
...
"Iihh gak belum kok"
"Hahaha cie Dara, berharap diajak jadian ya"
"Wah parah nih Dika udah bikin anak gadia baper"
"Ihh kalian tuh ya"
...
Setelah bertemu dengan Arinda dan Danil. Kini Dara sedang berada ditaman menunggu seseorang datang.
"Maaf nunggu lama"
"Iya, gak lama kok. Ada apa?"
"Cuma mau ngobrol aja sama lu"
"Iya"
"Minum dulu"
"Terimakasih"
"Dan gue rasa, lu udah boleh tau tentang siapa gue sebenaranya"
"Maksudnya"
"Lu udah kenal sedikit tentang gue selama ini. Lu juga udah kenal sama Selly. Gue sama Selly udah jadi anak yatim piatu sejak 7 tahun lalu. Lebih tepatnya sejak gue dikelas tiga SMP. Hahaha ternyata usia gue lebih tua ya dari lu tanpa disadari"
"Iya"
"Hidup gue awalnya sama seperti keluarga lainnya. Orang tua yang penyayang, hidup berkecukupan, dan bahagia. Sampai akhirnya datang tetangga baru didekat rumah gue. Dia laki-laki paruh baya yang ditinggal oleh istri dan anaknya"
"Lalu"
"Saat itulah kehancuran hidup gue dimulai"
"Ada apa?"
"Waktu itu hari minggu pertama dibulan maret, ayah pergi tugas ke Surabaya, gue ada acara disekolah dan Selly lagi main dirumah temannya yang gak jauh dari rumah. Bunda sendirian dirumah siang itu. Sore harinya gue pulang dari sekolah, pintu rumah tertutup dan samar samar gue mendengar suara tangisan dari dalam. Karna gue yang panik, gue buru buru masuk kedalam dan gue mengikuti suara tangisan itu. Ternyata suara itu dari arah kamar orang tua gue. Gue yang takut terjadi sesuatu sama bunda langsung gue buka pintu kamar. Dan gue dibuat terkejut dengan apa yang gue lihat didalam kamar"
Huft
Tarikan napas berat yang dilakukan Dika seolah menggambarkan apa yang akan diceritakan adalah hal yang sangat berat dan menyakitkan. Dan Dara mencoba untuk mengerti itu sedikit memberi kekuatan dengan mengusap punggung laki-laki itu. Setelah dirasa sudah cukup tenang, Dika kembali melanjutkan ceritanya.
"Gue liat bunda yang meringkuk diatas tempat tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Dan disamping ranjang ada si tua bangka tetangga baru gue itu. Gue yang marah lihat kondisi bunda dengan pikiran yang buruk langsung gue tarik orang itu keluar dari rumah. Dan itu bertepatan dengan ayah dan Selly yang pulang kerumah. Mereka kaget melihat gue yang menarik orang itu keluar dari rumah"
__ADS_1
"Ya ampun"
"Setelah bunda tenang dan cerita, ternyata benar dugaan gue. Bunda diperkosa sama orang itu. Ayah syok yang akhirnya harus masuk rumah sakit karena serangan jantung. Orang itu dibawa sama pak RT kepolisi dan ditahan"
"Ayah kamu?"
"Besok harinya, bunda datang menemui ayah dirumah sakit. Bunda minta maaf, emang bukan salah bunda, tapi bunda merasa kotor sebagai seorang istri. Kondisi ayah drop dan...huft...ayah meninggal"
"Innalillahi"
"Bunda depresi, setiap hari menangis dan mengamuk. Bahkan dia takut ketemu gue, bunda cuma mau didekati oleh Selly. Selly yang waktu itu yang baru berusia 8 tahun harus membantu gue merawat bunda"
Huft
"Gue masih sekolah waktu itu karena sudah mendekati ujian kelulusan. Dan setelah gue lulus, gue kembali dibuat marah. Lu tau, orang itu ternyata bebas dari penjara. Gue gak tau apa yang terjadi dipengadilan sampai bajingan itu bisa bebas. Tapi ada yang bilang, dia dibayarkan jaminan oleh saudaranya agar bisa bebas"
"Astaga"
"Dan bunda yang lihat orang itu ada lagi disekitar rumah akhirnya semakin depresi. Dan gue menemukan bunda...huh gantung diri dikamar"
"Apa?"
"Iya, bunda bunuh diri. Gue marah, gue marah sama diri sendiri yang gak bisa jaga bunda"
"Gak gitu"
"Ra, mungkin hal yang akan gue kasih tau ini bikin lu takut atau bahkan jijik sama gue"
"Kenapa?"
"Apa.." rasa kaget itu jelas tak bisa disembunyikan oleh Dara
Bagaikan petir yang menyambar dihari yang cerah, semua terasa mengejutkan bagi Dara.
"Iya, Ra. Gue ini seorang pembunuh. Gue membunuh orang yang udah nyakitin bunda. Gue membunuh orang yang udah tega jahat sama bunda"
Suara Dika bergetar, seolah dia sedang menahan kesakitan yang amat sangat sakit.
