Magic Forest [Hutan Ajaib]

Magic Forest [Hutan Ajaib]
Comeback [BAB 57]


__ADS_3

selesai sudah mereka dengan pembelajaran di akadami sihir, Glaricia dan lainnya kini berpamitan dan pergi dari sana menuju rumah mereka.


tak ada halangan di setiap jalan yang mereka tempuh, yah meski hanya sedikit saja tapi itu sudah bagus. bulan merah akan terjadi tak berapa lama dari hari ini menuju hari hari berikutnya.


semua orang sudah merasakan ketakutan bulan merah di hari hari akan datangnya ini, Glaricia dapat merasakan aura mencekam sebelum bulan itu benar benar datang.


"apa kalian tahu soal darah di bulan merah?" tanya Glaricia pada mereka berlima.


"darah bulan merah, itu adalah tumpahan darah yang terjadi pertarungan antara suku melawan suku lain, kami selalu mempertahankan kawasan kami, tapi kami juga harus menyerang kawasan lain" jawab Daniel.


"kenapa harus begitu?" tanya Glaricia


"daerah Suku Alni sangat bagus untuk makanan, dan kehidupan, Air yang jernih, makanan yang banyak dan cahaya yang terang" jawabnya lagi.


"dengan permata juga banyak yang mengincarnya, suku suku pedalaman seperti kami menginginkan permata itu untuk sihir dan kehidupan di dalam suku, bahkan para penyihir menginginkan permata itu untuk menambah sihir mereka, jadi itulah mengapa Suku kami selalu saja di serang" ucap Terry.


"banyak juga yang membenci suku Alni, hanya karena permata itu, awal aku mengira. permata itu adalah sebuah kutukan bagi kami, kenapa? karena selalu membawa ancaman bagi orang orang suku, tapi seiringnya waktu berlalu, kami sadar bahwa ini adalah kekuatan kami, sumber kehidupan bagi suku Alni, suku yang terkenal dengan kesuburan tanahnya, dimana pun kami tinggal tanah yang kami pijak pasti selalu subur, dan itu semua karena permata itu" ucap Steve, bahkan air matanya sedikit terbendung di matanya itu.


"kau cengeng Steve" ucap Hakai mengejek

__ADS_1


"apa kata mu...." marah si Steve karena ucapan Hakai.


"kamu sudah dewasa, kenapa tetap menangis seperti itu, pantas tidak ada wanita yang ingin dengan mu" kata Hakai.


"hey Hakai, coba kau lihat dirimu dulu, memang ada yang mau sama pria seperti mu, sudah dewasa tapi tingkah masih kanak kanak, huuhh memang ada hah?!!" ucap Steve dengan kesal.


"pastinya ada dong" jawab Hakai percaya diri


"coba buktikan, aku butuh bukti" kata Steve


"tunggu nanti setelah pertarungan" kata Hakai


"apa?, memang benarkan" katanya percaya diri.


Glaricia yang mendengar itu hanya tersenyum, tadinya menatap Ben dengan senyuman kini memandang kedepan dengan raut wajah yang suram.


"tapi aku menyukai seseorang, aku tidak berpikir kita akan bersama nanti" ucap Ben, sambil menatap Glaricia


Terry pun yang mendengar itu, memandang Ben dan sedikit merasakan sakit di dadanya saat Ben berkata tadi dengan mata menatap Glaricia.

__ADS_1


Hanya Daniel yang tersenyum menatap itu, dia senang bahwa Saudara saudara nya baik baik saja, dia ingin kebahagiaan ini terus berlanjut antara mereka berlima dan Glaricia.


"yasudah mau bagaimana pun, kita pasti memiliki orang yang ingin kita lindungi, meski kita berbeda, selagi ada rasa sayang itu kita pasti menginginkan orang itu baik-baik saja" ucap Daniel memegang Bahu Glaricia


Glaricia tersenyum mendengar ucapan Daniel tadi, memang ada benarnya bahwa karena rasa sayang kita ingin melindungi mereka, dan karena itu kita ingin orang itu baik-baik saja.


"sebentar lagi kita sampai" beritahu Terry pada mereka semua.


dan semua sudah bersiap siap untuk melawan para penyihir itu, dengan kekuatan sihir mereka.


tegang?, tentu saja, tapi mereka susah berlatih di akademi sihir dan mendapatkan sihir baru yang mereka kuasai, tidak mungkin mereka tidak menang bukan?...


.


.


.


selanjutnya, nantikan bagaimana kemenangan Glaricia dan mereka berlima melawan para penyihir.

__ADS_1


please, like, komen, subscribe ny


__ADS_2