
...
Matahari dihari minggu ini baru saja menampakan dirinya. Cuaca yang bagus untuk berolahraga atau sekedar berjalan-jalan ditaman. Tapi tidak bagi Dara, gadis itu sedang berada dirumah sakit saat ini. Tadi saat dia sedang membuat sarapan tiba-tiba dia melihat ayahnya yang keluar dari kamar dengan wajah yang pucat. Dan saat Dara mencoba menghampirinya. Sang ayah tiba-tiba saja terjatuh, dia pingsan. Dara pun segera membawanya kerumah sakit, dia takut terjadi apa-apa dengan sang ayah.
"Keluarga tuan Hutomo?" suara dokter yang baru saja keluar dari ruang IGD itu menyadarkan Dara
"Iya, saya putrinya, dok"
"Kondisi ayah kamu cukup mengkhawatirkan. Sebelumnya saya mau bertanya, apakah beliau rutin meminum obatnya?"
"Obat? Obat apa ya, dok?"
"Apa kamu tidak tau jika ayah kamu memiliki masalah dengan ginjalnya?"
"Ginjal? Selama ini kondisi ayah saya baik-baik aja, dok"
"Mungkin beliau tidak memberi tau ini pada keluarga. Tapi yang perlu kamu tau, ayah kamu sudah menderita penyakit ini sejak 2 tahun yang lalu. Dan kondisinya terus menurun. Itulah sebabnya beliau harus rutin meminum obatnya"
"Separah itu, dok?"
"Iya, ya walaupun hanya 1 ginjal yang mengalami kerusakan. Tapi tetap saja hidup dengan 1 ginjal adalah hal yang berat bagi pasien"
"Lalu saya harus bagaimana, dok?"
"Kita harus segera mencari pendonor ginjal"
...
Ucapan dokter tadi seperti petir yang menyambar diatas kepalanya. Dara sama sekali tak pernah terpikirkan jika ayahnya mempunyai penyakit serius seperti ini. Ayah yang selalu terlihat sehat walau usianya sudah tak muda, tak pernah memperlihatkan kesakitan. Atau memang Dara saja yang tak peka dengan keadaan sang ayah.
__ADS_1
Walau hubungannya dengan sang ayah tidak baik, tapi seharusnya dia bisa lebih memperhatikan ayahnya itu. Hah Dara merasa menyesal belum bisa jadi anak yang baik.
Ditambah, dia bingun sekarang harus bagaimana mencari pendonor ginjal untuk sang ayah. Ditengah kebingungannya itu dia berjalan keluar dari ruang rawat sang ayah. Tadi dokter bilang ayahnya harus dirawat beberapa malam dirumah sakit untuk memeriksa lebih lanjut tentang penyakitnya itu.
Langkah kakinya ternyata membawanya sampai pada taman rumah sakit. Sebelum berbelok kearah taman. Dari arahnya berdiri tak jauh didepannya ada seseorang yang dia kenal. Seseorang itu adalah Dika, tapi laki-laki itu sedang apa disini. Terlebih Dika tidak sendiri, tapi ada seorang gadis yang bersamanya. Gadis dengan jaket berwarna coklat itu terlihat manis dengan bandana pink berbentuk pita dikepalanya.
Mereka berdua terlihat duduk diruang tunggu didepan ruang dokter mata. Dara hanya diam ditempat dan memperhatikan mereka dari jarak yang tak terlalu jauh dari dua orang yang sedang asik bercanda itu.
"Apa itu adiknya ya yang selama ini dia ceritain?"
Tak lama mereka berdua masuk keruang dokter mata itu setelah tadi suster meminta mereka untuk masuk. Dara tak tau apa yang terjadi didalam sana.
Tapi yang Dara perhatikan sejak tadi, pandangan gadis itu hanya lurus kedepan. Dan juga dia berjalan dibantu dengan sebuah tongkat dan gadengan tangan Dika. Apa ada masalah dengan mata gadis itu?
...
Dara mengurungkan niatnya untuk pergi ke taman rumah sakit. Dia berniat mencari tau apa yang dilakukan Dika dirumah sakit ini. Tak lama dia melihat Dika keluar dari ruangan dokter dan laki-laki itu kembali menuntun sang gadis untuk duduk dikursi ruang tunggu. Dengan jarak yang sekarang cukup dekat karena Dara yang juga duduk disalah satu kursi ruang tunggu dengan buku yang berusaha ia gunakan untuk menutupi wajahnya itu. Dia bisa mendengar apa yang mereka katakan.
