![Magic Forest [Hutan Ajaib]](https://asset.asean.biz.id/magic-forest--hutan-ajaib-.webp)
setelah kejadian tadi, banyak ibu yang mulai tidak membiarkan anak anaknya untuk pergi ke luar rumah pada saat malam hari, dan kebanyakan sekarang semua orang percaya pada perkataan Glaricia De Sacy, mulai dari kejadian tadi kemarin malam itu semua orang tiba-tiba menjadi percaya pada Glaricia.
dan sekarang banyak sekali mereka para orang tua terutama para ibu bertanya pada Glaricia tentang bagaimana kedepannya, akankah menjadi lebih baik atau akan semakin memburuk.
tapi dari situ Glaricia tidak berbicara apapun dia hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan para ibu itu. dan malah pergi dari sana karena di tarik oleh teman temannya saat bermain siang itu.
.
.
.
"kamu sekarang terkenal yah di kalangan ibu" kata James dan di sambut dengan gelak tawa Teman temannya yang sering jahil pada Glaricia.
"haah siapa juga yang mau di kenal ibu ibu seperti itu, mereka bermuka dua, sebelumnya aja ngga percaya, sekarang malah percaya" keselanya saat itu.
disana mereka sedang bermain kelereng, Glaricia belum pernah menang sama sekali bermain permainan itu, awalnya dia tidak suka main itu, tapi karena di paksa terus oleh James akhirnya dia pun ikut main bersama mereka di lapangan itu.
lemparan pertama di menangkan oleh Zeyyan Le Eden dia adalah anak dari seorang pengusaha ternama, dia hidup bagai seorang pangeran dalam cerita dongeng sama seperti Erica, hanya saja yang membedakannya Erica selalu di kekang dan harus bermain dengan anak yang setara dengannya. sedangkan Zeyyan di bebaskan untuk bermain dengan siapapun, tak ada tuntutan dalam berteman, bergaul, dan berperilaku. tapi dari hal itu buruk juga untuk perilakunya di rumah atau di luar rumah apalagi kalo dia punya teman teman yang nakal. tapi untungnya dia tidak pernah memiliki teman yang nakal seperti itu.
putaran kedua di menangkan oleh James dan Ketiga oleh teman James yaitu Tomy Cox Prey anak dari seorang masinis kereta api dan ibunya adalah seorang guru bahasa asing. jadi jangan salah sangka kalau dia pandai berbicara berbagai bahasa.
dan putaran ke empat di menangkan Glaricia, karena dia baru pertama kali bermain kelereng dan itu sangat sulit baginya, terkadang dia juga bermain layang layang dengan bentuk layangan nya berupa bintang, karena dia suka dengan bintang yang dia pandangi itu.
"akkhh aku kalah lagi dari kalian, ini tidak adil, kalian pasti curang kan?" tuduhnya, karena saking kesalnya di selalu kalah terus saat bermain bersama mereka bertiga.
"itu kan karena kamu ngga bisa Glaricia" kata Tomy, dia adalah seorang pria sejati, dia tidak pernah menyakiti wanita dan tutur katanya selalu saja baik saat berbicara dengan seorang wanita, ibu dan ayahnya tidak pernah salah untuk membesarkan anak, bahkan kakak pria nya tumbuh dengan baik dan adik perempuannya menjadi gadis yang sopan dan menjaga sikap juga atitude.
"benar, kenapa kamu jadi salahin kami, kan itu salah mu yang ngga bisa main, bukan salah kami yang jago ini" kata Zeyyan, dengan sombongnya dia, meski begitu Glaricia tidak marah karena memang dia selalu seperti itu, tapi terkadang jika dia berlebihan menyombongkan diri, maka disana tinju Glaricia tidak akan tinggal diam.
"hahhaha sudah tuh sudah, disini kita tidak peduli siapa yang menang siapa yang kalah, disini kita bermain hanya untuk senang senang saja, soal menang kalah tidak perlu di pikirkan oke" kata James, dan ini lah dia seorang pria kecil dengan kedewasaan yang sudah lama melekat dalam dirinya, menjadikan dia sebagai seorang penengah di kala mereka bertengkar.
"aku tau, yah tapi aku kesal sekali harus kalah terus sama kalian, aku juga kam mau sesekali menang melawan kalian" kata Glaricia cemberut.
__ADS_1
mereka bertiga disana bukannya merasa bersalah tapi mereka malah menertawakan Glaricia, karena dia lucu.
lucu karena dia selalu seperti itu seperti tsundere, sikapnya gampang berubah tergantung kondisi di sekitarnya.
"hey kalian aku mau pulang, kalian mau mampir kerumah ku atau ngga?" tanya Zeyyan dan langsung di jawab anggukan oleh James dan Tomy, kecuali Glaricia. disana dia hanya diam menatap mereka dan menggelengkan kepalanya.
"loh kenapa Cia?" tanya James dan dia mencoba meyakinkan Glaricia untuk ikut.
