Magic Forest [Hutan Ajaib]

Magic Forest [Hutan Ajaib]
Maafkan Glaricia Bu..[BAB 34]


__ADS_3

pagi hari telah tiba, Glaricia sedang berada di meja makan bersama dengan ibunya, yang sekarang tepat berada di hadapan Glaricia.


sedari tadi Glaricia tidak banyak bicara seperti biasanya, atau bahkan bertanya tentang ayahnya, tapi sekarang dia malah diam, entah apa yang dia pikirkan. yang jelas hal itu membuat ibunya merasa khawatir, setelah malam tadi dia bilang bermimpi buruk, dan pagi ini tingkahnya jauh berbeda dari biasanya, sebenarnya ada apa dengan Glaricia. mungkin kira-kira seperti itu yang di pertanyakan ibunya dalam hati.


.


.


.


selesai sarapan, Glaricia langsung pergi tanpa berbicara apapun pada ibunya, tentu hal itu benar-benar aneh untuknya.


saat Glaricia hampir ke luar untuk berangkat sekolah, ibunya menghentikannya terlebih dahulu dengan alasan bahwa dia membuatkan bekal makanan untuk anaknya itu. tapi di sela sela ucapan itu ibunya bertanya tentang keadaannya.


"ibu lihat dari tadi kamu diam saja, ada apa?. jika Glaricia punya masalah bilang saja sama ibu.. yah, ini kan ibu mu bukan ibu orang lain" katanya sambil menaruhkan bekal makanan yang dia bawa tadi dari dapur ke dalam tas Glaricia.


"kalo Glaricia gini terus, ibu bakalan khawatir juga takut, jika Glaricia kenapa-kenapa ibu bakalan sangat-sangat sedih" katanya sambil membuat wajah sedih dan memelas, berharap Glaricia akan menceritakan semua masalah yang dia punya, tidak mungkin, bukan masalah tapi sebuah rahasia, yah dan dimana rahasia itu tidak boleh banyak orang yang mengetahuinya.


selesai memakai sepatu dia berdiri dan berbalik untuk melihat wajah ibunya itu.


"ibu ngga perlu khawatir, Glaricia ngga papa kok, lagian beberapa tahun lagi Glaricia akan menjadi gadis remaja, jadi Glaricia harus bisa menjadi wanita yang baik seperti ibu dan menyelesaikan masalah sendiri" katanya, lalu mengusap kepala ibunya yang memang saat itu dalam posisi duduk agar sejajar dengan anaknya itu.


saat akan berangkat barulah dia mencium pipi ibunya itu lalu tersenyum, setelahnya dia melangkahkan kakinya menuju jalan yang tidak banyak kendaraan yang lalu lalang itu menuju sekolahnya.


.


.


.


di sekolah


bel istirahat telah berbunyi, Glaricia sekarang sedang berada di kantin bersama dengan James dan kedua teman James disana.


dia tidak memesan apapun kecuali minuman es dia sangat ingin minum es, dan sekarang dia mempunyai minuman es susu di hadapannya itu, tapi dia tidak menyentuhnya sama sekali.


pada akhirnya James yang melihat Glaricia seperti itu ikut khawatir seperti apa yang ibu Glaricia lakukan padanya pagi tadi.


"Cia kamu ngga papa?" tanyanya, Karena Glaricia sedari tadi hanya bengong saja tanpa menyentuh bekal dan minuman es susunya itu.


"ngga papa kok" katanya tapi masih dengan ekspresi bengongnya yang terlihat oleh James dan teman temannya itu.


"ngga papa apanya? wajah mu saja tidak bisa bohong!" kata James, wah James seperti sudah sangat kenal Glaricia yah, bahkan dia tahu kalau wajah Glaricia gak pernah bisa bohong kalo dia punya masalah, bukan kah dia teman sejati yang sangat sejati, eh atau malah lebih dari teman nantinya? haha siapa yang tahu kan...?.


Disana Glaricia hanya menghela napasnya kasar, dia hanya diam memandangi James yang ada di hadapannya itu, James yang di pandangi bertanya-tanya eh apakah aku salah, atau aku memang salah bertanya soal ini?, kira-kira seperti itulah batin James saat Glaricia terus saja memandanginya.


"James..." panggilnya, membuat James menoleh ke arahnya, padahal tadi dia asik bercanda dengan kedua temannya itu.


