
...
Hari ini, Dika yang sedang bekerja dibengkel merasakan ponselnya bergetar disaku baju bengkelnya itu. Ternyata itu adalah notif pesan dari Dara. Ternyata setelah kejadian malam itu dimana Dika mengantar Dara pulang setelah acara balapan dan mereka yang berakhir menghabiskan waktu di taman. Mereka memutuskan untuk saling bertukar nomer ponsel.
"Dara tunggu" Dika menghentikan langkah Dara setelah gadis itu turun dari motornya dan akan menuju ke rumahnya
"Iya ada apa?" Dara yang mendengar pun langsung berbalik arah
"Nomer" dengan menyodorkan ponselnya ke arah Dara yang terlihat bingung dengan yang dilakukan pria itu
"Buat apa?"
"Buat nepatin janji, tadi kan gue janji mau ajak lo makan mie ayam"
"Oh iya" dengan gerakan perlahan Dara meraih ponsel Dika dan mengetikan nomer ponselnya disana
"Thanks" ucap Dika setelah Dara mengembalikan ponselnya
...
Matahari cukup terik walau hari sudah mejelang sore. Dika tengah bersiap dengan jaketnya dan helm motornya itu. Ya, sore ini Dika meminta ijin sebentar pada bosnya untuk pergi keluar sebentar. Untung saja pekerjaan Dika hari ini tak terlalu banyak dan itu pun sudah ia kerjaan dengan baik. Laki-laki itu berniat menjemput Dara disekolahnya dan beralasan ingin membayar janjinya.
"Udah nunggu lama?" sapa Dika saat baru saja sampai dihalte depan sekolah Dara
"Belum terlalu lama kok"
"Ayok" dengan memberikan gadis itu helm
Setelah 15 menit perjalanan dengan motor. Kini keduanya sudah sampai diwarung mie ayam "mang bedjo" namanya. Warung itu tak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang yang sedang menikmati mie ayam. Warung yang tak terlalu besar itu, dengan hanya beberapa meja dan pohon mangga dibagian depan warung terasa cukup nyaman untuk menikmati semangkuk mie ayam.
Si penjual "mang Bedjo" dengan baju putih lengan pendek lengkap dengan sarung itu terlihat sangat ahli dalam meracik mie ayam. Ditemani dengan sang istri yang Dika bilang bernama Bu Ijah itu, mang Bedjo melayani para pembeli.
"Silahkan mas Dika dinikmati mie ayam spesialnya" ucap mang Bedjo yang memang sudah cukup mengenal Dika
__ADS_1
"Terimakasih mang"
"Baru kali ini mas Dika datang gak sendirian" dengan sedikit candaan yang mang Bedjo lontarkan kepada Dika dan Dara yang terlihat malu-malu
"Kenalin neng, saya mang Bedjo. Neng cantik pasti pacarnya mas Dika ya" ledekan itu kini mang Bedjo arahkan pada Dara yang tanpa disadari pipinya sudah memerah
"Hah, bukan mang. Saya temannya Dika"
"Oalah, ya kalo pun pacar yo gak apa-apa neng"
"Mang ada yang beli tuh" ucap Dika yang seolah ingin menghentikan ledekan demi ledekan mang Bedjo untuk mereka berdua
"Hahaha yowes mamang tinggal ya, selamat menikmati"
Sepeninggal mang Bedjo suasana menjadi canggung diantara keduanya. Tapi, Dara terlihat seolah mengagumi isi mie ayam dalam mangkoknya.
Ya, isian mia ayam itu belum pernah Dara lihat pada penjual mie ayam pada umumnya yang pernah ia beli selama ini. Sekarang didalam mangkuknya selain terdapat mie dan potongan daging ayam tentunya yang dilengkapi dengan sayuran. Dara melihat mie ayam ini terlihat berbeda karena ada setengah butir telur rebus, irisan timun dan juga wortel yang dipotong dadu kecil. Selain itu juga ada 2 buah pangsit goreng yang ukurannya tak terlalu besar. Dan juga kuah mie ayam dengan beberapa potong tetelan dan irisan daun bawang yang dipisah pada mangkuk kecil lainnya.
