![Magic Forest [Hutan Ajaib]](https://asset.asean.biz.id/magic-forest--hutan-ajaib-.webp)
sampai di rumah, para suku Alni sudah menunggu mereka untuk pulang kembali kerumah mereka.
langsung saja bertemu dengan pemimpin kepala suku, dan memberikan sebuah kotak itu pada kepala suku dan membiarkannya berada di samping kepala suku.
"buka kotak itu" suruh Glaricia
Daniel pun mengikuti ucapan Glaricia dan saat itu juga cahaya yang begitu lembut dan tidak terlalu menyilaukan menyentuh kulit kepala suku, bagai memberikan sebuah nyawa untuk kepala suku, tubuhnya yang tadinya dingin kini sudah menjadi hangat kembali, terlihat nafasnya juga sudah teratur.
tak lama kemudian kepala suku itu sadar dari tidur panjangnya, bermandikan dengan sebuah cahaya lembut saja dia sudah kembali sembuh, menjadi sedia kala seperti sebelumnya.
"kalian" ucap kepala suku itu dengan suara serak.
"ambil minum Ben" suruh Daniel
Ben pun mengambil air minum untuk kepala suku.
"ini Daniel" katanya lalu memberikannya pada Daniel
"minumlah dulu Kakek" memberi air minum itu untuk kepala suku.
"makasih ben" ucap Daniel
"sama sama" jawabnya
"sudah enak kek" tanya Daniel
"yah, terimakasih banyak sudah membantu ku" katanya.
"semua ini berkat Glaricia dengan kota sihir ini" kata Daniel
"dewi pelindung Glaricia" ucap kepala suku itu.
semua yang melihat itu sedikit terharu dengan hasil yang di berikan Glaricia terhadap suku Alni, dia banyak membantu dan sangat mengagumkan.
"ini bukan apa apa, selagi penyihir masih berusaha untuk mengambil permata kalian, aku tidak akan bisa pergi dari sini, aku akan terus melindungi tempat ini dengan sekuat tenaga ku, oh dan ini adalah daun telaga untuk anda, masaklah dan minumlah air itu, maka sihir anda akan segera pulih." ucap Glaricia, sambil memberikan daun telaga itu kepada kepala suku.
"saya tidak dapat membantu banyak untuk kalian" ucap kepala suku Alni.
"tidak, anda sudah membantu kami, dengan mendaftarkan kami ke akademi sihir, kami dapat memperoleh berbagai banyak bentuk sihir, meracik ramuan dan lain sebagainya, itu juga sangat penting dalam pengelolaan sihir kami, kepala suku kami ingin berterima kasih, dan saya pun berterima kasih pada anda, karena anda sudah bertahan hingga saat ini" ucap Glaricia lalu duduk bagai menghormati seorang raja.
"oh ini tidak apa, saya sangat senang, saya yakin kalian pasti bisa membantu ku untuk kembali hidup dan melawan penyakit ini" kata kepala suku itu.
"dengan senang hati tuan" ucap Glaricia.
.
.
setelahnya, perayaan atas kembalinya mereka dilaksanakan dengan satu haru satu malam, banyak orang orang suku Alni bahagia dan tertawa dengan hal itu.
.
.
.
selang beberapa hari perayaan yang bahagia itu sudah terlewati, kini tengah hari dimana para suku dalam rumah masing-masing, mereka tidak berani untuk keluar meski siang hari, Glaricia pun makin merasakan aura yang menyesakkan nafasnya.
"kita pasti bisa melawan mereka" ucap Glaricia memandangi langit biru berawan itu.
"malam nanti bulan merah tiba, aku percaya pada kita semua Glaricia" Ben suara itu adalah miliknya.
"Ben" ucap Glaricia
"kita bersama sama pasti bisa melawan mereka" ucapnya menyemangati Glaricia
"eum" jawab Glaricia
"Glaricia?, boleh aku mencium mu" tanya Ben pada Glaricia
Glaricia menatap mata Ben, lalu mengiyakan pertanyaan Ben, dengan ciuman lembut itu Ben merasa tenang kembali.
