
...
Malam semakin larut, arena balapan juga semakin ramai. Dika pun sedang bersiap dengan pakaian balapnya dibantu oleh Danil. Laki-laki itu sesekali melirik Dara yang berada diantara barisan bersama dengan Arinda. Gadis itu malam ini nampak imut dimata Dika dengan bandana berpita pink dikepalanya. Danil bahkan tau jika Dika sedang tersenyum dibalik helmnya. Entah rasanya Danil punya firasat baik tentang dua orang itu. Bagi Danil, Dika bukan hanya sekedar teman tapi juga sebagai saudara baginya.
"Udah jangan diliatin terus" canda Danil pada Dika
"Apasih lu"
"Nanti kalo lu menang, lu boleh anter dia pulang" seolah Danil mengerti isi pikiran sahabatnya itu
Dalam hati Dika seberangnya mengiyakan ucapan Danil itu. Tapi bibirnya seolah kaku karena malu mengakui bila dirinya tertarik dengan Dara.
Dan sepertinya balapan kali ini selain untuk memenangkan hadiah, tujuan Dika bertambah menjadi ingin bisa mengantar gadis itu pulang. Seolah mendapat kekuatan baru, Dika pun memulai balapan dengan rasa percaya diri yang luar biasa.
...
"Dika tuh termasuk yang paling jago balapan, Ra"
"Ya tetap aja balapan gini kan bahaya, Nda"
"Iya iya duh yang khawatir" Arinda tau jika Dara mencemaskan Dika tapi dia gengsi
"Udah kamu tenang aja. Dika pasti menang kok"
Ucapan penenang dari Arinda tak merubah apapun.
Termasuk suasana hati Dara yang tetap saja khawatir pada Dika. Gadis itu seolah sedang mencemaskan kekasihnya yang sedang bertarung nyawa. Arinda pun diam-diam memperhatikan raut wajah cemas sahabatnya itu.
Bagi Arinda baru kali ini dia melihat sahabatnya itu mencemaskan seorang laki-laki. Memang banyak laki-laki yang menyukai Dara. Tapi sahabatnya itu terlalu cuek dan tak peka, sehingga tak mau terlalu peduli dengan itu.
Tapi kali ini, Arinda melihat sisi lain dari Dara. Gadis itu tampak sekali cemas dengan tangan yang terus menggenggam dan sorot mata yang tak lepas pandangannya dari Dika. Bahkan dari sebelum laki-laki itu memulai balapannya.
...
"Selamat ya Dik"
"Selamat ya bro. Emang cocok deh lu jadi yang paling ditakuti kalo urusan balapan"
Ucapan ucapan itu datang dari banh Ronald dan juga Danil setelah Dika sampai di garis finish sebagai juara dengan meninggalkan jauh lawan-lawannya yang lain. Dika, adalah salah satu pembalap terbaik yang cukup ditakuti.
"Nih, hadianya" bang Ronald memberikan hadiah yang dijanjikannya pada Dika bila mampu memenangkan balapan malam ini
"Alhamdulillah, makasih bang. Nih bang, tolong teraktir anak-anak ya" Dika pun memberikan sebagian uangnya kepada bang Ronald
Bagi Ronald itu sudah menjadi kebiasaan Dika jika menang balapan atau bahka jika laki-laki itu mempunyai rejeki lebih. Dia pasti tak pernah lupa untuk berbagi atau sekedar mentraktir teman-temannya yang lain. Padahal dia sendiri pun membutuhkan uang untuk pengobatan adiknya.
Tapi Dika tetaplah Dika yang suka berbagi. Itulah yang membuat Ronald selalu memberi tau Dika jika ada event balapan seperti malam ini yang mendapatkan hadiah. Karena Ronald tau jika Dika membutuhkan uang yang banyak untuk adiknya dan juga untuk hidupnya sehari-hari. Dan Ronald juga tau, walaupun bisa dibilang tempat mereka berkumpul sekarang bukanlah tempat yang baik.
Bahkan tak sedikit yang minum minuma keras, merokok, sampai tak segan bercumbu dengan pasangannya. Tapi Ronald, Danil, dan juga Dika bisa membatasi diri mereka. Mereka benar-benar hanya profesional disana tanpa mengikuti gaya orang-orang disana.
__ADS_1
Terlebih lagi Dika yang dari awal Ronald kenal sudah membuatnya kagum. Anak itu tak pernah meninggalkan ibadahnya dan tak pernah menyentuh rokok apalagi minuman alkohol. Ronald tau cerita masa lalu Dika yang harus merasakan pahit dan dinginnya sel penjara. Tapi, Ronald juga percaya jika yang dilakukan Dika adalah sebuah pebelaan harga diri. Maka Ronald pun tak pernah ragu dengan Dika, baik itu sifat, sikap, atau yang lainnya.