"Nih" Dika tiba-tiba memberikan tissu disaat Dara sedang fokus menikmati makanannya
"Ah terimakasih"
Diam-diam Dika memperhatikan gadis itu makan. Dika melihat bagaimana Dara menambahkan cukup banyak saus sambal pada mangkuk mie ayam gadis itu, ditambah dengan saus cabai. Maka tak heran jika kini gadis itu cukup banyak berkeringat.
...
"Kalo lu butuh temen cerita, lu boleh cerita sama gue kalo lu percaya"
Tadi, setelah makan mie ayam Dika berniat mengantarkan Dara ke cafe tempat gadis itu bekerja. Tapi Dara bilang dia mau mampir dulu sebentar ketaman yang waktu itu sempat mereka datangi. Dara ingin seolah ingin menenangkan pikirannya sebentar disana. Dan disinilah mereka sekarang. Dibangku taman didepan air mancur dengan beberapa anak kecil yang berlarian. Kali ini taman sedikit ramai dibandingkan terakhir mereka datang.
"Menurut kamu, orang kayak aku tuh boleh bahagia gak sih?" dengan arah pandang yang lurus kedepan Dara mencoba mengungkapkan apa yang ia rasakan sekarang
"Kenapa gak boleh? Apa alesannya"
__ADS_1
"Entahlah, aku merasa aku gak pernah boleh bahagia sejak kecil"
"Bahagia atau gak, bukan seutuhnya manusia yang menentukan. Banyak hal yang menurut kita bahagia tapi menurut Tuhan itu hal yang salah"
"Tapi Tuhan juga gak pernah kasih aku bahagia"
"Berarti lu gak bahagia masih bisa napas sekarang?" ucapan Dika membuat Dara melihat kearah laki-laki itu
"Apa aku masih pantas buat terus hidup?"
"Gue gak tau seberat apa masalah hidup lu. Dan gue juga gak mau sok tau tentang gimana perasaan lu dan kondisi lu saat ini. Tapi kalo boleh bilang, jangan pernah mau kalah sama masalah"
"Tapi aku gak tau sampai kapan aku bisa bertahan"
"Gue boleh minta ijin sama lu?"
"Ijin apa?" dengan tatapan bingung Dara coba memperhatikan ucapan laki-laki itu
"Ijin buat bisa bikin lu tersenyum"
"Terimakasih, tapi aku gak mau bikin kamu masuk dan terlibat dihidup aku yang buruk"
"Biar itu urusan gue. Lu cukup jadi diri lu yang biasanya, sisanya biar gue yang urus"
Senyum tulus itu terlukis dibibir mungkil Dara untuk laki-laki didepannya ini. Laki-laki yang belum lama ini ia kenal dari kekasih sahabatnya itu seolah bisa membawa warna yang berbeda untuk Dara. Laki-laki dengan segala ucapannya yang bisa membuat Dara membuka pikirannya dan membuat Dara seolah punya energi positif baru tentang hidup.
Bagi Dara, Dika adalah pendengar yang cukup baik. Laki-laki itu baru akan mengeluarkan pendapatnya ketika ditanya, selebihnya dia hanya akan mendengarkan bagaimana Dara bercerita. Walau ada ketakutan tentang Dika yang nanti akan tau bagaimana menyakitkan hidupnya.
Dan yang paling Dara takutkan adalah Dika yang akan tau bagaimana ayahnya. Dara tak ingin Dika terlibat dengan masalah-masalah hidupnya. Tapi, Dara juga tak munafik dia seolah butuh Dika untuk temannya bercerita dan meminta pendapat selain Arinda. Memang sahabatnya itu juga pendengar yang baik, tapi emosi Arinda yang terkadang tak terkontrol membuatnya tak mendapat solusi dari keresahan hatinya. Sahabatnya itu hanya akan berakhir menangis dan memberi solusi sulit Dara lakukan. Jadi, tanpa disadari Dika sudah berjanji untuk selalu ada disisi Dara apapun kondisi gadis itu.
...
"Aku cuma mau liat senyum kamu terus"
__ADS_1