"kenapa?" katanya langsung menanggapi panggilan dari Glaricia.


"menurut mu aku salahkah? atau aku memang berdosa, kau tau aku selalu berbohong soal apa yang tidak ibu ketahui dari ku, jadi apa aku salah dari situ" katanya sambil memandang ke bawah tanpa menatap James dan teman teman.


melihat itu James langsung duduk di samping Glaricia dan mengusap punggung belakang Glaricia.


"kamu salah, karena kamu telah berbohong pada ibu mu, jika kamu memang ingin terus merahasiakannya bukankah itu juga akan menjadi sebuah masalah untuk mu" kata James, saat itu tatapan mata James begitu lembut, Glaricia yang melihat itu merasa bersalah dan disanalah dia, yah disana, dia juga menangis di hadapan James dan teman temannya.


melihat Glaricia menangis James mulai merasa bersalah karena telah membuat Glaricia mengeluarkan carian bening dari kedua matanya itu.

__ADS_1


"Glaricia!? hey hey kenapa kamu menangis?" kata James kalang kabut saat dia ingin menenangkan Glaricia, tapi Glaricia malah tambah menangis semakin kencang dan kencang.


setelah itu banyak anak murid sekolah yang di kantin melihat Glaricia dan James seperti menatap kesal dan ada juga yang menatap aneh ke kedua orang itu. sampai akhirnya seorang ibu guru datang menghampiri Glaricia yang terus menangis itu.


"ehhh adik, kamu kenapa?" katanya sambil memeluk Glaricia.


"dia kenapa ini?" tanya ibu guru itu pada James, disana James hanya menjawab dengan sebuah gelengan kepala dan sedikit kedua bahu terangkat lalu turun kembali.


"haah, yaudah kamu ikut ibu guru yah, kamu tenangin diri kamu dulu" katanya sambil membawa Glaricia ke suatu tempat untuk menenangkan Glaricia.


.


.


.


dalam kantor ruangan pribadi guru itu, Glaricia berada disana oh yah ternyata ibu guru itu adalah adik dari kepala sekolah yang sedang melihat-lihat sekolah itu, makanya Glaricia juga ngga kenal dia.


"kamu udah ngga papa dik?" tanyanya pada Glaricia yang sedang menghapus air matanya yang mengalir di pipinya itu.


"ngga apa bu" katanya dengan suara serak sehabis menangis.


"yaudah kalo ngga papa, kamu duduk dulu aja disini yah, ibu guru ambilin minum sebentar" katanya, lalu langsung di jawab dengan sebuah anggukkan kepala Glaricia.


tak berapa lama ibu guru itu datang sambil membawa air, dan memberikannya pada Glaricia yang langsung menerima air itu dan meminumnya dengan pelan.


setelah selesai disana, Ibu guru itu langsung mengajak bicara Glaricia.


"siapa nama mu?" katanya pada Glaricia dan menatapnya dengan intens.


"aku Glaricia, kakak sendiri?" kata Glaricia langsung menatap kakak itu.



"nama kakak Evellin, itu sangat bagus" kata Glaricia kegirangan mendengar nama sebagus itu. tapi dia lebih terkejut saat melihat warna rambut kakak itu.


"kenapa?" tanya kakak itu pada Glaricia, yang dimana dia seperti terkejut melihat sesuatu.


"rambut kakak!, apa itu asli? warnanya bagus sekali?" kata Glaricia masih dengan mulut terbuka, saking kagumnya dia dengan warna rambut kakak Eve.


"ini asli kok... baru kali ini ada seseorang yang menyukai rambut kakak" katanya sambil menundukkan kepalanya.


"emang biasanya?" tanya Glaricia yang penasaran dengan hal itu.


"eum.. yah biasanya banyak yang bilang rambut kakak ini aneh dan jelek, bahkan katanya ini rambut yang tidak boleh di miliki" katanya sambil terus tersenyum, seperti menerima keadaannya yang seperti itu.


Glaricia yang sangat peka terhadap ekspresi seperti itu dia paham, bahkan sekarang dia memegang lengan kak Eve dan mengusapnya dengan lembut lalu berkata.


"eumm.. (sambil menggelengkan kepalanya).. itu tidak benar, rambut kakak ini cantik mereka yang berkata seperti itu hanya iri pada kakak" katanya sambil tersenyum menatap Kak Eve di depannya itu sekarang ini.


