
"Sejak kau menikah dengan Violet, aku sudah berhenti merokok, Barra," ucap Jihan setelah berpikir cepat, dalam hatinya ia berharap jawaban yang diberikan tepat.
"Kamu memang tidak pernah merokok, tapi kamu tidak pernah keberatan dengan asap rokok di sekitarmu," ucap Barra lagi yang sukses membuat Jihan terdiam.
Barra semakin memicingkan matanya dan Jihan pun menelan ludah kasar. Otaknya berputar cepat mencari jawaban agar pria itu tidak semakin menekannya dengan pertanyaan menjebak.
"Hah! apa selama ini apa kau tak pernah sadar Barra?! Aku rela menghirup semua asap rokok yang kau hembuskan karena aku mencintaimu," ucap Jihan akhirnya, "Tapi apa balasanmu? kau mengecewakanku, sayang."
Jihan melangkah maju mendekati Barra yang masih bersandar di pintu mobil. Ia sengaja menempelkan tubuhnya lekat pada tubuh Barra, agar pria itu lupa dengan segala kecurigaannya.
"Kau yang mengecewakanku, Luna," sahut Barra dengan suara berat.
"Aku masih tidak yakin sudah mengecewakanmu, Barra. Kau bilang sendiri, kalau aku mabuk malam itu?" Jari Jihan menyusuri rahang dan turun ke leher Barra.
"Kau masih mau mengelak rupanya, hah?" Jihan bisa merasakan degub jantung pria itu semakin cepat saat wajah mereka hanya berjarak 5cm.
"Maaf Tuan, apa anda mau pulang sekarang?" Barra menoleh pada sopirnya yang tiba-tiba muncul di sampingnya.
Sopir itu langsung menunduk dalam, saat Barra memberikan tatapan marah karena berani mengganggu suasana romantisnya.
__ADS_1
"Ya, Aris kita pulang sekarang," sahut Jihan. Jika Barra marah lain dengan Jihan, ia justru lega Aris tiba di waktu yang tepat. Jihan memberikan senyuman manis yang menggoda pada Barra sebelum masuk ke dalam mobil.
Saat aku kembali ke dunia nyata nanti, ucapan terima kasih yang pertama akan kuberikan pada pelatih di klub dramaku. Jihan membatin senang di dalam mobil.
Jihan tahu jika Barra terus mencuri pandang ke arahnya saat di dalam mobil. Tiap kali pria itu menoleh, Jihan memberikan senyum termanisnya. Ia sangat yakin jika tidak ada Violet, untuk mendapatkan hati Barra kembali tidaklah begitu sulit karena pada dasarnya antara Barra masih menyimpan rasa untuk Luna.
Saat sampai di mansion, mobil yang mereka tumpangi hampir bersamaan dengan mobil yang membawa Violet di dalamnya.
"Mobil siapa itu, Barra?" tanya Jihan. Ia semakin yakin wanita yang ia lihat di pinggir danau adalah Violet, karena mobil dan gaun yang digunakan Violet sama persis dengan yang ia lihat.
"Mobilku," sahut Barra heran, tapi keheranan Barra tidak berlangsung lama karena Violet sudah menghampiri mereka dan memeluk Barra dengan erat.
"Ya, kami makan malam hanya berdua," tekan Jihan sembari menggamit lengan Barra.
"Lepaskan tanganmu." Violet menarik tangan Barra dari genggaman Jihan.
"Sudahlah kalian jangan berkelahi, ini sudah malam. Lebih baik kita masuk, aku sudah capek," sahut Barra pelan.
Ia melepaskan sendiri pelukan Violet dan genggaman tangan Jihan. Barra memilih jalan sendiri dari pada menuai pertikaian lagi di antara kedua istrinya.
__ADS_1
Barra lebih dulu berjalan masuk ke dalam mansion diikuti oleh Jihan dan Violet di belakangnya.
"Pemandangan danau di waktu senja sangat romantis bukan?" bisik Jihan di telinga Violet, tak lupa ia memberikan senyuman mengejek pada wanita yang mendadak berubah pias di sampingnya.
"Kenapa, Vio? ada yang salah dengan danau di waktu senja? atau kau ada kenangan tersendiri?" tambah Jihan.
Raut panik tergambar di wajah Violet, berulang kali ia menoleh ke arah Barra khawatir jika pria itu ikut mendengar perkataan Jihan.
"Jangan khawatir, hanya aku yang tahu, Barra ... masih belum tahu," ucap Jihan pelan sembari terkekeh mengejek. Lalu ia berjalan menaiki tangga teras, menyusul Barra yang sudah terlebih dulu masuk ke dalam mansion.
"Aaaahhh!" Suara jeritan Violet tiba-tiba terdengar di belakang Jihan.
"VIO!" Barra yang sudah jauh di dalam mansion berlari keluar lagi dan mendapati Violet yang jatuh terduduk di dasar tangga.
"Dia mendorong aku, Barra." Violet menunjuk Jihan yang masih berdiri di pertengahan anak tangga.
...🤍❤...
mampir sini dulu yuk sambil nunggu
__ADS_1