
Barra memandang kekasihnya dengan perasaan sedih dan menyesal. Selama hampir satu tahun, ia dan ayah Luna berusaha bersandiwara dan menutupi semuanya dari Luna.
Ayah Luna paham jika putrinya itu tahu Baron dan Violet adalah dua orang yang licik serta kejam dan sudah menjebaknya, Luna tidak akan tinggal diam. Putrinya itu akan bertindak sesuka hatinya dan hal itu malah akan membahayakan keselamatan dirinya.
Tuan Baron sudah dikenal sebagai saudagar yang kejam dalam dunia bisnis, ditambah dengan Violet yang punya dendam abadi terhadap keluarganya, membuat Tuan Jose mengambil tindakan lebih dulu melindungi putri satu-satunya walaupun itu mungkin akan menyakiti hati Luna.
"Lalu?" tanya Jihan bingung.
"Lalu apa?" tanya Barra kembali.
"Kau dan Violet."
"Aku dan Violet sebentar lagi akan selesai. Terkadang kita harus sakit dulu untuk tahu rasa dari penderitaan."
"Tapi kau menikmati, Barra." Jihan berkata dengan sinis.
Barra menghela nafas berat, ia tahu apa yang sedang dibicarakan oleh wanita yang dikasihinya itu.
"Aku terpaksa, Sayang demi melindungi dirimu, tapi asal kau tahu aku tidak pernah menanamkan benihku ke tubuhnya. Aku tidak mau anakku lahir dari wanita seperti dia ... aku ingin anakku lahir dari rahimmu." Barra mengusap perut Jihan dan berbisik di telinganya.
Jihan menahan nafasnya, otaknya berpikir cepat cara untuk menolak Barra tanpa pria itu menyadari jika ia bukanlah Luna.
"Tuan sudah waktunya." Seorang pelayan pria membungkuk hormat di ambang pintu. Jihan menghela nafas lega, dan mengucap terima kasih berulang-ulang pada pengawal itu dari dalam hatinya.
"Keraguanmu akan segera terjawab. Kamu tunggu di sini ya."
"Tidak, aku ikut kemana pun kamu pergi." Jihan menahan tangan Barra yang sudah bangkit dari kursi.
"Ini agak bahaya untuk kamu, Sayang. Lebih baik kamu tunggu di mansion saja."
"Aku ikut." Jihan bersikeras. Ia tidak mau terlihat semakin bodoh di dunia novel ini. Semakin cepat terungkap, semakin cepat pula ia kembali ke dunia nyatanya.
"Baiklah, tapi berjanjilah jangan jauh-jauh dariku."
Jihan mengikuti langkah Barra yang lebar keluar mansion lalu mereka menaiki mobil yang sama.
__ADS_1
"Kita mau kemana?" Jihan menoleh ke arah belakang mobil. Tampak beberapa mobil dan motor pengawal Barra ikut mengiringi mereka dari arah belakang.
"Mansion Baron."
"Menjemput Violet?" Barra hanya tertawa mendengar pertanyaan Jihan yang terlampau polos baginya.
"Kamu tunggu di sini. Jangan keluar dari mobil," perintah Barra saat tujuan mereka sudah ada di depan mata.
Jihan memperhatikan dari dalam mobil, Barra dan pengawalnya mulai memasuki halaman mansion Baron. Mereka dihadang oleh para pengawal Baron yang bertubuh besar.
Barra memberi kode pada pengawalnya untuk terus maju dan memaksa masuk. Dua kubu terlibat pertarungan yang sengit, saling memukul, menendang dan menyabetkan pisau tanpa kenal ampun.
Jihan menurunkan tubuhnya supaya tidak terlihat dari arah luar mobil. Tubuhnya bergetar ketakutan, walau ini hanya dunia hayal tapi baginya terasa sangat nyata.
Beberapa mobil menyusul masuk ke halaman mansion Baron. Jihan memicingkan matanya saat melihat sosok yang sangat dikenalnya.
"Tuan Jose??" Jihan semakin merasa was-was saat melihat semuanya berkumpul di mansion Baron.
Suasana di halaman mansion sudah terlihat lengang, hanya ada beberapa pengawal yang terkapar di tanah karena kalah dalam perkelahian. Suara orang berteriak dan perkelahian terdengar dari dalam mansion, rupanya pertempuran berlanjut di dalam mansion.
DOOORRR!!
Rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya, ia memberanikan diri untuk keluar dari dalam mobil dan mendekat ke arah mansion.
