Luna Milik Tuan Muda Barra

Luna Milik Tuan Muda Barra
Pulang ke mansion Barra


__ADS_3

"Tidak perlu, Ayah. Biar aku pulang saja istirahat di mansion Barra Rumahku sekarang bersama suamiku." Jihan melihat sorot mata sedih dari ayah Luna saat ia mengatakan hal itu.


Sejenak ia teringat pada ayahnya yang tidak ada kabarnya sejak dirinya berusia 2tahun. Sejak itu pula ibunya seorang diri membesarkannya dalam ekonomi yang sangat terbatas.


"Jangan khawatir Tuan, biar saya yang mengantar Nona Luna." Adam menyela dari arah belakang.


Jihan memutar tubuhnya dan memandang Adam antara kesal dan heran. Ia merasa pengawal ini tingkahnya semakin menjadi-jadi.


"Saya tidak memintamu untuk mengantar saya pulang, Adam," ujar Jihan saat mereka berdua sudah berada di luar ruang kerja ayah Luna.


"Benar, saya berinisiatif demi kebaikan Nona," sahut Adam diplomatis.


"Terserah kaulah." Jihan mengibaskan tangannya di depan wajah Adam.


Jihan kembali ke mansion diantar Adam dan seorang supir. Saat sampai di mansion, Adam ikut turun dari mobil dan mengikuti langkah Jihan masuk ke dalam mansion.


"Kamu mau apa?" Jihan berbalik menghadap Adam yang terus mengekorinya.


"Masuk saja, Nona. Anggap saja saya tidak ada di sini."


"Bagaimana aku tidak bisa menganggapmu tidak ada? Badanmu sebesar pilar jelas terlihat oleh mataku," ujar Jihan kesal.


"Kau sudah pulang?" Barra muncul dari ruang kerjanya. Tatapannya beralih pada Adam yang berdiri tegak di belakang Jihan, "Mau apa dia ikut?"


"Tanyakan saja sendiri, aku tidak mengundangnya."


"Maaf Tuan, saya diperintahkan Tuan Jose untuk menjaga Nona Luna."


"Nyonya, dia sudah menikah jadi biasakan memanggilnya dengan sebutan Nyonya," ujar Barra tak suka.


"Aku tidak mendengar ayah menyuruhmu menjagaku?" Adam tidak menjawab pertanyaan Jihan, ia hanya tersenyum tipis dan sedikit menunduk.


"Masuklah." Barra memberi isyarat pada Jihan untuk masuk ke dalam kamar, "Tunggu!" Barra memegang tangan Jihan dan mengamati wajahnya yang lebam, "Kau kenapa?"


"Karena itulah Tuan Jose meminta saya untuk mendampingi Nyonya Luna. Nyonya menyetir mobil sendiri, dan mengalami kecelakaan kemarin sore," jelas Adam tanpa diminta.


"Sejak kapan kau membawa kendaraan sendiri, Luna? Sekarang bagaimana keadaanmu?" Barra memegang wajah Jihan dan mengamati dalam jarak yang cukup dekat. Sekilas Jihan melihat Adam menundukkan kepala tak nyaman dengan pemandangan itu.


"Aku baik-baik saja, Barra." Jihan menurunkan kedua tangan Barra yang menangkup kedua pipinya. Jihan hampir tidak mengerti, sikap Barra pada Luna sangat hangat jika tidak ada Violet di sekitar mereka.

__ADS_1


Dimana wanita itu, bagaimana reaksinya melihat aku di dalam mansion ini dalam keadaan baik-baik saja. Jihan mengedarkan pandangannya.


"Kau cari siapa Luna? Millie?" tanya Barra.


"Eh, iya Millie, di mana dia?" Hampir saja Jihan lupa dengan pelayan setianya itu.


"Millie ada di kamar menemani Violet. Dia sedikit kurang enak badan karena kehamilannya semakin besar."


"Ow ... boleh aku menemuinya?"


"Biar aku yang panggil Millie, dia belum tahu kau sudah datang."


"Bukan, maksudku aku ingin menemui Violet."


"Ow, silahkan." Barra memberi jalan pada Jihan dengan raut wajah sedikit ragu.


"Terima kasih ... emm, Barra aku ingin bicara hanya berdua saja ... urusan wanita." Jihan menghentikan langkah Barra saat pria itu ingin masuk ke dalam kamar bersamanya.


"Baiklah ... aku tunggu di luar," ucap Barra ragu.


