
...
Hari ini Dara libur sekolah, karena para guru yang sedang ada kegiatan diluar sekolah. Dan hari ini dimanfaatkan Dara untuk pergi dengan Dika. Laki-laki itu berniat mengajak Dara kerumahnya untuk bertemu dengan Selly.
"Udah siap"
"Iya udah"
Seperti biasa Dika menjemput Dara didepan gang perumahan gadis itu. Ya walau sang ayah yang sudah berangkat kerja sejak pagi-pagi sekali tadi. Tetap saja Dara tak enak jika Dika menjemputnya didepan rumah.
"Kalau gue ngebut bilang ya"
"Iya,.. hmm Dika"
"Apa"
"Kamu gak kerja?"
"Cuti"
"Cuma buat anter aku ketemu Selly ya. Ihh tuh kan, padahal aku bisa sendiri"
"Gak apa-apa. Gue sekalian mau ajak lu ke suatu tempat"
"Hah, kemana?"
"Nanti lu juga akan tau"
...
Kurang lebih 30 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai disuatu tempat.
"Pemakaman?"
"Iya, gue mau ajak lu ketemu bunda"
...
"Jadi 20 ribu mas Dika"
"Ini uangnya, terimakasih bang"
"Sama-sama mas Dika"
"Kamu sering kesini ya?" Dara bersuara setelah mereka selesai membeli bunga dan air untuk dipemakaman nanti
"Ya, lumayan. Kenapa?"
"Itu sampai penjual bunganya kenal sama kamu. Atau kamu artis ya jadi terkenal gitu"
"Aneh aneh aja"
"Ya, habisnya aku sering banget ketemu orang yang kenal sama kamu"
"Kebetulan aja"
"Sampai"
"Eh udah sampai"
"Ini makam bunda dan ayah"
"Romantis ya"
"Kenapa?"
"Makamnya aja bersebelahan gini. Romantis banget"
"Iya, kebetulan karena meninggalnya dengan waktu yang gak terlalu lama jadi makam bunda bisa disamping ayah"
"Assalamu'alaikum tante dan om"
Dika yang melihat Dara memberi salam pada bunda dan ayahnya itu tersenyum. Hatinya menghangat, seolah mereka benar-benar bertemu dan saling sapa.
"Bund, ini namanya Dara yang waktu itu Selly ceritain sama bunda"
__ADS_1
"Selly cerita apa tentang aku"
"Katanya ada kakak cantik main kerumah"
Mendengar ucapan Dika membuat pipi Dara berubah menjadi merah. Walau samar tapi Dika tetap bisa melihatnya. Setelah membaca doa, Dika memang terbiasa bercerita dengan kedua orang tuanya itu. Dan kali ini dia tak bercerita sendiri, tapi ada Dara yang menemaninya.
"Dika pamit dulu ya ayah bunda"
"Dara juga pamit ya om dan tante"
...
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju rumah Dika. Sebelum sampai kerumah Dara mengajak Dika untuk mampir ketempat penjual sayur yang mereka lewati. Rencananya Dara mau mengajak Selly memasak hari ini.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam, mas Dika?"
"Iya, coba tebak mas dateng sama siapa?"
"Sama siapa emangnya mas?"
"Hallo Selly"
"Kak Dara"
"Iya, ini aku"
"Ya ampun aku kangen banget sama kak Dara"
"Iya kakak juga kok, maaf ya aku jarang main kesini"
"Iya, kata mas Dika kak Dara lagi sibuk ya"
"Lumayan sih. Eh iya, kakak bawa bahan masakan nih. Kita masak bareng yuk"
"Ayok kak, udah lama kan kita gak masak bareng"
"Mas Dika dicuekin nih"
"Gak, libur"
"Eh, mas Dika libur apa?"
"Cuti"
"Gayanya kayak pegawai negri pake cuti segala"
"Iya dong"
"Ayok kak Dara"
"Ayok"
Dika yang melihat kedua gadis itu yang terlihat senang juga ikut membuat hatinya bahagia. Melihat Selly yang ceria dengan kehadiran Dara tentu angin sejuk untuknya. Setidaknya adiknya itu punya teman dan bisa kembali ceria lagi. Dan Dara yang ternyata bisa cepat akrab dengan adiknya itu, membuatnya tak salah memilih gadis itu untuk dikenalkan dengan adiknya. Mungkin jika sang bunda masih ada pun juga akan setuju dengan dirinya. Membayangkan jika keluarganya masih utuh mungkin dia akan melihat tiga orang wanita yang dia sayangi sedang memasak, seperti yang terlihat saat ini. Dimana Dara yang dengan sabar mengarahkan Selly untuk membantunya memasak. Hatinya menghangat, setelah sekian lama hatinya beku.
"Kak Dara tadi dari mana sama mas Dika?"
"Tadi aku diajak kemakam orang tua kamu"
"Wah jadi kak Dara udah ketemu sama ayah dan bunda"
"Iya"
"Kemarin waktu aku kesana, aku cerita sama bunda soal kak Dara loh"
"Oh ya, kamu cerita apa tentang aku?"
