
"Apa yang sedang kau lihat, Luna?" Barra yang baru kembali dari meja kasir, mengikuti arah pandang Jihan tapi tidak menemukan sesuatu yang menarik baginya.
"Aku rasa ... aku melihat Violet, Barra," ucap Jihan tak yakin. Jihan mengedarkan pandangannya dari sudut danau ke sudut yang lain, tapi sepertinya sepasang sejoli itu sudah tidak ada di sana.
"Violet ada di rumah orang tuanya, Luna. Dia akan kembali malam nanti. Makanlah." Barra menggeser piring berisi daging steak yang baru saja ditaruh pelayan ke atas meja.
"Tapi wanita itu mirip sekali dengan Violet, Barra. Dia tadi turun dari mobil putih bersama dengan pria yang berjalan memakai tongkat," ujar Jihan yakin.
Barra menghentikan gerakan memotong daging steak di piringnya, lalu ia mendongakan kepalanya melihat ke arah Jihan dengan tatapan sulit diartikan.
"Secinta itu kah kau dengan pria itu, hingga sosoknya terus membayangi dirimu?" ucap Barra sinis.
"Ma-maksudnya?" Jihan sama sekali tidak mengerti, mengapa Barra menyalahkan dirinya hanya karena ia menduga melihat Violet dengan pria lain.
"Kau menghilangkan selera makanku, Luna." Barra mendorong piringnya ke tengah meja.
"Maaf aku benar-benar tak mengerti. Aku minta maaf, lupakan saja apa yang aku bilang tadi, mungkin tadi aku salah lihat."
"Makanlah, kau belum menyentuh makananmu sama sekali." Barra mengusap bibirnya dengan serbet lalu melemparnya ke atas meja begitu saja.
"Kau mau kemana, Barra?" tanya Jihan saat pria itu berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Aku tunggu di luar." Tanpa menunggu reaksi Jihan, Barra sudah melangkah ke arah luar cafe.
Heehh, mengapa sulit sekali memahami hubungan kalian. Batin Jihan.
Ia menatap piring Barra yang masih menyisakan setengah porsi daging steak yang tidak dihabiskan. Dasar orang kaya, harga setengah daging ini sama dengan uang jajanku selama seminggu. Batin Jihan kesal.
Jihan menghabiskan makannya dengan santai. Ia ingin menikmati makanan super lezat baginya, yang mungkin tidak bisa ia nikmati di dunia nyata.
B : Suami anda menunggu di depan, Nona.
J : Dia suami Luna, bukan suamiku. Aku belum menikah, B. Masih single and i'am very happy now
B : Tentunya anda tidak ingin Tuan Barra semakin marah karena menunggu anda terlalu lama
B : Ikuti instingmu, Nona
J : Aku butuh jawaban yang jelas, B. Lalu apa gunanya kau jika tidak mau membantuku?
B : Aku ada agar anda tidak kesepian
Jihan memutar kedua bola bola matanya jengah mendengar jawaban suara gaib itu.
__ADS_1
J : Instingku mengatakan itu, Violet. Benar? Suara gaib itu tidak menjawab
J : Jika itu benar Violet, berarti ia berselingkuh? tapi siapa pria yang bersamanya? Saat aku megatakan tentang pria itu, Barra marah. Apa dia mantan suami Violet, si Baron??
Mata Jihan membesar, menyadari jika ia telah menemukan sebuah fakta yang baru.
J : B? ... B! ck, selalu saja menghilang!
Jika orang lain melihat Jihan yang sedang makan saat ini, mungkin mereka akan merasa heran karena wanita itu makan dengan raut wajah yang sangat menikmati dengan ekspresi yang berubah-ubah dengan cepat seolah sedang berbincang dengan orang lain. Padahal ia hanya duduk seorang diri.
Jihan menghabiskan makannya dengan cepat, lalu segera keluar dari cafe menyusul Barra. Pria itu nampak bersandar di mobilnya sedang menghisap sebuah cerutu.
"Maaf lama," ucap Jihan, "Uhuuk ... huuuk." Jihan terbatuk saat Barra dengan sengaja menghembuskan asap cerutu ke wajahnya.
"Kita pulang sekarang?" tanya Jihan seraya mengibas-kibaskan asap rokok di depan wajahnya.
"Sejak kapan kau tidak suka asap rokok, Luna?" tanya Barra dengan pandangan menyelidik
...❤🤍...
Sambil nunggu mampir sini dulu yuk
__ADS_1