Mahadara

Mahadara
episode 21. 2


__ADS_3

...


Kalau boleh jujur, Dara merindukan Dika. Dia rindu saat laki-laki itu perhatian padanya, dan bagaimana laki-laki itu berbicara. Dara kagum dengan cara Dika berpikir. Walau bisa dibilang Dika adalah laki-laki yang putus sekolah dan membuat laki-laki itu tak berpendidikan tinggi. Tapi bagi Dara, Dika justru lebih memiliki banyak pengetahuan dibanding dirinya.


Awalnya Dara tak percaya jika Dika benar-benar putus sekolah. Karena Dara merasa sikap dan sifat Dika, apalagi cara berbicara laki-laki itu seperti seseorang yang berpendidikan tinggi. Tapi, karena hal itulah Dara percaya, jika yang tak berpendidikan tinggi bukan berarti menjadi manusia yang rendah. Pendidikan yang rendah pun ternyata bisa menjadi tinggi bila sikap dan sifatnya yang baik. Dan itu bisa membuat orang lain juga menghormatinya.


...


Hari ini Dara masih belum bertemu dengan Dika. Dirinya masih takut untuk menghubungi Dika, apalagi dengan sikap laki-laki itu yang juga ikut menjauhinya. Dara pun dibuat galau dengan semuanya. Disatu sisi dia ingin meminta maaf pada Dika, disisi lain dia masih belum siap bertemu dengan Dika.


Dara ingin sekali menemui laki-laki itu. Tapi dirinya juga bingung harus mulai darimana. Apalagi dengan dirinya yang tak punya pengalaman sama sekali tentang laki-laki.


Disaat dirinya yang sedang bingung, tiba-tiba dikagetkan dengan sebuah suara.


"Hayoo lagi mikirin Dika ya?"


"Ih Arinda ngagetin aja deh"


"Kenapa lagi sih, Ra?"


"Aku harus gimana sekarang, Nda?"


"Apanya yang gimana sih? Kamu belum ngehubungin Dika?"


"Belum, aku masih takut"


"Takut kenapa?"


"Ya, takut Dika gak mau maafin aku"


"Ra, aku yakin Dika bukan orang yang begitu kok"


"Tapi, dia juga gak ngehubungin aku beberapa hari ini, Ra"


"Hahaha, makanya kemarin siapa yang menjauh duluan? Kok sekarang jadi galau sih pas dijauhin juga"


"Aaa Arinda"


"Hahahaha iya iya maaf. Tapi, aku rasa Dika ngelakuin itu karna dia menghargai keputusan kamu, Ra"


"Iya, aku salah udah egois"


"Gak apa-apa, Ra. Aku yakin kalo Dika bisa paham sama maksud kamu. Makanya kamu harus jelasin sama Dika"


"Iya, nanti kalo aku udah siap, aku akan minta maaf dan jelasin semuanya"


"Lagian ya,Ra. Aku kasian deh sama Dika. Dia kan niatnya mau bantuin kamu, eh malah kamu musuhi begini"


"Iiihh Arinda, gak gitu maksudnya"


"Iya iya. Tapi aku setuju sih, Ra, sama Dika yang mau mukul ayah kamu. Ya secara kan ayah kamu emang udah keterlaluan dan semakin keterlaluan sama kamu"


"Iya sih, Nda. Tapi aku gak mau sikap Dika itu malah bikin dia berurusan sama ayah terlalu jauh. Aku gak mau Dika sampai kenapa-kenapa"


"Duh yang khawatir"


"Udah ah aku mau balik ke kelas. Di ledekin terus sama kamu"


Sejak tadi kedua gadis itu memang sedang menghabiskan jam istirahat mereka ditaman belakang sekolah. Mungkin lebih tepatnya Dara yang sedang mencari ketenangan disana.


Setelah beberapa hari ini Dara berbicara dan mendapat nasihat dari sabahat sahabatnya. Pikiran Dara tentang Dika sedikit terbuka. Dia mengaku jika keputusannya kemarin adalah egois. Tentu itu menyakiti Dika yang berniat baik padanya. Dara tak pernah meragukan kebaikan Dika padanya selama ini. Dara tau, laki-laki itu benar-benar tulus padanya.

__ADS_1


...


Dara sudah sampai dicafe 30 menit sebelum jam kerjanya dimulai. Perasaannya masih saja gelisah, pikirannya masih saja tak tenang memikirkan Dika. Ditambah kata-kata ayahnya malam itu masih juga terngiang ditelinga.


"Sejak kapan kamu berteman dengan seorang preman seperti itu?"


"Dia teman Dara ayah. Dia bukan preman"


"Lalu kalau bukan preman, apa? Laki-laki brandalan yang berani memukuk ayah, sebutan apa yang pantas selain preman, hah. Dasar anak brengsek"


"Cukup ayah. Dia baik, dia baik pada Dara"


"Hah baik katamu. Kamu yang sekarang berani melawan ayah pasti karena dia kan. Atau kamu yang sudah dibayar mahal sama dia"


"Ayah, kenapa ayah selalu saja mengatakan itu. Apa karena aku bukanlah anak kandung ayah?"


"Iya, karena bagi saya anak harap tak akan pernah lebih baik dari anak kandung. Dan kamu berbeda dengan Rinjani anak saya. Kamu hanyalah anak haram yang tak pernah diharapkan"


Ucapan ayahnya bukan sekali ity saja menyakitkan. Nyatanya ayahnya memang selalu berkata menyakitkan pada Dara. Tapi, perasaan sakit hati itu tetap saja Dara rasakan. Karena bagaimana pun, Dara tetaplah seorang gadis biasa. Yang terkadang merasa lelah terus menerus terlihat baik didepan banyak orang. Yang nyatanya dirinya penuh dengan luka batin dan luka fisik yang dia punya.


