saja.
__ADS_1
"Violet sedang pergi ke rumah orang tuanya," ucap Barra lalu berjalan ke luar rumah.
Jihan duduk di kursi belakang bersama Barra, sedangkan Millie di depan mendampingi sopir. Mereka berempat hanya diam di dalam mobil yang membawanya ke pusat kota.
Mereka sampai di sebuah bangunan tinggi dan klasik berwana coklat bertuliskan de'lettuito.
Jadi ini tempat minum kopi dan makan roti? mewah sekali, untuk kantong mahasiswa macam dirinya tentu tidak akan ada tempat di dalam.
"Kami tunggu di sini, Nona," ucap Millie saat Jihan memintanya untuk ikut masuk.
Jihan berjalan masuk diikuti Barra di belakangnya. Ia mengedarkan ke seluruh bagian cafe itu. Semua berpakaian bagus dan mahal, sangat berbeda konsepnya dengan cafe di dunia nyata.
Jihan tersenyum mengingat apa yang ia lihat dan nikmati ini, adalah hasil hayalan dari seorang penulis novel.
"Luna, kamu tidak ingin duduk di tempat favorite mu?" tanya Barra heran. Ia menunjuk sudut cafe yang berhadapan langsung dengan tepi danau yang sangat indah.
"Maaf aku tadi mengira ada yang duduk di sini." Jihan berbalik dan berjalan mendekati Barra.
"Tempat ini hanya untuk kamu, tidak ada yang diperbolehkan duduk di sini," ucap Barra dengan kening sedikit berkerut.
...❤❤...
Mampir sini yuk
__ADS_1