__ADS_1
"aku benar benar gemetar saat memikirkan untuk melawan mereka" kata Ben
"kau bilang kita bersama sama akak bisa melawan mereka" ucap Glaricia
"itu benar" kata Ben
"lalu? kenapa kau berpikir sempit begitu hum?, kita bisa dan pasti bisa, jika sudah begitu tidak mungkin kita gagal kan" katanya
"kau benar" ucap Ben
.
.
.
.
tepat saat malam harinya, Bulan merah tiba, di pertengahan malam para penyihir datang dengan teriakan dan jeritan mereka, membuat semua orang ketakutan.
"hehehe, kalian akan kalah di tangan kami" ucap salah satu penyihir itu.
"kita lihat saja nanti" ucap Glaricia
mereka saling menatap satu sama lain, setelah beberapa menit penyihir itu menyerang terlebih dahulu, nyanyian siren mulai terdengar dari laut Selatan, begitu nyaring hingga membuat keadaan itu menjadi lebih mencekam.
"hiyak, Arpegus octopvius" mantra sihir penyihir itu.
"Megasus Arkekus" mantra sihir Glaricia
Sihir mereka sama sama membentang antara langit dan bumi, warna ungu dan hijau yang begitu terang.
("pemimpinnya, ini begitu kuat, jika aku lihat kembali sihir mereka tidak sekuat pemimpinnya, jumlah mereka juga tidak terlalu banyak") batinnya.
"ada apa?, apa kau takut hehehe" ucap Pemyihir itu kegirangan.
semua orang tengah bertarung mempertahankan pohon permata tempat mereka menanamnya.
dan di angguki oleh semua saudara saudaranya.
pertarungan terus berlanjut hingga sebagian dari para penyihir tumbang.
saat itu salah satu sihir penyihir menuju pohon permata mereka, Ben yang melihat itu langsung menghalanginya dengan tubuh nya itu, alhasil tubuhnya terkena sihir penyihir tadi dengan kesakitan di dalam dirinya dia mencoba menahannya.
"Ben kau tidak papa?" tanya Terry pada Ben
"aku tidak papa" jawab Ben bangkit dari jatuhnya.
peperangan sihir masih terus berlanjut, Ben dengan sakitnya itu terus menahannya sampai sampai dia muntah darah dan membuat semua orang langsung khawatir padanya.
"Ben!!" teriak ke empat saudaranya itu
Glaricia yang mendengar pun langsung berlari menuju Ben, terlihat disana Ben terkapar tidak berdaya, dia menahan sihir itu dengan Sihir perisai sayang nya karena dia terlalu banyak menggunakan sihir dia tidak bisa menahannya lagi.
"maaf Glaricia, aku tidak bisa membantu sampai akhir, maaf tidak bisa membantu mu lagi" katanya
"tidak Ben, kamu sudah membantu sekuat tenaga, kau melakukan yang terbaik" ucap Glaricia
"Glaricia tolong sampaikan pesan ku pada ke empat saudara ku, aku menyimpan sesuatu di tempat berharga ku, Terry tau itu, dan untuk mu... hiduplah bahagia bersama keluarga mu, aku menyukai mu" katanya dan tangannya terjatuh saat sudah menyentuh pipi halus Glaricia.
"Ben~!!, BEEENN~!!" tangisan Glaricia menggema, sihirnya memuncak, kekuatan besar keluar dari dalam diri.
cahaya yang begitu menyilaukan itu membuat semua orang harus menutup mata mereka.
"kalian semua tidak akan lepas dari dewi cahaya, siapapun kalian kalian akan mata di cahaya yang suci ini" ucap Glaricia
sihir yang dia keluarkan membuat para penyihir itu kalah dengan seperkian detik saja, tak ada yang tersisa, kecuali pemimpin penyihir itu.
"hehehe kau kira kau bisa melawan ku hanya dengan begitu" kata Penyihir itu.