"haha.. hah makasih yah, kakak udah menerima keadaan kok, lagian kakak juga udah mulai suka sama rambut ini,.. eumm terus tadi kenapa kamu nangis?" tanyanya pada Glaricia.


"tadi aku nangis karena aku selalu berbicara bohong pada ibuku" katanya lalu kembali menunduk, tapi saat Evellin akan mengatakan sesuatu ucapannya terpotong dengan pertanyaan Glaricia.


"apa aku salah berbohong pada ibu kak?" katanya dengan polosnya, Kak Evellin yang melihat itu hanya diam saja memandang Glaricia yang terus menatapnya.


"tentu saja itu salah, seharusnya kamu ngga boleh bohong kayak begitu, kamu pasti tau kalau berbohong itu di larang kan?" katanya.

__ADS_1


"tapi rahasia ini tidak boleh di ketahui oleh siapa siapa kak, jadi aku harus bohong sama ayah dan ibuku, kalu tidak ini bisa membahayakan" kayanya lalu menatap lengket mata kakak Evellin.


"baiklah, tapi setidaknya kamu ceritakan dan meminta maaf pada ibu mu, aku rasa ibu mu juga mengetahui hal ini" katanya sambil mengusap pucuk kepala Glaricia.


"eum baik kak, aku akan bicara pada ibuku nanti saat pulang sekolah" katanya sambil tersenyum dan bangkit dari duduknya.


"makasih yah kakak Eve udah kasih saran pada ku" katanya seperti orang dewasa.


selesai dari sana Glaricia langsung memasuki ruangan kelasnya, disana sudah ada seorang guru biologi yang sedang mengajar, dan dia juga langsing menyuruh Glaricia untuk duduk sesegera mungkin.


.


.


bel pulang berbunyi.


sekarang Glaricia sedang berada di rumahnya bersama dengan sang ibu yang ternyata untuk hari ini dia di liburkan untuk 3 hari saja.


"ibu?" kata Glaricia pada sang ibu yang sekarang tengah membuat makan siang.


"eumm?" sahut ibunya itu, yang masih dengan memotong bawang.


"ibu aku minta maaf, tadi pagi aku terus diam tanpa banyak berkata pada ibu, itu karena aku terus memikirkan mimpi ku saat malam tadi". katanya dengan wajah malas, dan sedikit mengeluarkan air mata di pipinya itu.


"lalu sekarang kamu mau bicara apa pada ibu?" katanya menatap Glaricia yang akan menangis itu.


"soal mimpi itu, aku takut membicarakannya pada ibu" katanya memegangi ujung baju yang dia kenakan itu.


"kenapa?" tanyanya merasa sangat ingin tahu.


"di mimpi ku ibu meninggal" katanya berbicara perlahan lahan tapi masih tetap terdengar oleh ibunya.


mendengar itu Gloria langsung mendekat kepada Glaricia dan memeluknya dengan erat dan terdiam disana begitu juga Glaricia yang terkejut dengan pelukan sang ibundanya.


"maaf sayang, maafkan ibu, ibu pikir kamu kenapa terus terdiam sedari tadi pagi" katanya tiba-tiba menangis di pelukan Glaricia, Glaricia juga sama dia menangis di pelukan ibunya itu.


setelah tangisan mereka berdua sudah reda mereka saling menatap dan tertawa kecil di kala mereka bertatpan satu sama lain.


"hahah... yasudah ibu masak makan siang dulu yah" katanya pada Glaricia


"iyah, kalo gitu aku bakal ke kamar mau selesain tugas sekolah ku dulu" katanya lalu pergi dari sana setelah melihat sebuah anggukan dari kepala sang ibunda.


.


.


.


memang benar, jika kita memiliki masalah pada seseorang apa lagi orang terdekat, bukannya menyelesaikan masalah itu dengan diam-diaman saja, tapi kita harus membicarakannya agar kita tau bahwa masalah itu akan cepat selesai jika kita saling memahami satu sama lain, saat kita berbicara.


...****************...


...*********...


...****************...


...oke sampai sini dulu semoga kalian suka sama ceritanya...

__ADS_1


...like, komen, subscribe, vote sama sahre juga biar banyak yang baca...


...love yu guys makasih buat yang baca+like 💙...


__ADS_2