"Aku bilang sama bunda kalo mas Dika bawa cewek cantik banget ke rumah. Ya walau aku gak bisa liat wajak kak Dara, tapi aku tau kalau kak Dara itu pasti cantik banget"
"Hahaha kamu bisa aja"
Dara memandang Selly dengan pandangan yang sulit diartikan. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis itu.
"Aku panggil mas Dika dulu ya kak"
__ADS_1
"Iya"
"Wah udah siap nih"
"Iya dong, aku yang masak semuanya"
"Kamu atau kak Dara yang masak?"
"Hehehe kak Dara sih yang masak, aku bantuin sedikit"
"Kita masak bareng kok tadi. Ayok kita makan dulu"
"Selamat makan"
...
Setelah acara makan bersama tadi, kini Dara dan Dika sedang berbincang diteras rumah. Selly nampaknya kelelahan dan memilih beristirahat. Dara bilang dia belum mau pulang, gadis itu memilih pergi nanti saja dan langsung ke cafe untuk bekerja.
"Jadi kamu gak punya saudara lain yang dari bunda kamu mungkin"
"Gak ada, bunda itu anak tunggal. Dan nenek kakek gue juga udah meninggal"
"Dan kamu gak tau gimana kondisi suadara dari ayah kamu?"
"Gue gak mau tau tentang mereka. Bagi gue mereka gak ada sejak ayah pergi. Waktu ayah meninggal aja mereka gak ada yang datang. Entah apa alasannya mereka benci banget sama bunda"
"Nanti mereka pasti dapat balasannya kok. Apa yang mereka perbuat nantinya akan kembali ada diri mereka sendiri"
"Iya gue juga percaya dengan itu. Fokus gue sekarang cuma Selly"
"Belum ada pendonor yang cocok untuk Selly?"
"Belum, ya sambil nunggu pendonor gue masih punya waktu buat nabung"
"Selly beruntung banget ya"
"Kenapa"
"Dia beruntung punya kakak yang gak nyerah kayak kamu. Gak kayak kakak aku, yang nyerah dan ninggalin aku sendirian"
"Hey, gak boleh bilang gitu. Lu gak sendirian kok, kan ada gue, Selly, Arinda, dan yang lainnya"
"Iya, tapi semenjak kak Rinjani pergi, aku gak punya tempat berlindung dari ayah"
"Lu gak lupa kan sama ucapan gue. Kalau bokap lu sampai berani nyakitin lu lagi, gue akan lindungin lu"
"Makasih ya, kamu udah mau bantu aku. Aku hampir aja kehilangan harapan untuk tetap hidup, tapi melihat kamu dan Selly aku jadi semangat lagi untuk lanjutin ini semua"
"Lu pantes bahagia, dan gue yakin suatu saat nanti diwaktu yang tepat lu pasti nemuin bahagia itu"
"Semoga ya"
...
Hari sudah sore dan Dara sudah sampai di cafe untuk bekerja. Dika mengantarkannya sampai kedepan pintu cafe. Dan hal itu tak lepas dari penglihatan para karyawan disana termasuk Awan dan mba Dewi. Mba Dewi memandang dengan tatapan yang senang dan bahagia terlebih melihat bagaimana Dara tersenyum saat Dika mengantarnya.
Tapi beda hal nya dengan Awan, laki-laki itu memandang dengan tatapan tak suka. Ya karyawan dicafe memang cukup tau bagaimana Awan terlihat menyukai Dara dengan laki-laki itu yang sering menawarkan tumpangan menjemput atau mengantar pulang Dara, tapi selalu berusaha ditolak oleh gadis itu.
"Jangan paksakan apa yang gak mau kamu perjuangkan, Wan"
"Maksud mba Dewi?"
"Ya perjuangkanlah dia yang mau kamu perjuangkan bukan yang gak mau kamu perjuangkan. Mba yakin kamu paham maksud mba"
Awan terdiam dengan kata-kata mba Dewi. Awan cukup paham apa yang dimaksud mba Dewi. Tapi entah kenapa hatinya masih saja berat untuk melepaskan perasaannya pada Dara. Seolah masih saja ada harapan walau itu kecil. Terlebih yang Awan tau jika Dara dan Dika belum berpacaran. Tapi, walau seperti itu tetap saja kesempatannya tipis. Melihat bagaimana Dara yang diantar dan dijemput oleh Dika. Sedangkan dirinya susah sekali walau sudah sedikit memaksa gadis itu. Dan hari ini juga dirinya melihat bagaimana Dara tersenyum manis saat Dika mengelus kepala gadis itu sebelum gadis itu memasuki pintu cafe. Apa benar kesempatannya sudah hilang.
"Sore semuanya" suara Dara menyadarkan Awan dari lamunannya
"Cie yang dianter pacar, seneng banget sih"
"Iya nih Dara, bahagia banget kayaknya hari ini"
Candaan candaan itu dilontarkan dari beberapa teman kerja Dara yang juga melihat gadis itu datang diantar oleh Dika tadi. Terlebih Dara yang datang dengan wajah cerianya membuat para teman sesama pegawai cafe menggodanya.
...
__ADS_1
"Semangat ya kerjanya, jangan genit"