Suara tawa Violet terdengar menggema dari dalam mansion. Jihan semakin mempercepat langkahnya. Walaupun ada rasa takut, tapi ia mengkhawatirkan suami dan ayah Luna yang berada di dalam mansion.
B : Jangan masuk, Nona!
Suara gaib itu kembali terdengar.
J : Aku harus masuk, B perasaanku tidak enak.
B : Belum saatnya, kembalilah ke dalam mobil!
Jihan tidak menghiraukan perintah dari suara gaib, ia terus berjalan dengan cepat ke arah pintu mansion. Sebelum masuk, Jihan mengedarkan pandangannya mencari pria yang selalu merecokinya. Tidak menemukan yang dicari, Jihan mendengus kesal lalu memutuskan segera masuk menyusul Barra dan Tuan Jose.
__ADS_1
Jihan terus melangkah ke dalam mansion, mengikuti sumber tawa Violet. Beberapa kali ia harus melangkahi tubuh pengawal yang tergeletak di lantai.
Tubuh Jihan lemas saat sampai di ruang tengah, dan melihat Barra memegang perutnya yang bersimbah darah. Sedangkan Tuan Baron tertelungkup di lantai dengan darah mengalir dari tubuhnya.
Mata Jihan mencari-cari sosok ayah Luna dan ia menemukan pria setengah baya itu dipaksa berlutut oleh pengawal Baron dan pisau berada di lehernya.
"Hai, Lunaaa ... bagaimana kabarmu setelah kita bermain-main di dalam kolam tadi pagi?" Violet berteriak dan tertawa bersamaan. Baju dan tangannya sudah berlumuran dengan darah.
"Apa-apaan ini Vio??" Jihan menjerit ngeri, "Barraaa ... bertahan Barra!" Melupakan rasa ngeri dan jijik, karena panik Jihan menutup luka di perut Barra dengan tangannya.
"La-larii ce-ceephhatt ...." Barra merintih sembari mendorong tubuh Jihan agar menjauh.
"Tidak!" Jihan tidak mempedulikan perintah Barra, ia sedang dilanda kepanikan saat ini. Tidak tahu harus berbuat apa dalam kondisi terjepit dan waktu yang singkat.
"Lunaaa ... pergiiii." Tuan Jose berbisik lirih. Darah sudah mulai mengalir di leher ayah Luna. Jihan semakin panik, air matanya terus mengalir.
J : B ... B! tolooongg!!
Jihan menjerit dalam hati. Sementara Violet dengan perlahan bergerak menuju ke arahnya. Tangannya yang memegang pistol yang teracung ke arahnya. Darah mengalir dari lengan kiri Violet, rupanya wanita itu juga terluka di bagian lengan. Selain itu ada darah mengalir juga dari sela-sela paha Violet.
"Vio! kamu pendarahan!"
"Heh?" Violet melongok ke bawah tubuhnya sekilas lalu mulai terkekeh, "Aku yang membunuhnya juga, kenapa?"
"Kamu gila, Vio!"
"Aku memang gila! sudah aku katakan aku gila gara-gara kamu dan ibumu!!" Violet berteriak histeris dengan pistol terus teracung ke arah wajah Jihan.
"Kamu harus membayar semuanya, Luna. Kamu dan keluargamu ... juga dia!" Violet mengarahkan pistol ke arah Barra.
"Kalian kira bisa menipuku hah! lihatlah sekarang, kalian sebentar lagi akan bersama-sama pergi dari dunia ini."
"Vio, sebaiknya kamu pergi ke rumah sakit. Kamu bisa kehilangan bayimu!" Jihan mencoba menenangkan Violet yang sudah seperti hilang kewarasannya.
"Untuk apaa?? bagusnya dia mati saja, toh ayahnya juga sudah mati." Violet melirik ke arah tubuh Baron yang tergeletak di lantai bermandikan darah. Ia tertawa sekaligus menangis dalam satu waktu.
__ADS_1
"Aku sangat membencimu, Luna. Kamu mendapatkan semuanya! Tuan Jose, yang seharusnya menjadi ayahku! ibumu merebutnya dari ibuku! dan aku membalasnya dengan merebut orang yang kamu cintai ... bagaimana rasanya, Lunaaa??" Tangan Violet yang memegang pistol terangkat siap menarik pelatuk yang siap memuntahkan timah panas dan akan menembus kepala Jihan.
...❤🤍...