
"Haaahhhh ... hhhh ... hhhh." Jihan terbangun dari tidurnya dengan peluh membasahi baju dan rambutnya. Perlahan ia bangkit dari tidurnya lalu duduk bersandar di tepi ranjang.
Tangannya masih gemetar saat mengambil gelas di atas nakas. Tanpa berhenti, Jihan menghabiskan segelas air putih untuk meredakan rasa ngerinya.
Dalam mimpinya ia melihat Amanda, Ibu dari Luna dihukum pancung dan sebelumnya dicambuk dan dipasung. Perih yang dirasakan hati Luna, Jihan pun ikut merasakan.
Jihan beringsut ke meja riasnya setelah degub jantungnya sedikit mereda. Ia mengambil buku catatan kecil dan alat tulis dari dalam tasnya.
Di dalam buku itu ia melanjutkan catatan-catatan penting yang ia temukan baik secara nyata maupun melalui mimpi dan penglihatannya.
Dari semua yang ia catat, Jihan mengambil kesimpulan jika Tuan Jose, ayah Luna adalah mantan kekasih dari Emily, Ibu Violet. Namun Emily diduga berselingkuh dan Tuan Jose memilih menikahi Amanda yang sebelumnya adalah pelayan Emily.
Emily yang masih belum bisa menerima jika kekasihnya berpaling darinya, mengakhiri hidupnya sendiri dengan menjadikan Amanda sebagai pelakunya. Mungin baginya jika dia tidak bisa mendapatkan Tuan Jose, Amanda pun tidak akan bisa.
Cinta buta yang bodoh. Jihan berdecih dalam hati.
Violet putri dari Emily, mengetahui kisah sang Ibu lalu ikut memfitnah Amanda hingga Ibu Luna itu, dihukum pasung, cambuk dan berakhir di pancung dengan tuduhan pembunuhan.
Akhirnya keinginan Emily terwujud, tidak ada seorang wanita yang mendampingi Tuan Jose sejak kematian istrinya.
Namun dendam Violet rupanya tidak berhenti sampai berakhirnya hidup Amanda. Istri pertama Barra itu benar-benar menjalankan kutukan dari Ibunya, menyumpahi keluarga mantan kekasihnya tidak akan hidup tenang dan bahagia.
Jihan menutup buku catatannya. Ia menelungkupkan wajahnya ke atas meja. Sampai sini semuanya masih terasa gelap dan buntu. Jihan sangat yakin jika Violet mempunyai hubungan spesial dengan pria bertongkat yang ditemuinya di pinggir danau.
Jihan segera bergegas mandi dan berpakaian. Ia memutuskan akan mencari tahu siapa pria bertongkat itu.
"Hai, Luna, kau masih di sini?" sapa Violet saat Jihan hendak keluar mansion.
"Oh, hai Vio. Tentu aku masih di sini, di mansion milik suamiku," ucap Jihan dengan dagu terangkat.
"Mmm, aku kira kau sudah lari terbirit-birit karena Barra membentakmu." Ada kesan kemenangan dan mengejek dari nada suara Violet.
Jihan mengedarkan pandangannya, mencari sosok suami mereka berdua. Setelah memastikan Barra tidak ada di sekitar mereka, Jihan berjalan mendekat Violet.
Wanita itu sudah memasang wajah tegang saat Jihan menyeringai dan berjalan lurus ke arahnya, "Sampaikan salamku untuk ayah dari calon bayimu," bisik Jihan di telinga Violet.
Jihan memundurkan kepalanya, ia melirik ke arah Violet yang terlihat sekali semakin menegang. Sebenarnya Jihan hanya iseng ingin membuktikan dugaannya dan sepertinya ia cukup puas dengan hasilnya.
"Jangan kurang ajar kau Luna!" Violet menggeram marah.
"Ada apa Vio, Luna menyakitimu?" Entah dari mana datangnya, Barra sudah ada di belakang Jihan dan menggamit pinggang Violet.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Sayang. Hanya masalah kecil, biasa hormon kehamilan." Violet berkata gugup.
"Tadi aku hanya mengatakan titip salam untuk ayah dari calon bayinya, karena tidak melihatmu dari tadi. Entah mengapa dia marah." Jihan tertawa pelan sembari menunjuk Violet yang semakin pucat wajahnya.
"Tak apa, Vio. Walaupun aku belum pernah mengandung, aku paham tentang hormon pada ibu hamil," tambah Jihan dengan senyum tertahan.
"Mau kemana kau, Luna?" tanya Barra. Pria itu tidak ambil pusing dengan perkataan Jihan pada Violet.
"Aku ingin pulang ke menemui ayahku, boleh?"
"Jam berapa kau kembali?"