...
Di sebuah kursi taman dengan penerangan lampu taman dan juga lampu-lampu dari air mancur menambah suasanya romantis diantara dua manusia yang masih malu-malu mengakui ketertarikannya ini.
"Nih minum dulu" Dika memberikan sebotol air mineral untuk Dara
Ya, sesuai janji Danil tadi jika Dika menang maka dia boleh mengantar Dara pulang. Dan disinilah mereka sekarang. Tadi saat diperjalanan pulang dan melewati taman ini Dara langsung meminta Dika untuk berhenti.
Sepertinya Dara ingin mencari udara segar dulu sebelum sampai dirumah dan bertemu denga ayahnya yang tak menutup kumungkinan mereka akan bertengkar lagi. Dika pun setuju dan tadi pun saat membeli minuman untuk Dara, dia sudah menghubungi adiknya dirumah dan berkata jika dirinya akan pulang larut malam. Jadi Dika meminta adiknya itu untuk tidur lebih dulu, setelah sebelumnya memastikan adiknya itu sudah makan malam.
"Disini tenang banget ya" tatapan Dara tak lepas dari air mancur didepannya itu
Dika yang duduk disampingnya pun sedikit melihat kearah Dara yang sepertinya sedang punya banyak beban itu
"Iya karna sepi" Dika masih bingung bagaimana harus merespon Dara
Karena jujur saja, ini baru pertama kalinya Dika berdua saja dengan seorang gadis. Tadi saat dijalan pun Dika hanya diam saja dan fokus pada jalanan. Tak banyak percakapan diantara keduanya yang masih sama-sama canggung itu
"Kamu kenapa sih suka balapan?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir mungil Dara
"Butuh hiburan aja"
"Hmm kamu sekolah?"
Kini pandangan Dika yang lurus kedepan tanpa menghiraukan raut wajah Dara yang bingung itu.
"Terus? Kamu kuliah?"
"Gak"
"Terus kamu-"
"Gue kerja, jadi montir" mata mereka kini saling bertemu
"Kerja? Berarti kamu udah lulus sekolah"
"Gue ga lulus"
"Loh-"
"Kok jadi kayak diwawancara gini sih"
"Hmm maaf" menyadari kesalahannya Dara pun menundukan kepalanya
"Lu lagi ada masalah?" kali ini Dika mencoba obrolan dengan gadis itu
"Hah, ga ada kok"
__ADS_1
"Terkadang yang terlalu banyak bilang gak apa-apa biasanya lagi banyak ada apa-apanya"
"Aku cuma lagi capek aja"
"Lu boleh kok gunain hak lu sebagai manusia sekarang"
"Maksudnya?" Dara yang tak mengerti ucapan Dika itu pun menatap laki-laki itu seolah meminta penjelasan
"Kita sebagai manusia punya hak buat ngeluh. Jadi, lu boleh ngeluh sekarang, sampe lu puas"
Huft
Tarikan napas itu terdengar dari mulut Dara yang membuat Dika melihat kearah gadis itu
"Setiap manusia boleh kok ngeluh, boleh juga kok nangis, bahkan boleh juga kok berhenti buat istirahat, asal jangan nyerah. Ga harus kok kita jadi kuat terus. Kita juga punya waktu buat lemah, cuma ya suka kalah aja sama ucapan orang yang menghakimi"
"Aku capek"
"Terimakasih"
"Hah kok terimakasih?"
"Iya, terimakasih udah mau jujur sama diri lu sendiri kalo lu lagi gak baik-baik aja"
"Rasanya aku udah gak tau mau gimana lagi. Batin aku capek, tubuh aku sakit, tapi aku masih belum mau nyerah"
"Jangan pernah mau kalah sama masalah"
"Walau itu orang tua kamu sendiri?"
"Gue percaya lu mampu"
"Kalau aku gak mampu?"
"Cuma lu yang tau gimana diri lu sendiri. Lu boleh kehilangan harapan lu sama orang lain atau bahkan sama orang tua lu sendiri. Tapi lu gak boleh kehilangan diri lu sendiri"
"Terimakasih ya"
"Untuk?"
"Untuk malam ini, entah kenapa aku jadi sedikit lega setelah ngomong gini sama kamu. Ya walau gak semuanya, tapi ini udah cukup buat aku jadi sedikit lebih baik kok"
"Iya, sama-sama" Dika tak fokus dengan senyum yang diberika Dara saat itu.
Senyum yang sepertinya akan dibawa Dika sampai alam mimpi nanti.
...
"Dasar murahan, sudah berani pulang larut malam"
__ADS_1