Glaricia dengan percaya dirinya dia melawan penyihir itu, keaduan kecepatan mereka tidak terlihat, sihir mereka sama sama kuat. Glaricia belum bisa menandinginya.
__ADS_1
"espegsu Goar" sihir penyihir itu
hal itu membuat Glaricia terjatuh dari ketinggian pohon yang sama rata dengan ketinggian perlawanan dirinya melawan penyihir.
semua khawatir saat Glaricia terjatuh, tapi dia langsung bangkit, karena baginya itu hanya luka yang di akibatkan karena gigitan semut.
"Daniel berikan aku kotak itu, hanya kotak itu yang dapat mengalahkan dia" ucap Glaricia
Daniel pun mengambil kotak itu dan memberikannya pada Glaricia, dengan kekuatan besar Glaricia pergi dengan cepat menuju penyihir itu dan langsung membuka kotak itu.
'takk' dengan sekali buka kotak itu menyerap seluruh sihir penyihir tersebut, hanya sebagiannya saja.
sebagian lagi Glaricia hancurkan dengan sihir cahaya milik Dewi penolong Suku Alni.
malam itu pun berakhir dengan menghilang nya sihir kegelapan dari dunia, dengan Ben sebagai korban untuk sihir itu.
.
.
.
pagi hari setelah pembakaran tubuh Ben, Glaricia di sajikan dengan makanan yang begitu mewah dan terlihat enak, semua berduka atas meninggalnya Ben, hanya saja itu tidak boleh terlalu lama, Abu Ben sudah menyebar keseluruh dunia, Angin membawanya pergi kemanapun dia berada.
sosok Ben kini menjadi pacuan untuk lebih percaya terhadap diri sendiri, dengan begitu kita pasti bisa yakin dengan apa yang akan kita raih.
.
.
"semuanya terimakasih atas jamuan makannya, aku senang bisa menolong kalian, aku juga pasti akan kembali lagi" kata Glaricia
saat itu kepala suku memanggilnya.
"kau tidak akan bisa kembali lagi kesini Glaricia, dunia ini akan kau lupakan dari pikiran mu, penyakit mu akan segera sembuh" ucap kepala suku itu sambil memegangi kepala Glaricia, sambil berada di depan sebuah portal sihir, Kepala suku tersebut bersiap membuat Glaricia langsung jatuh kedalam protal itu.
'Whingss' setelah melewati portal itu Glaricia berada di dunianya kembali, tepat di hutan belakang rumahnya, dia merasa bahwa kepalanya sangat pusing, melihat rumahnya dia langsung berlari kesana dengan senang.
"aku pulang" ucap Glaricia
"kamu dari mana saja sayang, ini sudah tengah hari masih mau main heum?" ucap sang ibunya
"maaf, Glaricia ngga tau kalo udah tengah hari" ucapnya cemberut.
"haih yasudah, sini kita makan siang, ayah mu akan segera pulang besok" kata ibunya
"benarkah?" tanya Glaricia dengan senang
"eu eumm itu benar" ucap ibunya
"yes asikk" katanya
"kita akan segera pindah tempat lagi, umur mu juga sudah mencapai umur remaja, waktu mu mencari tempat yang lebih baik sayang" kata ibunya
"baiklah" ucapnya langsung memakan makanan yang ada di meja makan itu.
kini dunia Glaricia dan Suku Alni semua baik baik saja, tidak ada suatu masalah yang akan terjadi di tahun akan datang.
semua yang terjadi hanya mimpi bagi Glaricia, dia juga tidak lagi merasakan benda benda yang menurutnya adalah makhluk lain.
hidup bahagia bersama keluarga masing-masing dan menjalani kehidupan dengan penuh tantangan akan Glaricia kembali rasakan saat setelah memasuki dunia remaja yang sebenarnya.
...****************...
...***********...
...****************...
cerita ini hanya karangan author, maaf apabila ada kesamaan nama dan tempat, atau tokoh tolong di maklumkan.
Magic Forest [TAMAT] jumpa lagi di Novel selanjutnya yah.
__ADS_1
makasih semuanya.....👋🏻👋🏻👋🏻