"Ahh, Barra aku saja belum keluar dari mansionmu, kau sudah menanyakan jam berapa aku akan kembali pulang? Apa kau sudah merindukanku?" tanya Jihan menggoda. Hatinya sedang senang pagi ini, Jihan merasa berhasil membuat Violet mati kutu dengan perkataannya.
"Aku hanya memastikan kau tidak terkunci di luar mansion jika datang terlalu malam," sahut Barra.
"Kau lucu sekali, Barra," Jihan terkekeh mendengar ucapan Barra yang ia tahu pasti hanya menutupi perhatiannya pada Luna.
"Aku pergi dulu, bye," Jihan melambaikan tangannya ke arah Violet dan Barra yang masih memandangnya.
Hari ini ia pergi ke mansion ayahnya tanpa mengajak Millie. Jihan ingin mengorek lebih dalam lagi tentang masa lalu Luna dan Ibunya.
Saat baru turun dari mobil yang mengantarnya, Jihan disambut dengan Adam yang membungkuk sopan.
"Di ruang kerja, Nona. Anda mau minum apa?" tanya Adam.
Jihan berbalik dan bertanya heran, "Sejak kapan tugas pengawal merangkap pelayan?"
"Maaf, saya hanya melihat anda tidak bersama Millie." Adam kembali menunduk sopan.
"Terima kasih tawarannya, minuman apapun asal hangat, di luar sangat dingin sekali, Adam." Jihan menyerahkan jaket bulu pada pelayan yang berdiri di ambang pintu.
Tiba-tiba langkah Jihan terhenti dan berputar kembali menghadap Adam. Pengawal itu berdiri kaku saat Nona mudanya berjalan mendekat dan menyentuh dada kirinya, "Adam. B," gumam Jihan, "B siapa?" lanjutnya.
"Adam ... Baga ... Bagamore," ucap Adam terpatah. Jihan mengerutkan keningnya, dari jarak yang cukup dekat ia dapat melihat garis wajah Adam.
Ada yang aneh menurutnya, tapi ia belum menemukan apa itu, "Mengapa kau terlihat tegang sekali, Adam?" Jihan terkekeh melihat jakun Adam yang naik turun saat mereka berdekatan.
"Maaf, jika saya tidak sopan."
"Tidak apa-apa, inisial namamu mengingatkanku pada orang yang menyebalkan," ujar Jihan seraya membalikkan badan, "Aku pun tak tahu apakah B itu orang atau hantu," gumamnya kesal.
__ADS_1
Jihan mengetuk pintu ruang kerja ayah Luna, setelah ada suara menanggapi dari dalam, Jihan segera membuka pintunya, "Haiii, Ayaah, i really miss you."
Jihan memeluk ayah Luna dengan erat. Ia tahu pria tua yang masih nampak muda ini tentunya sangat merindukan putrinya. Di mansion sebesar ini hidup hanya dengan pelayan dan pengawal, tentunya membuat ayah Luna kesepian.
"Ada apa kemari tanpa kabar dulu?"
"Rindu pada Ayah tak perlu alasan, bukan?"
"Bagaimana pernikahanmu, Luna?" tanya ayah Luna sendu.
"Bahagia, Ayah." Luna pasti bahagia, meski harus jadi yang kedua. Batin Jihan.
"Ayah tahu," sahut ayah sembari menganggukan kepala pelan.
"Ayah, di mana Baron sekarang?" pertanyaan Jihan yang tiba-tiba membuat ayah Luna terpaku.
Jihan tahu pertanyaannya ini sangat beresiko, tapi hanya kepada ayah Luna lah ia berani mengambil resiko itu, karena ia tahu jika ayah Luna sangat menyayangi putrinya.
"Mengapa kau masih menanyakan orang itu?" tanya ayah Luna tanpa berhasil menyembunyikan rasa tak sukanya.
"Ada yang perlu diselesaikan."
"Semua sudah selesai. Kamu sekarang adalah istri Barra, hargailah suamimu."
"Ayah tahu 'kan jika aku tidak ada hubungan apapun dengan pria bernama Baron itu?" Jihan menekankan kalimatnya.
"Tentu saja, kau tahu ayah tidak pernah mempercayai ucapan mereka." ucap ayah Luna yakin.
"Terima kasih, Ayah." Jihan tersenyum puas.
"Permisi." Seorang pelayan wanita masuk ke ruangan dengan membawa nampan berisi dua cangkir minuman.
"Terima kasih." Jihan tersenyum senang dan langsung menyesap teh aroma jahe favorite-nya.
"Sejak kapan kau suka dengan minuman jahe, Luna?" tanya ayah heran, "Apa kalian lupa dengan teh kesukaan putriku?" pertanyaan ayah Luna beralih pada pelayan yang masih berdiri di sisi Jihan.
"Maaf, Tuan. Adam yang meminta kami membuatkan teh jahe untuk, Nona." Pelayan itu membungkuk takut.
"Adam?"
...❤🤍...
__ADS_1
Mampir sini yuk