Magic Forest [Hutan Ajaib]

Magic Forest [Hutan Ajaib]
Bandit Itu Mudah [BAB 47]


__ADS_3

pagi harinya, mereka sudah di suguhkan dengan beberapa makanan dari kepala suku Ghus namanya Nirwanyan, dia memiliki tubuh tinggi dan sangat besar, otot otot di tangan kaki dan tubuhnya begitu besar hingga dia di jadikan sebagai kepala suku, dan penerusnya harus memiliki tubuh seperti dirinya, tidak hanya pria, wanita disana juga memiliki tubuh yang tinggi dan juga otot tubuh yang bagus, itulah tubuh si Pemangsa Handal.


"bagaimana malam kalian disini?" tanya istri kepala suku itu.


"kami disini sangat baik, dan disini sangat nyaman" kata Daniel


"kapan kapan, kalian mampirlah lagi, kami senang kepala suku pengganti suku Alni berada disini, dengan begitu kita bisa saja melakukan perdamaian dengan baik" kata si Kepala suku itu, sedang istrinya hanya tersenyum.


mereka juga tersenyum untuk bentuk penghormatan kepada Kepala Suku Ghus yang mencoba untuk bercanda.


selesai sarapan, mereka berpamitan untuk segera berangkat menuju sekolah sihir itu, tapi sebelumnya.


"ini hadiah dari kami, daging ini tahan beberapa minggu jika kalian lapar makanlah ini dengan baik" ucap kepala suku itu.


"ah terimakasih tuan Nirwanyan, saya sangat menghormati pemberian anda" kata Daniel menerima daging besar itu, dan menaruhnya di cincin penaruh barang itu.


saat mereka akan segera berangkat, seseorang memanggil mereka, lebih tepatnya memanggil Steve.


"Heeyyy" teriaknya, langkah mereka berenam pun terhenti kala seseorang itu berteriak.


dan dia Izekiel pria yang Steve temui semalam itu sekarang berada di hadapannya, bernafas dengan cepat karena kelelahan berlari.

__ADS_1


"ini aku berikan panah milik ku, dan kekasih ku mengiyakannya untuk memberikannya pada mu, dan terimakasih untuk semalam, karena ucapan mu aku jadi senang, kau benar dia selalu ada disisi ku setiap malam, dan terimakasih untuk semuanya, dan siapa nama mu?" katanya sambil bertanya nama Steve


"Steve itu nama ku" katanya lalu berterimaksih kepada Izekiel dan pergi dengan keempat saudaranya dan juga Glaricia yang ada di dekat mereka itu.


di perjalanan itu...


"tadi itu teman baru mu Steve?" tanya Glaricia pada Steve yang memang sekarang berada di bagian belakang bersama dengan Hakai


"iyah, kenapa memangnya?" kata Steve


"tidak papa, aku hanya senang kau berteman dengan salah satu orang suku Ghus" katanya kemudian jalan berada di samping Daniel.


disana tidak ada percakapan apapun, semua diam dan fokus berjalan menuju sekolah sihir di Barat Laut.


sampai di sebuah padang rumput luas, Daniel sedikit berhati-hati, dan yang lainnya juga, sedang Glaricia tidak tahu apa-apa jadi dia hanya diam saja disana melihat sekeliling.


"kenapa kalian begitu berhati-hati?, apa ada sesuatu?" tanya Glaricia pada mereka.


"disini biasanya ada banyak bandit bandit yang berkeliaran, mulai dari bandit terbang dan seperti pemangsa" kata Daniel, dia berjalan dengan santai tapi begitu was was terhadap sekitarnya.


"oh seperti mereka?" tunjuk Glaricia yang memang di hadapan sana sudah ada beberapa Gerombolan bandit yang menunggu mereka.

__ADS_1


"mau putar arah?" tanya Steve pada mereka semua.


"mereka hanya bandit, kalian tinggal bunuh saja apa masalahnya" kata Glaricia dengan santainya.


"kau tidak lihat Glaricia, mereka membawa banyak senjata belum sihir mereka" kata Steve yang memiliki penglihatan tajam.


"berikan panah mu?" kata Glaricia


Steve memberikannya meski dia bertanya pada Glaricia "untuk apa?", hanya saja Glaricia tidak menjawabnya dan memilih mencoba Panahan itu, wushh panah itu berhasil menumbangkan salah satu bandit disana, mereka terkejut begitu juga teman teman si bandit itu.


"bagaimana bisa?" kata Ben.


"tentu saja bisa, aku kan selalu berlatih Panahan bersama ayah ku disana, aku juga di ajari oleh seseorang dari suku Alni" katanya.


saat itu satu panah dua panah berhasil mengenai orang orang disana, Glaricia mencoba menggabungkan sihirnya dengan panah itu dan keluarlah panah dengan ujung anak panah itu yang memiliki Api, dia tembakan itu pada mereka dan pasang rumput itu terbakar, para bandit disana mulai berlarian entah kemana mereka pergi.


"sudah aman" kata Glaricia sambil menjentikkan jarinya dan api pun mereda.


"kau hebat Glaricia" kata Hakai pada Glaricia


"ini karena Ben sangat kerah melatih ku, aku juga tidak ingin terkalahkan oleh siapapun disini, atau bahkan di sekolah sihir nanti" katanya, lalu berjalan mendahului Daniel dan juga ke empat saudaranya.

__ADS_1


mereka berlima hanya saling memandang satu sama lain, lalu mengejar Glaricia yang sudah sedikit jauh dari mereka.


kini perjalanan mereka sudah aman dan tidak ada halangan apapun lagi.


__ADS_2