Luna Milik Tuan Muda Barra

Luna Milik Tuan Muda Barra
Sorot mata yang tak asing


__ADS_3

"Luna sedang sakit, Vio. Besok malam aku temani kamu," ujar Barra tak acuh. Jihan bergidik dalam hati saat menyadari bahwa, ia berperan sebagai istri kedua yang harus rela berbagi suami.


"Maaf Tuan, menurut saya Nyonya Violet lebih membutuhkan anda. Nyonya Luna keadaannya sudah cukup baik, bukan begitu Nyonya?" Adam menatap lurus ke arah Jihan. Matanya seolah menghipnotis Jihan untuk mengangguk.


"Benar Barra, sepertinya Violet lebih membutuhkanmu malam ini," ujar Jihan, namun pandangannya masih terarah pada Adam.


"Benar kamu tidak apa-apa?" tanya Barra seolah tidak yakin dengan jawaban Jihan.


"Iya, aku baik-baik saja." Jihan menatap Barra dan memberikan senyuman terbaiknya, "Aku ke kamarku dulu," pamit Jihan. Barra masih menatapnya seolah tidak ingin ia keluar dari kamar, tapi Violet langsung merangkul leher Barra dan memaksa untuk memalingkan wajahnya dari Jihan.


Sabar Barra, aku akan melepaskanmu dari jerat wanita iblis ini. Sebentar lagi kamu akan bersatu dengan Luna, wanita yang seharusnya ada di sisimu.


Jihan berjalan menuju ke kamarnya diikuti oleh Adam di belakangnya. Seperti orang yang baru tersadar dari hipnotis, Jihan menghentikan langkahnya lalu mebalikan badan menghadap Adam.


"Untuk apa kau mengikutiku?"


"Memastikan anda aman, Nyonya."


"Jelas aku akan aman. Ini mansion suamiku, tempat tinggalku. Jelas aku aman di sini."


"Abaikan saja keberadaan saya, Nyonya."


"Orang yang aneh." Jihan bergumam kesal, "Jaga jarak denganku, suamiku bisa salah paham denganmu. Satu lagi, Adam apa hakmu melarang Barra menghabiskan malam ini bersamaku?" Jihan melangkah maju mendekati Adam.

__ADS_1


"Saya hanya mengatakan yang sebenarnya, Nyonya Violet lebih membutuhkan Tuan Barra saat ini."


"Tatap mataku Adam." Jihan berdiri tepat di hadapan pengawal bertubuh tinggi besar itu.


Jarak tinggi tubuh mereka yang jauh, membuat Adam harus sedikit menundukkan kepala untuk bertatapan langsung dengan Jihan.


Mata itu sangat tidak asing, tapi siapa ya?


"Apa hubungan kita pernah dekat Adam?" tanya Jihan pelan sembari terus mencari jawaban di bola mata Adam.


"Maksud, Nyonya?"


"Eh, lupakan." Jihan segera berbalik dan masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar, Jihan langsung duduk di depan meja rias. Ia menangkupkan kedua tangannya di pipinya yang merah padam menahan malu.


B : Ada masalah Nona?


J : Aku sedang tidak membutuhkanmu saat ini!


B : Benar tidak ada yang ingin anda tanyakan pada saya?


J : Mmm ... B, kenapa ya aku merasa tidak asing dengan Adam? apa ada kemungkinan tidak hanya aku yang masuk ke dalam dunia ini?


B : ... Bukan kapasitas saya untuk menjawab pertanyaan anda, Nona."

__ADS_1


J : Lalu apa kapasitasmu?? diam-diam muncul lalu diam-diam menghilang?!


B : Menjaga agar anda tetap baik-baik saja selama menjalankan tugas


Jihan memutar bola matanya jengah mendengar jawaban suara gaib yang hanya terkesan formalitas menjawab.


J : Kalau kapasitasmu menjamin keselamatanku, dimana kau saat aku disiksa oleh Baron??


B : Jika anda masih ada di sini dalam keadaan baik-baik saja, berarti saya sudah menjalankan tugas saya dengan baik.


J : Kepalaku makin sakit mendengar ocehanmu


Jihan memegang kepalanya yang masih terasa efek tamparan Baron kemarin.


J : B, jika Luna mati sebelum aku keluar dari tubuh ini berjanjilah sebelum semuanya selesai, bawa aku masuk ke dalam tubuhku. Aku ingin bertemu ibuku sebentar saja


Jihan berkata dengan sangat pelan hampir seperti bergumam, sembari berbaring telentang di atas ranjang.


B : Saya berjanji, Nona


Lamat-lamat Jihan mendengar jawaban suara gaib itu sebelum ia benar-benar terlelap.


...❤🤍...

__ADS_1


__ADS_2