"Hai, Millie." Jihan masuk ke dalam kamar Violet dan langsung memeluk pelayan bertubuh kecilnya itu tanpa menghiraukan tatapan heran dan Violet.


"Nonaaa, anda dari mana saja?? tega sekali anda meninggalkanku sendiri disini." Suara merajuk Millie membuat Jihan merasa gemas. Gadis itu sampai meneteskan air mata saat dipeluk olehnya.


"Jahat sekali Nona tidak mengajakku."


"Hahaha, maafkan aku. Ada salam dari Sebastian, kau pasti rindu padanya." Wajah Millie memerah di goda oleh Jihan, "Millie, bisa tinggalkan aku berdua dengan Nyonya Violet. Aku ingin berbincang santai dengannya."


Jihan mengalihkan pandangannya ke arah Violet yang terbaring di ranjang. Wanita itu jelas merasa tidak suka dia ada di kamarnya.


"Baik, Nona." Saat Millie keluar dari kamar, Jihan melihat Barra berdiri di depan pintu kamar dan Adam ada di belakangnya berdiri tidak jauh dari Barra. Keduanya terlihat waspada dan berjaga di sekitarnya.


Jihan merasa geli, sebahaya itukah jika ia dan Violet berada dalam satu ruangan yang sama.


"Hai, Vio," sapa Jihan setelah memastikan pintu kamar tertutup rapat.


"Apa maumu?" Violeta berusaha menegakan badannya di atas ranjang.


"Hanya ingin menyapa. Kata suami kita, kau sedang tidak enak badan, benar?" Jihan berjalan pelan mengitari kamar Violet yang baru sekali itu ia masuki.

__ADS_1


"Ku kira kau sudah mati."


"Aku tidak akan mati dengan mudah, Vio. Apalagi hanya karena tamparan dari ayah anak yang kau kandung itu." Bohong jika ia mengatakan tamparan Baron tidak sakit, Jihan bahkan merasa sudah hampir mati saat tamparan yang kedua.


Jihan melirik ke arah Violet ingin melihat perubahan reaksi wajahnya, tapi sayangnya wanita itu malah tersenyum mengejeknya.


"Kau ingin menekanku, Luna? hehehe, silahkan saja," ujar Violet menantang.


"Tidak, untuk apa? suatu saat kebenaran akan terungkap. Mungkin bukan dari mulutku, tapi dari bibirmu sendiri atau bahkan dari suamimu yang juga mungkin ayahmu?" Jihan menaikan sudut bibirnya.


Pertanyaan ini jelas memancing kemarahan Violet. Wanita itu langsung berdiri dan merangsek Jihan yang sedang duduk di kursi meja rias.


"Mati kau, perempuan laknat!"


Jihan sengaja menghempas semua benda di atas meja rias Violet. Suara benda jatuh dan pecahan alat make up Violet mengundang Barra dan Adam masuk ke dalam kamar.


"Tolong, Barra." Jihan sengaja tidak melawan dan menghindar dari serangan Violet. Ia memposisikan dirinya sebagai korban kekerasan dari Violet.


"Hentikan Vio!" Barra menarik tubuh Violet yang sedang menarik rambut Jihan.


"Sakit." Jihan merintih sembari memegang kepalanya.


"Kamu tak apa?" tanya Barra. Tangannya masih menahan tubuh Violet sementara tatapan khawatirnya ia tujukan pada Jihan.


"Dia menghinaku, Sayaang," rengek Violet.


"Maaf kalau kamu marah, Vio, tapi aku sungguh tak mengerti perkataanku yang mana membuatmu tersinggung?"


"Eh, dia ... dia ...." Semua mata sekarang tertuju pada Violet yang mendadak kesulitan berbicara.


"Sudahlah, mungkin wanita hamil perasaannya jauh lebih sensitif. Maafkan aku Vio," ucap Jihan dengan senyum penuh arti.


"Barra, kita sudah lama tidak bertemu. Malam ini, bisakah kau menemaniku?" Jihan merapatkan tubuhnya ke arah Barra.


Malam ini ingin ia gunakan untuk menceritakan pada Barra tentang pertemuannya dengan Baron.


"Baiklah." Barra mengangguk setelah sedikit terpana oleh permintaan Jihan.


"Sayaang, kau janji malam ini denganku. Dia tidak bisa nyenyak jika kau tidak ada di sampingku." Violet merengek sembari mengusap perutnya.

__ADS_1


Hampir saja Jihan tertawa terbahak dan mengatakan kenapa tidak si tua bergigi emas saja yang menemani anaknya.


...❤🤍...


__ADS_2