Luna Milik Tuan Muda Barra

Luna Milik Tuan Muda Barra
47 LMTMB


__ADS_3

Violet memandang Luna bagaikan ingin menelannya habis-habisan. Wajah Violet sudah kusut penuh dengan air mata dan bercak darah.


Tubuh Jihan membeku sembari memegangi Barra yang semakin lemas dan pucat kehabisan darah.


Suasana di sekitarnya mengingatkannya pada adegan film action yang ia lihat di bioskop, tapi sekarang ia sebagai salah satu pemerannya.


Violet semakin mendekat, Jihan bisa mendengar bunyi kunci pelatuk pistol yang diacungkan ke arah kepalanya terbuka. Jihan sudah pasrah jika harus mati di dunia tidak nyata ini sebagai Luna.


Bukan karena ia menerima takdirnya, tapi kakinya sama sekali tidak bisa digerakan karena ia sangat takut.


"Mati kau, Luna!" seru Violet penuh dengan emosi. Jihan terpekik dan memejamkan matanya. Suara letusan pistol berdesing nyaring di telinga Jihan.


Jihan merasakan perih dan panas bersamaan di tubuhnya. Jihan tetap memejamkan matanya walau ia mendengar keributan di sekitarnya.


Tubuhnya tergeletak menggigil di lantai samping Barra yang terlihat diam tak bergerak.


Aku mati ... aku mati ... aku mati. Jihan bergumam dalam hati. Rasa perih dan panas itu semakin terasa dan menyiksa. Ia sempat merasa heran, mengapa masih bisa merasakan sakit. Apakah proses kematian itu lama?


"Bangun! belum saatnya kamu mati." Sebuah suara yang tidak asing menerobos pendengarannya.


Perlahan-lahan Jihan memaksa matanya untuk terbuka. Ia takut jika yang dilihatnya adalah sosok menyeramkan yang sering digambarkan sebagai malaikat pencabut nyawa. Namun yang dihadapannya saat ini adalah seorang pemuda gagah dengan raut wajah panik menatapnya.


"A-adam?" Jihan berbisik lirih.


"Kamu baik-baik saja??" tanya Adam khawatir.


Walaupun Jihan dalam kondisi kesakitan, ia masih bisa menangkap sesuatu yang ganjil dari kalimat pertanyaan yang dilontarkan Adam, tapi ia masih belum dapat mencernanya.


Lambat laun Jihan semakin sadar jika ia masih hidup. Rasa perih dan panas yang ia rasakan, ternyata berasal dari luka di pelipisnya. Peluru yang ditembakkan Violet ternyata meleset dan menyerempet dahinya.

__ADS_1


"Huhuhuhuuuuu ... aaaaaa ... kamu jahaaatt! kenapa baru datang sekaraaanngg!!" Jihan menangis meraung dan memukul-mukul dada Adam. Ia merasa kesal sekaligus lega, Adam datang menyelamatkannya.


Adam tidak menjawab dan membalas perlakuan Jihan, ia langsung mengangkat tubuh Jihan dan membawanya pergi dari mansion Baron. Adam membaringkan tubuh Jihan di bangku mobil bagian depan yang sudah direbahkan.


"Barra ... Tuan Jose." Jihan merintih sembari memanggil nama suami dan ayah Luna. Tubuhnya semakin terasa sakit dan menggiggil.


Adam memacu kendaraannya semakin cepat. Ia meletakkan tangannya di dahi Jihan yang terasa semakin memanas.


"Tolong mereka, Adam ..." Jihan mulai menangis dan menarik tangan Adam yang sedang menyetir.


"Tenanglah, kau sedang demam. Jangan pikirkan orang yang bukan urusanmu," sahut Adam.


"Mereka urusanku, Adam ... Barra tertembak ... Tuan Jose ditawan ... kita harus kesana, cepat Adam!" Jihan kembali histeris dengan mata setengah terpejam. Adam mengabaikan permintaan Jihan, ia sangat tahu apa yang harus dilakukan.


"Adam! ... Barraa ... Adam tolong diaaaa ...." Jihan kembali meraung.


Keadaan di mansion Baron sudah aman terkendali setelah Adam datang membawa pasukannya dan petugas keamanan kota tersebut. Adam datang tepat saat Violet menarik pelatuk pistolnya.


Peluru yang seharusnya menembus kepala Jihan, sedikit meleset mengenai pelipis Jihan karena tendangan Adam tepat mengenai lengan Violet.


