
Setelah kejadian dirumah sakit beberapa hari yang lalu. Dan ayah Dara yang sudah kembali kerumahnya ternyata tak merubah apapun. Sikap sang ayah pada Dara tetaplah sama, dia tetap memperlakukan Dara seperti biasanya. Walau Dara tak tau jika sang ayah mendengar doa nyasl saat dirumah sakit waktu itu. Tapi Dara berharap sikap ayahnya bisa sedikit lembut setelah dirinya merawat sang ayah beberapa hari dirumah sakit. Namun, setelah sampai dirumah sikap ayahnya tetap sama tak ada yang berubah.
Hari ini Dara pulang dari cafe sendiri. Gadis itu tak bersama dengan Dika seperti hari-hari kemarin dimana laki-laki itu rajin menjemputnya di cafe. Setelah sampai dirumah, hanya ada kesunyian yang terasa. Sepertinya sang ayah sudah tidur, jadi dia tak boleh banyak bersuara.
"Ayah" sapa Dara saat melihat ayanya yang sedang berada didapur
Ternyata ayahnya itu sedang membuat teh. Namun tak ada jawaban dari sang ayah saat dirinya memanggil
"Sini biar Dara aja yang buatin teh untuk ayah"
"Gak usah sok baik. Walau kamu sudah merawat saya kemarin, itu bukan berarti saya akan bersikap baik sama kamu"
"Aku cuma mau bantu ayah buat teh"
Prang
Cangkir teh itu pecah mengenai tembok dapur. Cangkir teh yang dilempar sang ayah itu bahkan mengenai sedikit kaki Dara. Ada luka yang berdarah disana, namun gadis itu sepertinya belum menyadarinya. Ia masih terkejut dengan apa yang ayahnya lakukan.
"Saya bilang gak perlu. Apa sekarang kamu tuli !"
"Maaf, yah"
Tak lagi ada kata-kata yang ayahnya ucapkan dan berlalu begitu saja masuk kedalam kamarnya. Dengan hati yang sesak dan air mata yang sedikit membasahi pipinya dia membereskan serpihan cangkir itu.
Malam sudah menunjukkan angak 1 dini hari. Dara sedang mengobati luka dikakinya. Tadi saat dia berjalan, dia baru merasakan perih dikakinya. Dan ternyata benar, ada darah dikakinya akibat terkena pecahan cangkir tadi. Mengobati luka bukanlah hal baru bagi Dara. Hampir setiap hari Dara mengobati luka yang ada ditubuhnya. Karena memang hampir setiap hari ada saja yang ayahnya lakukan sampai Dara harus mendapatkan luka-luka itu.
...
"Nda, aku mau tanya sesuatu deh"
Hari ini tepatnya jam istirahat pertama disekolah Dara dan Arinda sedang menikmati semangkok mie ayam untuk Arinda dan sepiring baragor untuk Dara. Disaat sedang menikmati makanannya, Dara tiba-tiba saja teringat sesuatu. Ada hal yang mengganggu pikirannya sejak dirumah sakit beberapa hari yang lalu.
"Hmm, tanya apa?" Arinda menjawab setelah suapan terakhir mie ayam itu masuk kedalam mulutnya
"Dika punya adik ya?"
"Setau aku sih iya...dia punya adik perempuan"
"Danil pernah cerita sama kamu soal adiknya Dika?"
"Humm... Kalo gak salah sih waktu itu Danil sempat cerita kalau adiknya Dika itu buta, tapi katanya sih masih bisa sembuh dengan cara operasi"
"Operasi?"
__ADS_1
"Iya operasi, makanya Dika tuh lagi usaha cari pendonor mata buat adiknya. Makanya Dika itu sekarang lebih milih kerja dibanding lanjut sekolah. Karena dia mau ngumpulin uang buat biaya operasi. Itu juga yang buat Dika ikut balapan"
"Oh gitu ya"
"Emang ada apa sih?"
"Ah gak apa-apa kok. Cuma kemarin Dika sempat bilang aja kalo dia punya adik"
"Wah dia cerita sama kamu?"
"Iya cerita sedikit sih"
"Wow aku gak nyangka"
"Gak nyangka kenapa?"
"Iya karena menurut Danil, Dika itu bukan orang yang gampang cerita tentang hidupnya. Apalagi sama orang yang baru dikenal. Sama Danil aja dia gak gampang cerita"
...
Dara masih memikirkan kata-kata Arinda tadi siang tentang Dika. Apa benar laki-laki itu sulit bercerita tentang hidupnya pada orang lain. Dan apa benar yang Arinda katakan jika dirinya spesial untuk Dika, sampai laki-laki itu bisa bercerita padanya. Saat sedang sibuk dengan pikirannya, Dara dikagetkan dengan suara klakson motor didepannya.
