
Perlahan Jihan menapaki anak tangga, suasana dan lingkungan ini sangat tidak asing baginya. Baru tersadar, ia sedang berada di kampus diantara teman-teman kuliahnya. Jihan memastikan kembali wajah dan tubuhnya di depan kaca majalah dinding.
Aku kembali? Jihan tersenyum senang sembari memegang seluruh wajah dan tubuhnya.
Langkahnya ia ayun menuju tempat biasa teman-temannya sering berkumpul. Sudut sepi bawah tangga di fakultas mereka, fakultas Sastra.
Dari kejauhan sudah terdengar suara tawa dari rekan-rekannya. Jihan semakin mempercepat langkahnya. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan semua temannya.
Senyum Jihan semakin melebar saat melihat Lidia ada di sana, gadis itu selalu bersemangat di manapun ia berada. Di sana juga ada gank cabe hijau si Abel, Naren, Naomi, Aries, Billy dan .... Jihan?
Aku?? ba-bagaimana bisa? Jihan memperlambat langkahnya. Ia melihat dirinya sendiri sedang bercanda bersama teman-temannya yang lain.
Aku ada di sana dan aku juga ada di sini? berarti aku bukan mati.
Perlahan Jihan berjalan semakin mendekati dirinya sendiri dan teman-temannya. Seperti biasa topik yang dibicarakan mereka adalah hal-hal yang random.
"Si Bryan ternyata sudah jadian sama anak fakultas ekonomi," keluh Billy.
__ADS_1
"Yang baru masuk itu? ditikung dong kamu?" timpal Naomi. Billy hanya terkekeh getir.
"Kalau cowok tuh waktunya masih panjang, nikah usia 30an keatas juga masih tergolong muda. Lah kita yang cewek gini kalo umur sudah diatas 30an susah cari pendamping hidup," ujar Abel yang sedikit tomboi.
"Emang kamu butuh laki, Bel?" Naren tergelak.
"Butuhlah, gini-gini juga normal aku."
"Bener sih, cewek kalo sudah diatas 30an sedikit, sulit cari pendamping hidup. Apalagi yang karirnya udah sukses, auto cowok biasa pada mundur. Makanya jangan pinter-pinter, Han. Belajar mulu!" Lidia menyenggol Jihan yang sedang membaca sebuah buku tebal.
Aahh, aku ingat. Ini satu bulan sebelum kejadian aku jatuh dari tangga gara-gara novel sialan itu.
"IPK mu dah tinggi banget, jangan terlalu pinter lah, nanti cowok pada minder lagi," celetuk Naren.
"Aku belajar bukan supaya nilai ujian bagus atau bisa dapat kerja bagus. Sukses itu hanya bonus, yang aku kejar itu beasiswa," jelas Jihan.
Dari sudut lain Jihan memandang dirinya sendiri dengan sedih. Ia yang hanya anak yatim, hidup berdua dengan seorang ibu yang bekerja sebagai tukang cuci dan setrika borongan harus berusaha lebih giat agar bisa lulus tepat waktu. Jika turun dari standart yang ditentukan beasiswa akan dicabut kembali.
__ADS_1
"Berarti kamu harus cari pasangan yang lebih pinter dari kamu, Han," sahut Aries.
"Kan udah adaaaa, Ris." Lidia mengerling jenaka.
"Siapa?" Abel dan Naren bertanya serempak.
Sebentar lagi orang itu lewat dan mereka semua akan menggodaku. Jihan menoleh ke arah lorong kampus menanti sosok yang ia kagumi.
"Ituuu!" seru Lidia sembari berbisik. Serempak semua kepala menoleh ke arah yang dimaksud Lidia, termasuk Jihan yang memegang buku dan Jihan yang berdiri di sudut ruangan.
Pria itu bertubuh tinggi besar dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung sebatas siku. Kacamatanya menambah kadar cerdas dan aura dingin di wajahnya.
Pak Abiyasa dosen sastra kuno yang kaku dan jarang berbicara di luar materi kuliah itu, berjalan dengan langkah tegap. Tidak dihiraukannya para mahasiswi yang memandang ke arahnya dengan tatapan kagum.
Jihan yang berdiri di sudut ruangan, terpaku untuk kesekian kalinya jika melihat dosen idolanya itu. Sebentar lagi, dosen muda itu akan lewat tepat di hadapannya.
Jihan yang merasa yakin tidak bakal terlihat karena ia berasal dari dimensi waktu yang berbeda, mengulurkan tangan ingin menyentuh bagian tubuh Pak Abiyasa sedikit saja.
__ADS_1