"Ada apa, Ra?"


"Eh mba Dewi. Loh mba Dewi mau pulang?"


"Iya, mba tadi masuk pagi karena mau ada urusan keluarga nanti malam"


"Oh gitu"


"Ada apa? Kamu kayaknya lagi banyak pikiran?"


"Ayah mba"


"Apa anak haram kayak aku gak boleh bahagia ya mba?"


Ya, mba Dewi memang sudah tau cerita tentang Dara yang ternyata adalah anak hasil perselingkuhan ibu dan mantan pacarnya. Pertama kali Dara bercerita, mba Dewi tentu sangat terkejut. Dia tak menyangka derita hidup gadis itu tak ada habisnya. Dewi pun semakin merasa iba pada Dara. Apalagi dirinya sudah menganggap Dara seperti adiknya.


"Hey, gak boleh bilang begitu. Semua orang punya hak nya masing-masing untuk bahagia sayang"


"Tapi kenapa aku sesusah ini mba buat bahagia"


"Sini peluk... Gak apa-apa ya, mungkin memang jalannya kamu lagi dipersulit dulu untuk sesuatu yang luar biasa nanti. Bahagia itu gak sulit sayang, tapi kita aja yang jadi manusia terkadang terlalu mengejar bahagia yang rumit tanpa kita sadar. Padahal nih ya, banyak banget bahagia yang sederhana"


"Aku cuma mau ayah sayang sama aku, mba"


"Iya, sabar ya. Mba yakin kok, nanti akan ada waktunya ayah kamu akan sadar dengan perbuatan salahnya dia selama ini sama kamu. Jadi kamu juga gak boleh nyerah buat jadi anak yang baik, yang manis ya"


"Iya mba, semoga aku bisa bertahan ya"


"Hey, harus dong. Kamu harus bisa ya... Sekarang senyum dong"


"Makasih ya mba. Mba Dewi udah baik banget sama aku" senyum itu pun terlukis dari wajah imut Dara


"Iya sama-sama adik mba yang manis"


...


Hari ini pengunjung cafe tak terlalu ramai. Jadi Dara tak terlalu capek untuk kerja hari ini. Walau sebenarnya Dara lebih berharap hari ini dia sibuk untuk sedikit membantunya mengalihkan pikiran-pikiran yang membuatnya sakit kepala. Dan membuatnya sedikit lupa tentang Dika.


"Kamu kenapa sih kayak gak semangat gitu hari ini?"


"Eh Awan, gak apa-apa kok"

__ADS_1


"Apa karna laki-laki itu?"


"Bukan kok"


"Kalo dia nyakitin kamu, bilang sama aku ya"


"Iya, makasih ya"


Pandangan Dara terhenti pada sosok laki-laki yang sedang duduk diatas motornya disebrang cafenya. Dara cukup mengenal siapa laki-laki itu walau minim cahaya pada tempat laki-laki itu berada. Pikirannya kembali dibuat galau tentang laki-laki itu. Tapi Dara kembali teringat dengan perkataan mba Dewi sore tadi sebelum wanita itu pamit pulang.


"Kamu udah baikan sama siapa tuh namanya, Dika ya?"


"Iya mba namanya Dika. Belum mba"


"Kok belum, kenapa?"


"Aku masih takut"


"Loh emang dia gigit?"


"Iihh bukan begitu mba"


"Hahaha ya terus takut kenapa?"


"Takut dia gak mau maafin aku"


"Terus kalau kamu semakin lama nunda, apa ada jaminan dia gak semakin salah paham dan masih mau maafin kamu?"


"Iihh mba Dewi kok bikin aku tambah takut sih"


"Loh iya kan, dengan kamu nunda buat kasih dia penjelasan apa itu gak buat dia tambah salah paham sama kamu. Dan bikin pikiran-pikiran buruk dia sama kamu jadi perasaan benci. Kamu gak takut?"


"Takut, mba"


"Kamu punya perasaan lebih sama dia?"


"Maksud mba Dewi?"


"Ya perasaan sayang mungkin"


"Hmm aku gak tau mba, kan aku gak pernah dekat sama laki-laki sebelumnya"


"Tapi kamu nyaman sama dia?"


"Iya, jujur aku nyaman kalau lagi sama dia. Aku kagum sama cara pandang dia tentang hidup, kagum juga dengan cara dia berbicara"


"Nah itu, emang kamu mau kehilangan orang yang udah bisa bikin kamu nyaman?"


"Gak sih mba"


"Gak tau kenapa ya, walau mba lihat Dika tuh kaya anak berandalan tapi mba yakin kalau dia tuh laki-laki yang baik. Dari tatapannya dia sama kamu tuh kayak tulus gitu loh. Ya walau mba gak sering ketemu dia sih. Tapi dari beberapa kali liat dia jemput kamu tuh mba bisa lihat dia perhatian sama kamu, Ra"


"Iya sih mba, Dika tuh emang baik banget"


...


Percakapannya dengan mba Dewi itu lah yang membuat Dara berpikir harus segera meminta maaf pada Dika sebelum laki-laki itu semakin salah paham pada dirinya.


...


"Kayanya gue sayang deh sama dia"

__ADS_1


__ADS_2