Dara yang sedang menunggu angkot dihalte depan sekolahnya itu lantas melihat kearah depan dan dia melihat seorang laki-laki dengan motornya. Dia tentu mengenal siapa pemilik motor itu, dia hafal siapa yang biasa memakai helm itu, dan jaket hitam itu. Hari ini sekolah dibubarkan lebih cepat karena para guru akan melakukan rapat. Dan itu yang membuat Dara terkejut, kenapa laki-laki itu ada didepan sekolahnya. Tau darimana laki-laki itu jika dirinya pulang sedikit lebih cepat.
Walau Dara memiliki nomer ponsel Dika. Tapi dia tak seberani itu untuk memberi kabar pada Dika jika dirinya pulang lebih cepat. Apalagi untuk meminta laki-laki itu menjemputnya, dia merasa tak enak untuk itu. Selama ini pun kalau dirinya diantar atau dijemput, itu atas dasar kemauan Dika sendiri. Itu yang membuat dirinya makin tak enak hati sudah merepotkan laki-laki itu. Ditambah Dara tau jika Dika memiliki pekerjaan yang pastinya tak bisa ditinggalkan begitu saja.
"Iya, emang ada apa?"
"Gue mau ajak lu ketemu seseorang"
"Siapa?"
"Nanti lu akan tau"
Hanya ada percakapan itu selama perjalanan mereka diatas motor. Sampai akhirnya motor itu berhenti didepan sebuah rumah sederhana dengan pohon mangga didepannya. Ada dua buah kursi kayu diteras dan ada beberapa pot bunga mawar yang terlihat cantik. Suasananya cukup tenang dengan suara dari burung-burung milik tetangga sebelah rumah itu.
"Ini rumah siapa?" tanya Dara saat dirinya sudah melepas helm hitam itu
"Rumah gue... Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam. Mas Dika" suara seorang gadis menjawab dari dalam rumah
"Iya, ini mas. Mas bawa seseorang"
__ADS_1
"Siapa mas?"
"Namanya Dara"
"Hallo aku Dara"
"Hallo juga kak Dara, aku Selly adiknya mas Dika. Tapi maaf ya kak, aku gak bisa lihat wajah kak Dara"
"Iya gak apa-apa kok. Salam kenal Selly yang cantik"
"Kak Dara juga pasti cantik banget deh. Mas Dika bisa aja nih cari pacarnya"
"Masuk yuk" Dika seolah mengalihkan pembicaraan kedua gadis itu
"Kak Dara mau minum apa?"
"Eh gak usah repot-repot"
"Nih diminum. Maaf cuma ada air putih"
"Ya ampun, aku jadi bikin repot"
"Santai aja kak. Mas Dika suka kok dibikin repot"
"Bisa aja ngomongnya nih" cubitan lembut dipipi sang adik dilakukan Dika demi menggoda sang adik
"Aduh aduh sakit mas. Ampun"
Dara melihat adik kakak yang sedang bercanda itu seolah teringat masa lalunya saat bersama dengan sang kakak. Dia rindu kakaknya, dia rindu seseorang yang selalu memanjakannya. Sekarang hanya ada dirinya sendiri yang harus pura-pura kuat dan mandiri. Betapa beruntungnya Selly yang memiliki Dika yang begitu menyayanginya.
...
Setelah 1 jam Dara berada dirumah Dika dan berbincang dengan Selly adik dari Dika itu. Kini keduanya sedang berada ditaman tak jauh dari cafe tempat Dara bekerja. Dara akhirnya sedikit tau tentang Selly. Dia anak gadis yang manis dengan cara bicada yang lembut. Anak yang baik dan punya aura yang positif. Selama pembicaraan dirumah tadi, Dara merasa Selly adalah gadis kecil dengan pemikiran yang dewasa. Dimana gadis itu tau jika sang kakak bekerja keras untuk pengobatan dirinya. Jadi apapun yang terjadi dia harus tetap semangat hidup demi sang kakak.
"Dokter bilang mata Selly masih bisa disembuhkan" dengan mata yang lurus kedepan Dika mencoba bercerita
"Syukurlah"
"Dan itu harus dengan cara operasi donor mata. Entah apa istilah dokternya itu, tapi yang pasti aku dan pihak rumah sakit lagi berusaha mencari pendonor itu"
"Belum ada yanh cocok?"
"Belum. Dan selama menunggu aku masih punya waktu untuk cari uang uang. Biayanya gak murah ya ternyata"
__ADS_1
...
"kami berhak bahagia"