"Iya mas"
Dara sedikit mengintip dari balik bukunya. Dia melihat bagaimana Dika yang sangat menyayangi gadis itu. Bahkan tadi sebelum ditinggal oleh Dika untuk menebut obat di apotek laki-laki itu sembat membelai kepala sang gadis. Betapa penyayangnya Dika, itu salah satu sifat yang Dara tau dari Dika hari ini.
"Ini obatnya"
"Banyak ya mas obatnya?"
"Sedikit kok"
"Kenapa sih mas aku harus minum obat terus?"
__ADS_1
"Kan tadi kamu dengar sendiri apa kata dokter. Kalau kamu harus tetap minum obat selama kita belum menemukan pendonor yang cocok buat mata kamu"
"Aku bikin mas Dika susah terus ya"
"Hey, gak ada yang bikin mas susah. Apapun akan mas lakuin demi kamu bahagia. Dan demi kesembuhan adik kesayangan mas ini"
"Mas, tapi kalau aku gak dapet pendonor, aku gak apa-apa kok mas"
"Kita usaha dulu ya"
"Yang penting aku tetap sama mas Dika. Aku cuma punya mas Dika sekarang, jadi aku lebih baik gak bisa melihat tapi tetap bisa terus sama mas Dika"
...
Dara kembali keruang rawat sang ayah tepat saat sang ayah membuka matanya. Ayahnya yang sedang kondisi lemah itu tentu membuat Dara tak tega melihatnya. Ayah yang dia tau selama ini sehat ternyata memiliki penyakit yang cukup serius. Dara juga tak menyangka, ayah yang selama ini selalu bertengkar dengannya, kini harus terbaring lemah dirumah sakit.
Ya Allah, ujian apa lagi ini
Ayanya hanya diam melihat Dara yang memasuki ruang rawat itu. Tak ada percakapan apapun antara ayah dan anak itu. Akhirnya Dara pun berjalan menuju kamar kamdi yang ada dipojok kamar rawat itu. Dia mengambil wudhu untuk sholat, karena jam sudah menunjukkan waktunya sholat dzuhur. Sajadah itu dia gelar tak jauh dari ranjang rawat ayahnya.
Setelah selesai sholat, Dara tak langsung bangun dari posisinya. Ternyata gadis itu masih mau berdoa untuk ayahnya yang sedang sakit. Tadi saat Dara mau memulai sholatnya, dia melihat sang ayah yang kembali memejamkan matanya. Maka sekarang gadis itu berani berdoa dengan sedikit bersuara.
"Ya Allah, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Aku mohon maaf atas segala dosa-dosa ku. Aku tau, aku bukanlah hambamu yang baik. Tapi aku mohon Ya Allah, angkatlah penyakit ayah ku. Maafkan lah segala khilafnya, maafkan segala dosanya. Ya Allah, apa Engkau tak cukup hanya denga mengujiku. Kenapa Engkau juga memberikan ujian yang berat untuk ayahku. Ya Allah, ayah adalah orang tua yang baik, dan aku menyayanginya. Tolong jauhkanlah dia dari segala kesulitan, dan angkatlah segala rasa sakitnya. Aku menyayangi ayah"
Sepenggal doa itu membuat sang ayah meneteskan air mata dalam diamnya. Tadi memang dia memejamkan matanya saat melihat Dara keluar dari kamar mandi dan menggelar sajadah tak jauh dari ranjangnya. Dia hanya diam, tak bersuara apapun. Dengan mata yang terpejam itu dia tau jika Dara sedang khusuk sholatnya. Dia juga cukup tau jika anaknya itu memang termasuk yang rajin dalam ibadah.
Dia memang tak berniat tidur, tapi dia hanya berniat mengistirahatkan matanya yang terasa lelah. Namun tiba-tiba saja dia dikejutkan dengan untaian doa yang putrinya itu panjatkan setelah sholat. Walau dengan suara yang kecil bahkan nyaris tak terdengar itu dia masih mampu mendengar dengan jelas kata per katanya.
Ada perasaan terharu yang ia rasakan. Bahkan tanpa sadar air matanya menetes dari kedua sudut matanya. Untaian doa itu terasa sangat tulus dari seorang anak kepada penciptanya untuk seorang ayah. Ya walau dia sadari, jika dia bukanlah ayah yang baik selama ini. Ego yang membuatnya terus bertahan dengan perasaan dendam. Sampai ia menutup mata bagaimana tulusnya perasaan Dara padanya.
__ADS_1
...
"Apa saya keterlaluan ya selama ini"