"Sebelum melakukan itu, gue udah menitipkan Selly lebih dulu dipanti asuhan. Gue gak mau Selly hidup sendirian tanpa ada yang mengurus apalagi dengan kondisi Selly yang masih kecil. Lu tau, Ra,... Selly itu dulu anak yang normal. Tapi saat gue menitipkannya dipanti, Selly mengalami kecelakaan yang membuat matanya buta sampai sekarang"
"Lalu, kamu?"
"Gue menyerahkan diri ke kantor polisi. Dan gue dipenjara 5 tahun karena waktu itu usia gue baru 15 tahun. Jadi gue dihukum dengan hukum anak dibawah umur"
"Iya"
"Gue janji sama Selly, setelah urusan gue selesai gue akan jemput dia. Dan gue menepati janji gue. Gue cuma punya Selly, Ra. Cuma dia yang gue punya, setelah gue yang baru tau juga ternyata bunda itu gak pernah direstui sama keluarga ayah. Yang akhirnya setelah ayah meninggal semua harta ayah diambil sama keluarganya. Gue yang gak paham dan gak sadar karena fokus merawat bunda waktu itu memudahkan mereka mengambil semuanya"
"Jahatnya"
__ADS_1
"Itulah kenapa sekarang gue berusaha keras kerja untuk biaya operasi Selly, yang dokter bilang bisa sembuh dengan operasi donor kornea. Gue juga beruntung dengan bos gue dibengkel yang mau nerima gue bekerja disana. Danil itu teman gue dulu dikomplek rumah, Ra. Jadi dia tau gimana cerita hidup gue. Dan Danil juga yang ngenalin gue sama bang Ronald"
"Pantes aja"
"Kenapa?"
"Kalian kelihatan dekat banget"
"Iya, dia yang bantu gue cari kerja, dia juga yang rutin jenguk gue dipenjara. Dia juga yang jaga Selly waktu Selly kecelakaan. Dan dia juga yang bantu gue cari rumah kontrakan setelah gue keluar dari penjara"
"Teman yang baik"
"Iya, gue bersyukur masih punya teman yang baik kayak dia. Dan lu sekarang pasti jadi takut sama gue ya?"
"Kenapa harus takut"
"Karena gue seorang pembunuh dan mantan napi"
"Jujur aku kaget dengan fakta semua ini. Tapi, aku percaya kamu lakuin itu demi bunda kamu, demi membela kehormatan bunda kamu kan. Aku malah salut sama kamu, ya walau cara kamu itu salah banget dan gak pantas dicontoh. Tapi aku salut kamu berani ambil resiko paling berat demi membela bunda, orang yang kamu sayang"
"Kalo boleh gue tukar nyawa, gue mau tukar nyawa sama bunda. Tukar rasa sakinya pindah ke gue, tukar segala beban hidupnya pindah ke gue. Bunda itu orang yang paling baik, gak pernah marah, selalu sabar, dan paling ngerti gimana gue yang bandel suka berantem dulu. Bunda yang selalu ingetin gue buat ibadah. Selalu ingetin gue berbuat baik sama orang, paling rajin ingetin gue buat jangan ngerokok apalagi lakuin hal-hal yang negatif. Tapi gue melanggar satu hal, gue jadi pembunuh"
"Tapi kamu lakuin itu juga kan demi bunda"
"Iya, tapi dosa gue besar banget, Ra"
"Tobat"
"Iya, itu yang gue lakuin disaat gue masuk penjara. Dan sekarang kalau lu mau menjauh gak apa-apa kok. Lu juga gak pantes berteman sama mantan napi kayak gue"
"Iihh kok gitu. Masa aku gak boleh berteman sama kamu, jahat banget"
"Ya gak gitu, Ra"
"Ya suka-suka aku dong mau berteman sama siapa aja. Kalau aku maunya berteman sama kamu gimana dong?"
"Hah? Lu gak takut sama gue"
"Gak, lagian aku takut apa? Takut disakitin sama kamu? Aku malah yakin kamu ngelindungin aku dari hal-hal yanh jahat. Iya kan?"
"Iya, makasih ya"
"Buat apa?"
"Udah mau jadi teman gue dan nerima gue"
"Setiap orang itu kan punya masa lalu. Gak semua orang juga masa lalunya baik kan. Dan tugas aku itu, cuma bisa menghargai setiap proses yang udah kamu lewatin. Bukannya menghakimi kamu karena kesalahan kamu aja. Aku juga kalau ada diposisi kamu akan lakuin hal yang sama, atau bahkan aku belum tentu bisa jadi seperti kamu. Jadi, selama kamu mau berusaha jadi yang lebih baik lagi kedepannya, ya aku juga mau bantu kamu"
"Makasih, dan lu juga harus janji sama gue. Lu harus selalu baik-baik aja ya, kalau ada apa-apa bilang sama gue. Termasuk soal ayah lu"
__ADS_1
"Humm iya"
...