Luna Milik Tuan Muda Barra

Luna Milik Tuan Muda Barra
Salju pertama


__ADS_3

"Iya, Tuan. Adam yang meminta kami membuatkan teh untuk Nona dan Tuan," ujar pelayan muda itu masih dengan badan membungkuk.


"Ooh, yaa. Hehehehee, rupanya dia tahu sejak menikah dengan Barra, aku sudah mulai suka dengan teh aroma jahe." Jihan menengahi walaupun dalam hatinya, ia masih merasa bingung mengapa Adam menyarankan teh dengan aroma yang tidak disukai oleh Luna.


Tidak mungkin pengawal setia Tuan Jose tidak tahu kebiasaan dari penghuni mansion. Teh jahe adalah minuman favorit Jihan bukan Luna.


"Lun, Luna, apa yang kau pikirkan?" suara ayah Luna yang penuh kesabaran menyadarkan Jihan dari lamunannya.


"Tidak ada ayah. Aku hanya merindukan ibu ... maaf." Jihan meralat ucapannya saat melihat raut wajah ayah Luna yang berubah muram.


"Ayah juga merindukannya." Pandangan ayah Luna menerawang jauh.


"Ayah tidak mau balas dendam?"


"Untuk?" ayah Luna memandang Jihan heran.


"Kematian Ibu."


"Pada siapa Ayah harus balas dendam?"


Benar kata ayah Luna karena yang menyebabkan kematian ibu Luna adalah Emily, dan wanita itupun juga sudah tiada.


"Putrinya?" tanya Jihan hati-hati.


"Sejak kematian ibumu, gadis itu menghilang entah kemana. Lagi pula gadis itu usianya sama denganmu saat itu, mana mungkin ayah tega memenjarakannya." Ayah Luna menggelengkan kepalanya dengan keras.


"Ayah sangat mengerti, gadis itu marah ibunya meninggal karena memendam sakit hati pada ayah dan ibu, dan itu semua salah ayah." Mata ayah Luna mulai berkaca. Kerut di wajahnya semakin terlihat saat beliau nampak sedih.


Benar dugaan Jihan, ayah Luna tidak tahu jika Violet adalah putri dari Emily yang memfitnah istrinya.


"Ayah ... tentang Baron---"


"Sudahlah, Luna. Jangan pernah kamu berurusan lagi dengan orang licik itu."


"Hanya ingin tahu ... apakah dia tahu aku sudah menikah dengan Barra?"


"Untuk apa dia tahu? kalian berdua tidak ada hubungan apapun. Kamu hanya terjebak dalam situasi yang salah, dan itu dua minggu sebelum pernikahanmu dengan Barra."


"Dalam sekejap situasi berbalik, Barra yang emosi membatalkan rencana pernikahan kalian. Baron dan Violet kabarnya juga langsung berpisah setelah menemukan kalian berdua di atas ranjang Baron."


"Barra tiba-tiba menjalin hubungan dengan Violet, mantan istri Baron dengan dalih saling menyembuhkan luka hati ... ciiihh!" Jihan hanya diam mendengarkan segala keluh kesah Tuan Jose tentang kehidupan Luna sebelum ia masuk ke dalamnya.


"Tapi sekarang aku sudah menjadi istri orang yang kucintai, Ayah."


"Ya, itu karena kau yang menangis terus dan hampir bunuh diri. Setelah ayah meminta pengertian Barra, ia melunak dan mau menikah denganmu. Jadi tolong jangan kau kacaukan lagi, Luna."


"Tidak, Ayah." Jihan merasa mengorek informasi dari Ayahnya tentang Baron tidak akan membuahkan hasil, tapi setidaknya ia sedikit lebih jelas tentang bagaimana Luna bisa menjadi istri kedua dari kekasihnya.

__ADS_1


Setelah berbincang lama dengan Tuan Jose, Jihan keluar dari ruang kerja ayah Luna dan mendapati Adam sedang duduk di beranda mansion bersama para pengawal lainnya.


"Siang, Nona ada yang bisa kami bantu?" Keempat pengawal termasuk Adam sigap berdiri dan membungkuk begitu melihat Jihan mendekati mereka.


"Saya ada perlu sedikit dengan kamu." Jihan menunjuk Adam yang langsung ditanggapi dengan anggukan kepala Adam.


"Berapa usiamu, Adam?" tanya Jihan setelah mereka berdiri di tengah taman mansion yang luas.


"28 tahun, Nona."


"Kau bilang sejak usia remaja sudah ikut ayahmu bekerja di sini, benar?"


