Luna Milik Tuan Muda Barra

Luna Milik Tuan Muda Barra
Kau pembunuh


__ADS_3

"Aku bukan pembunuh! dia yang mengambil gelasku dan langsung meminumnya ... tapi minuman itu tidak ada apa-apanya, aku juga minum dari gelas yang sama!" Amanda, wanita berambut hitam itu yang ternyata Ibu Luna, mencoba menjelaskan dengan nada kalut dan bingung.


"Minuman ini beracun," ucap salah seorang pria yang berjongkok di dekat tubuh wanita bernama Emily.


"Tidak mungkin!" pekik Amanda.


"Pembunuh!"


Seruan memprovokasi mulai terdengar bersahut-sahutan. Jihan memutar bola matanya jengah melihat tingkah bar-bar orang yang mengelilingi Amanda.


"Hei, hei! kalau awalnya mereka bertengkar, tidak mungkin wanita itu mau minum dari gelas yang sama dengan dirinya?" Jihan menunjuk ke arah Amanda. Ia sedang tidak membela, tapi berusaha berpikir secara logis.


Namun rupanya orang-orang itu tidak mendengar ucapannya. Lagi-lagi, Jihan bagaikan asap di tengah-tengah mereka. Sesuatu mendorongnya ke arah tubuh Emily yang masih tergeletak di lantai, dan saat terjatuh tangannya tidak sengaja menyentuh cairan yang tumpah.


Sekelebat kejadian melintas di penglihatan Jihan. Bagaikan film yang diputar ulang, Jihan bisa melihat satu jam sebelum Emily terjatuh di lantai.


Bunuh diri! Jihan terkesiap melihat gambaran saat Emily tersenyum sinis namun pahit, lalu menyambar gelas yang dipegang oleh Amanda dan secepat kilat meneteskan cairan bening ke dalam minumannya dan segera menghabiskannya dengan sekali teguk.


"Aku bersumpah, kau dan keturunanmu tidak akan hidup bahagia," desis Emily sebelum jatuh ke lantai.


Jihan berdiri dan berulang kali membersihkan tangannya yang terasa basah, tapi tidak berjejak.

__ADS_1


Jantung Jihan berdegub kencang, ia tidak menyangka wanita yang menangis di pernikahan orang tua Luna, nekat mengakhiri hidupnya.


"Maaa ... mamaaa." Seorang gadis usia remaja tertelungkup di atas tubuh Emily. Gadis berambut pirang, wajahnya memang masih terkesan polos tanpa sapuan make up, tapi Jihan tahu dari pancaran matanya jika gadis itu Violet di masa remaja.


"Amanda, ada apa?" Ayah Luna tergopoh-gopoh datang dari arah luar bersama Luna yang masih remaja.


"Josee ... bukan aku, bukan akuuu ... aku tidak ...." Amanda menghambur ke pelukan suaminya dan menangis di sana.


"Dia membunuh Nyonya Emily, Tuan," lapor salah seorang tamu di sana.


"Itu tidak benar! Jose, kau percaya aku??"


"Aku selalu percaya kamu, sayang. Jangan khawatir aku sudah ada di sini." Ayah Luna memeluk istrinya dengan erat.


"Aku tidak menaruh apapun ke dalam minuman itu!"


"Kau pembohong, sekali berbohong kau akan terus berbohong!" seru Violet.


Jihan merasa tidak asing dengan kecaman Violet. Saat dewasa pun ia telah mengatakan itu pada Luna, ternyata sebelumnya telah ia lontarkan ke Ibu Luna.


"Aku tidak berbohong, aku mangatakan sesungguhnya." Amanda semakin panik saat semua orang menatapnya bagai seorang terdakwa.

__ADS_1


"Kamu wanita jahat! kau berjanji setia melayani Mamaku, tapi kau rebut kekasihnya dan sekarang kau membunuhnya. Kau pengkhianat, aku benci kalian!" Violet semakin berteriak histeris.


"Hukum!"


"Pancung!"


"Pasung!"


"Usir!"


"Asingkan!"


Berbagai seruan hukuman semakin lama semakin keras. Ayah Luna sudah tidak mampu melindungi istrinya yang di seret paksa oleh orang-orang yang berada di sana.


Amanda menangis semakin kencang, memohon ampun pada kesalahan yang tidak pernah ia lakukan. Beberapa pria berseragam dan membawa senjata turun dari kereta kuda dan mobil. Mereka mengambil alih ibu Luna, menariknya dan mendorongnya masuk ke dalam kereta kuda lalu langsung membawanya pergi dari sana.


"Mamaaaaa ...." Luna remaja berlari keluar gedung mengejar kereta kuda yang membawa Ibunya pergi. Ia lantas terjatuh dan ayahnya datang memeluknya erat. Sama persis dengan penglihatan Jihan beberapa waktu lalu.


"JANGAN!" seru Jihan saat pemandangan mengerikan melintas di penglihatannya.


...🤍❤...

__ADS_1


Mampir sini juga yaa



__ADS_2