Mahadara

Mahadara
episode 13


__ADS_3

Hari ini Dara tak masuk sekolah. Bukan karena gadis itu sakit atau bolos, tapi karena gadis itu sedang mengikuti olimpiade sekolahnya. Dika sudah bersiap dengan motornya didepan sekolah Dara. Dia tak tau kalau Dara hari ini tak ada disekolahnya.


"Loh, Dika?" sapa Arinda yang melihat Dika didepan sekolahnya


"Dara mana?" bukannya menjawab laki-laki malah balik bertanya


"Lo gak tau kalo Dara gak kesekolah hari ini"


"Kenapa? Sakit" ada nada khawatir dan cemas disana


"Bukan, tapi dia lagi ikut olimpiade sains"


"Pulang jam berapa?"


"Ya mana gue tau"


"Oke, thanks"


Setelahnya Dika langsung memakai helmnya dan melajukan motornya meninggalkan Arinda yang masih dengan rasa bingung dan kesalnya karena respon Dika yang dingin itu.


Dika akhirnya kembali ke bengkel setelah tak jadi menjemput Dara. Tadi Dika berniat menjemput gadis itu dan ingin mengajaknya kesuatu tempat. Tapi ternyata Dara sedang mengikuti olimpiade. Dika jadi teringat ucapan Danil, jika Dara adalah gadis yang pintar.


...

__ADS_1


Malam harinya Dika kembali menjemput Dara. Tapi kali ini laki-laki itu menjemputnya di cafe tempat Dara bekerja. Laki-laki dengan jaket hitam itu duduk manis dimotornya tanpa berniat masuk kedalam cafe. Kali ini Dika bisa dipastikan akan mengantar Dara pulang sampai rumahnya. Karena dari tempat laki-laki itu menunggu dengan motornya, dia bisa melihat Dara yang sedang sibuk melayani pengunjung cafe. Dan sesekali gadis itu bercanda dengan wanita yang lebih tua dari Dara. Tapi ada yang membuat hatinya tak nyaman, disaat dia melihat Dara didekati oleh seorang laki-laki yang seusianya. Laki-laki dengan seragam yang sama dengan Dara itu seolah sedang mencoba menggoda Dara. Namun respon Dara hanya biasa saja, itu yang membuat Dika sedikit lega.


Entah perasaan apa yang Dika punya untuk Dara. Sampai sepertinya dia tak rela melihat kedekatan gadis itu dengan laki-laki lain.


...


"Dika" sapa Dara yang kaget melihat Dika duduk diatas motor didepan cafe tempatnya bekerja


"Ayok"


"Kamu nungguin aku?"


"Iyalah, emang nunggu siapa lagi. Nih helmnya"


"Nanti aja kalo udah sampe"


"Hah, apanya?"


"Bilang makasihnya"


"Oh iya"


Dengan bibir yang tersenyum Dara menaiki motor Dika. Entah rasanya hatinya menghangat melihat sikap Dika malam itu. Rasanya senang Dika menjemputnya kali ini. Selain gadis itu yang senang bertemu dengan Dika, Dara juga lega karena bisa terbebas dari paksaan Awan yang ingin mengantarnya pulang.

__ADS_1


Tadi, disaat pengunjung terakhir cafe pergi Dara tak sengaja melihat Dika yang duduk diatas motornya. Entah Dara rasanya sangat percaya diri kalau Dika ingin menjemputnya. Karena Arinda tadi mengiriminya pesan kalau Arinda bertemu dengan Dika didepan sekolah yang mencari dirinya. Jadi boleh kan kalau sekarang Dara percaya diri kalau Dika ingin menjemputnya sepulang bekerja.


Dan tentu saja kesempatan itu Dara gunakan untuk alasan menolak tawaran Awan yang ingin mengantarnya pulang. Jujur, semakin lama Dara tak nyaman dengan sikap Awan padanya. Kemarin mba Dewi bilang, katanya Awan itu menyukainya. Tentu Dara tak percaya, karena bagi Dara, Awan hanyalah sahabatnya di cafe. Dan mba Dewi juga sempat bilang, kalau memang dirinya tak menyukai Awan, maka Dara harus bisa bersikap tegas pada Awan. Atau pada sikap laki-laki itu jika membuat dirinya tak nyaman.