Tuan Jose dan Barra selamat dalam insiden penembakan tersebut, sedangkan Barron meninggal di tangan istri sekaligus putrinya sendiri.


Adam dengan cepat mengangkat tubuh Jihan dan membawanya masuk ke dalam kamar Luna. Ia memanggil pelayan wanita untuk mengganti pakaian Jihan, lalu ia mengobati sendiri luka yang ada di pelipis wanita itu.


"Gadis bo doh! sudah kubilang tunggu sebentar. Dasar keras kepala!" Adam terus menggerutu selama ia mengobati dahi Jihan.


Wanita itu masih mengerang antara menahan rasa sakit dan berhalusinasi karena demam. Dalam kondisinya yang di ambang kesadaran, Jihan melihat seorang wanita cantik berambut hitam panjang sedang menatapnya haru.


Jihan berjalan mendekati wanita itu, ia sangat mengenali sosok wanita itu. Ia biasa melihat tubuh yang ia gunakan di dunia hayal ini saat mendapat penglihatan berupa petunjuk, tapi anehnya ini berbeda. Wanita ini sedang menatapnya seolah melihatnya, tidak seperti biasanya yang keberadaannya bagaikan kasat mata.

__ADS_1


"Kamu bisa lihat aku?" tanya Jihan ragu lalu menoleh ke arah belakang tubuhnya memastikan lagi apakah benar ia yang sedang dipandangi oleh Luna.


"Aku selalu bisa melihatmu," ucap Luna. Jihan mengernyitkan kening mencoba memahami arti perkataan Luna.


"Ini di mana? kamu masih hidup? aku belum mati 'kan?" Jihan memberondong Luna dengan pertanyaan.


Ia mengedarkan pandangannya, mereka sedang berada di atas bukit yang tinggi duduk di sebuah batu yang sangat besar. Dari tempat mereka duduk, Jihan bisa melihat kota Zena, Negara bagian Timur Trivenuz seperti yang disampaikan pelayan Luna dulu.


"Indah ya?" ucap Luna tanpa menjawab pertanyaan Jihan.


Jihan mengikuti arah pandang Luna. Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat tiga bangunan megah yang cukup menonjol di antara bangunan yang lain. Mansion milik Tuan Jose, Barra dan Baron.


"Semua indah ... sampai wanita iblis itu datang menghancurkan keluargaku." Senyum Luna surut dan pandangannya meredup.


"Ia memfitnah ibuku dengan kematiannya. Itulah saat terakhir aku melihat ibuku ... di hari ulang tahunku ibu di hukum mati." Mata Luna tampak berkaca-kaca.


"Semuanya tidak sama lagi sejak saat itu, sampai aku bertemu Barra." Senyum Luna kembali terkembang, "Dia tampan bukan?" Luna menoleh ke arahnya. Jihan sedikit terkejut dengan perubahan wajah Luna yang tiba-tiba. Ia bingung harus menjawab apa dengan pertanyaan berbahaya Luna.


"Ayolah, aku tidak bakalan marah meski kau sudah merasakan ciumannya, tapi perlu kau ingat yang di kepalanya saat ia menciummu adalah aku," ujar Luna dengan mimik wajah lucu. Jihan hanya tertawa canggung menanggapi. Baru sebentar saja ia bersama Luna, ia sudah merasa nyaman dengan kepribadian gadis itu.


"Tapi itu tak lama." Wajahnya kembali terlihat sedih, "Aku terlalu bodoh sampai bisa masuk ke lubang jebakan titisan wanita iblis itu." Luna menggeram marah.


"Barra mengusirku bahkan ia menikahi wanita lain yang belakangan aku tahu kalau Violet adalah anak dari wanita jahat itu!"


"Aku merasa gila, Jihan. Aku hampir tidak bisa berpikir, pria yang menjadi sandaranku memeluk wanita lain di depanku." Air mata Luna mulai mengalir.


"Pria tua mantan suami wanita itu ingin menikahiku, jelas aku dan ayahku menolak. Meski aku nanti mengandung anak dari si tua itu, aku tidak akan sudi hidup bersama orang yang bersekongkol membunuh ibuku." Jihan masih diam mendengarkan Luna melampiaskan emosinya. Baru ini ia mendengar secara langsung perasaan dari wanita yang ia gunakan tubuhnya.


...❤🤍...

__ADS_1


__ADS_2