"Benar, Nona."


"Kau kenal dengan Baron?"


"Tidak kenal, tapi saya tahu."


"Bagaimana hubunganku dengan Baron ... eh, maksudku, aku ingin tahu dari pandangan orang lain."


"Anda tidak ada hubungan apapun dengan pria itu, saling berbicara pun tidak setahu saya."


"Di manakah dia sekarang?"


"Jangan menemui orang itu, Nona." Adam berkata dengan nada tegas.


"Saya tidak tahu."


"Kamu tahu, tapi tidak ingin memberitahuku, benar?" Jihan berjalan mendekati Adam.


"Jangan temui orang itu, Nona," ucap Adam sekali lagi.


"Mengapa kamu begitu yakin kalau aku akan pergi menemui Baron, Adam?" Jihan terus berjalan pelan ke arah Adam.


"Mengapa aku merasa kau seperti bisa membaca pikiranku?" Jihan menatap lurus ke dalam bola mata Adam, tapi pria itu tetap tidak bergeming.


"Temani aku menemui, Baron," ujar Jihan.


"Tidak sekarang, Nona."


"Kenapa kau melarangku? ada apa dengan Baron?" Jihan sungguh penasaran dengan wujud Baron seperti apa. Apakah sama dengan pria yang ia lihat di pinggir danau bersama Violet.


"Belum saatnya," ucap Adam.


"Maksudnya? ... hatsyiii!" Jihan bergidik saat angin dingin berhembus kencang.


"Masuklah, Nona di sini memang cuacanya jauh lebih dingin."

__ADS_1


"Heh?" Jihan merasa aneh dengan ucapan Adam. Apa maksudnya cuaca jauh lebih dingin di sini, ia mau membandingkan dengan daerah mana?


Jihan tetap berjalan mengikuti langkah Adam masuk ke dalam mansion karena memang udara semakin dingin sepertinya akan turun salju.


"Saya ambilkan minuman hangat," ucap Adam setelah mereka berdua masuk ke dalam mansion. Pria itu lantas berbalik dan berjalan ke arah dapur.


Tiba-tiba Jihan teringat sesuatu, "Minuman apa yang akan kau berikan padaku, Adam?"


"Nona ingin minum apa?"


"Aku kira kau tahu aku ingin minum apa, karena kau langsung pergi ke dapur tanpa bertanya terlebih dulu."


"Maafkan saya. Anda ingin minum apa?"


"Teh jahe, seperti tadi pagi." Meski pengawal ini berwajah datar, Jihan masih bisa menangkap kegugupan Adam saat ia mengatakan teh jahe.


"Silahkan, Nona." Seorang pelayan menaruh cangkir berisi teh dengan aroma jahe di meja.


"Di mana, Adam?"


"Maaf saya kurang tahu, Nona."


Sepertinya ia menghindar, ada yang aneh dari pengawal itu.


"Luna, cuaca semakin memburuk. Lebih baik kau menginap dulu malam ini. Ayah yakin, Barra pasti akan mengerti."


Jihan melihat dari jendela, benar kata ayah Luna cuaca sedang tidak bersahabat. Taman yang tadi hijau sekarang menjadi putih berselimutkan salju.


Jihan tersenyum senang, ia baru kali ini melihat salju secara langsung. Saat ia akan keluar ingin merasakan dinginnya salju di tangannya, ayah Luna melarangnya dan menyarankan agar cepat beristirahat.


Jihan mengikuti perintah ayah Luna agar tidak menimbulkan kecurigaan. Luna yang asli tidak mungkin baru sekali ini melihat salju bukan?


...❤...


Esok harinya begitu Jihan bangun dari tidurnya, ia lalu berlari ke luar rumah seperti anak kecil.


Masih tersisa lapisan salju yang lembut sisa badai semalam. Perlahan Jihan menyentuh kepingan salju di dedaunan, senyumnya merekah semakin lebar.


Ia berlari kesana kemari tanpa mempedulikan pandangan aneh pengawal yang berjaga.


Setidaknya ada hal yang bisa aku syukuri masuk ke dunia aneh ini. Tidak perlu harus beli tiket ke Eropa untuk merasakan salju! Jihan membatin kegirangan.


"Hattssyiiii!" Bulu tubuh Jihan meremang saat merasakan hawa dingin menusuk tulangnya. Namun setelah itu tergantikan oleh rasa hangat saat seseorang menyampirkan jaket bulu tebal ke pundaknya.


...❤🤍...


Mampir sini juga yuk

__ADS_1



__ADS_2