...


Malam sudah menunjukan pukul 00.00, tapi Dara masih terjaga. Gadis itu belum merasa mengantuk. Bahkan dia seperti sedang memikirkan sesuatu. Tadi saat dirinya diantar pulang oleh Dika ada sebuah kejadian yang membuat dirinya semakin penasaran dengan laki-laki itu. Saat hampir sampai rumah Dara, mereka melihat ada seorang wanita yang sepertinya baru saj pulang bekerja sedang diganggu oleh beberapa preman. Bahkan saat mereka menghampiri terlihat preman-preman itu mencoba merebut tas sang wanita.


Dan tanpa pikir panjang, Dika langsung menghentikan motornya dan meminta preman-preman itu untuk mengembalikan tas yang sudah mereka ambil. Dara yang bersama Dika hanya bisa diam dan mencoba membantu wanita itu yang terjatuh setelah sebelumnya didorong oleh preman itu. Dara terkejut dengan Dika yang tiba-tiba saja mendapat pukula dipipi kirinya yang menyebabkan sudut bibirnya berdarah.


Tapi, Dika tak diam begitu saja, seolah marah karena pukulan itu. Akhirnya Dika melawan kedua preman itu dengan memukulnya. Pukulan demi pukulan Dike berikan ada preman preman itu tanpa ampun dan tanpa memberi kesempatan preman itu perlawanan. Dan akhirnya keributan itu berakhir dengan larinya kedua preman itu setelah mengembalikan tas yang dirampasnya dan meminta maaf. Tak lupa juga preman itu memohon ampun pada Dika yang sudah memukul mereka.


Setelahnya, Dara diantar Dika sampai kedepan rumah. Tapi Dara masih penasaran dengan Dika dan seperti apa hidupnya. Masalahnya setelah perkelahian itu terjadi ada beberapa orang yang lewat dan mereka ternyata cukup mengenal Dika. Bahkan mereka terlihat seperti menghormati Dika. Dara penasaran kenapa orang-orang itu bisa begitu menghormati Dika. Bahkan mereka juga bersedia mengantarkan wanita yang dirampok tadi sampai kerumahnya karena perintah dari Dika.


Dara sempat bertanya pada Dika, tapi Dika hanya menjawab jika mereka adalah teman-temannya. Dika juga sempat bilang untuk Dara semoga tidak terkejut nantinya disaat mengetahui tentang hidup laki-laki itu. Dara tak mengerti maksud dari kata-kata Dika itu. Dan disaat Dara bertanya, Dika hanya menjawab jika belum waktunya Dara tau.


Tapi, jujur saja Dara penasaran tentang hidup laki-laki itu. Tentang Dika yang tak sekolah dan memilih bekerja di bengkel. Tentang laki-laki itu yang rajin beribadah, tentang laki-laki itu yang tak merokok apalagi minum alkohol ditengah pergaulan laki-laki itu yang rasanya wajar untuk minum alkohol. Apalagi tentang Dika yang beberapa kali bersedekah saat bersama dirinya. Dan ditambah malam ini, Dara melihat bagaimana Dika yang terlihat begitu ahli bela diri dan orang-orang yang terlihat menghormati laki-laki itu. Sebenarnya siapa Dika, siapa laki-laki yang membuat Dara merasakan penasaran seperti ini.


Mungkin memang Dara hanya bisa menunggu seperti yang Dika katakan. Jika dirinya nanti akan tau bagaimana cerita tentang laki-laki itu. Dan yang harus Dara pastikan adalah dirinya yang siap dengan segala cerita dan fakta yang mungkin diluar dugaannya. Atau bahkan membuatnya tak percaya. Tapi, Dara merasa, bagaimanapun fakta tentang Dika yang dia tau, Dara tetap akan menganggap Dika teman baiknya atau mungkin lebih. Tanpa Dara duga perasaan aneh dalam hatinya itu diartikannya sedikit-sedikit. Dara yang selalu mencoba peduli pada Dika, dan selalu merasa bahagia jika bertemu laki-laki itu. Dan sekarang, selain perasaan nyaman, Dara juga merasa aman seolah dilindungi oleh Dika.


...


"Masa sih aku suka sama dia"

__ADS_1


__ADS_2