"aku gak bisa untuk hari ini, sepertinya aku harus pulang, dah semuanya lain kali kita main lagi" kata Glaricia lalu pergi dari sana.
mereka bertiga hanya menatap Glaricia dengan tatapan biasa, tapi merasa seperti kehilangan sesuatu, yah meski begitu hal seperti itu tidak menghalangi mereka untuk bermain di rumah Zeyyan.
.
.
.
di rumah Glaricia, lebih tepatnya di belakang rumahnya.
"ya ini masih siang, nanti akan ada yang melihat mu bagaimana?" kata Glaricia. tapi Ben tetap maju mendekat Glaricia dan memeluk Glaricia.
"hey ada apa?" katanya sambil terkejut saat Ben memeluk Glaricia dengan ttiba-tiba.
Ben disana diam tidak menjawab dan tiba-tiba menangis di bahu Glaricia, Glaricia yang mendengar itu panik, dan berusaha menenangkan Ben disana.
"hey sudah sudah, nanti ketahuan yang lain. kalo gitu kamu masuk dulu yuk, bicara di kamar ku" kata Glaricia mengajak Ben untuk berbicara dengannya di kamar miliknya.
karena ibunya kebetulan sedang keluar jadi dia merasa ngga masalah kalo Ben berada di kamarnya dulu untuk saat ini. tapi saat di kamar Ben malah diam saja tidak bicara sesuatu padanya.
"Ben ada apa?, aku takut kalo kamu kayak gini terus" kata Glaricia.
Ben menatap lemah di hadapan Glaricia, dan dia kembali menunduk saat melihat tatapan mata Glaricia yang begitu khawatir, dan perlahan dia mencoba meyakinkan dirinya untuk bercerita pada Glaricia.
__ADS_1
"Jadi sebenarnya" kaya Ben terhenti sebentar.
"suku ku di serang oleh penyihir kemarin malam, dan banyak yang meninggal dari serangan penyihir itu, kakek kepala suku Alni sekarang sedang tidak baik-baik saja, kami disana merasa bingung harus bagaimana, beberapa minggu lagi nyanyian siren akan terdengar dan para penyihir pasti akan gila untuk mencari anak anak, aku takut Cia aku takut, meski ini hanya terjadi sekali dalam setahun tapi satu bulan rasanya itu sangat lama, aku harus bagaimana sekarang" katanya sambil menangis disana.
Glaricia yang melihat itu merasa khawatir tapi dia juga bingung harus melakukan apa, dan pada akhirnya dia hanya diam membiarkan Ben meredakan tangisannya sendiri itu.
.
.
selesai menangis, dia kembali tenang, dan Glaricia memberi sebuah saran pada Ben yaitu agar dirinya ikut kesana dan melihat keadaan di hutan ajaib seperti apa? dan bagaimana tempat lainnya.
disana Ben diam, karena dia bingung, masalahnya Glaricia manusia biasa, apa dia bisa memiliki sihir dan membantu mereka, bahkan Ben masih ragu dengan hal itu.
pada akhirnya mereka hanya diam-diam saja sampai sebuah pintu rumah terbuka.
"oh ibu ku pulang!!, Ben kau sembunyilah dulu, aku takut ibu akan melihat mu nanti dan itu bisa gawat" katanya gelagapan dan bingung harus membuat Ben sembunyi dimana, tapi saat itu Ben malah berubah menjadi seekor kucing dan Glaricia malah lebih terkejut dari saat dia melihat Ben seperti manusia.
"sayang" panggil ibu Glaricia saat membuka pintunya. refleks Glaricia langsung menoleh ke arah ibunya itu dan berkata "ah iyah, ada apa?" katanya, karena kaget dia membuat kedua tangannya mengarah ke belakang seperti sikap istirahat dalam biasa upacara di lapangan.
"malam ini ibu ada panggilan di rumah sakit, jadi ibu harus kesana, kamu ngga papakan sendirian" kata Gloria ibu Glaricia
"ngga papa kok bu, aku baik-baik aja di rumah sendirian" katanya sambil tersenyum manis
"baiklah kalau begitu, maaf yah sayang, oh yah siang ini kamu mau makan apa, ibu buatkan makanan kesukaan mu" katanya lalu pergi menuju dapur.
"aku mau steak sapi bu sama kari ayamnya boleh yah" katanya dengan semangat.
"oke"
disana Glaricia sangat lega setelah ibunya pergi dari kamarnya itu dan memilih memasak makan siang untuk mereka berdua atau bertiga.
setelah selesai itu, bukannya Ben berubah dia malah tetap menjadi kucing, karena dia takut ibunya akan masuk ke dalam kamar Glaricia lagi.
__ADS_1
"menurut ku ide ku bagus Ben, siapa tau jika aku pergi kesana maka aku akan mendapatkan energi spiritual dalam tubuhku dan bisa menggunakan sebuah sihir, sihir apapun itu" kata Glaricia, lalu dia berbaring di atas kasur dan menatap langit kamarnya lalu sedikit memejamkan matanya bersama dengan Ben yang berada di samping tubuh Glaricia.