Mahadara

Mahadara
episode 11


__ADS_3

...


Kemarin setelah Dika mengantarnya pulang, Dara kembali harus bertengkar dengan ayahnya. Dika, laki-laki itu memang berjanji akan mengantar Dara pulang setelah sore harinya mengantar gadis itu ke cafe tempat kerjanya. Dan malamnya Dika yang mengantar Dara akhirnya bertemu dengan ayah gadis itu. Ya, Dika memang bersikeras untuk mengantar Dara sampai depan rumahnya kali ini. Namun, bukan sambutan hangat atau khawatir seorang ayah pada anak gadisnya itu. Melainkan caci maki yang Dika dengar dari laki-laki paruh baya berbadan cukup tegap. Dika yakin itu adalah ayah dari Dara, dimana gadis itu memanggilnya "ayah".


Tapi, Dika tak mengerti dengan sikap ayah dari Dara itu. Mengapa laki-laki itu bersikap kasar pada putrinya. Dan kenapa Dara seolah menyembunyikan sesuatu sampai memaksa Dika untuk cepat pergi.


"Selain kerja di cafe, sekarang kamu juga jual diri hah?" bentakan demi bentakan itu terus memenuhi ruang tamu dirumah Dara


"Dia cuma teman Dara ayah" dengan air mata yang hampir saja menetes dan suara yang mulai bergetar Dara menjawab ucapan sang ayah


"Teman yang membayarmu untuk tubuhmu"


"Apa aku sehina itu dimata ayah" kali ini Dara memberanikan diri menatap mata sang ayah


"Kamu memang hina dimata saya. Saya gak peduli kamu mau jual diri atau tidak, asal kamu bisa terus memenuhi janjimu. Kamu masih ingat kan apa janjimu pada saya dihari kematian Rinjani"


"Tapi aku bukan ka Rinjani ayah, aku hanya bisa berusaha yang terbaik. Walau aku gak bisa seperti ka Rinjani, aku tetap anak ayah"


"Dengar, anak saya hanyalah Rinjani" sang ayah menyentuh dagu Dara dengan telunjuknya dan tatapan mata yang tajam


"Tapi ka Rinjani udah meninggal ayah!!" teriak Dara yang seolah meluapkan emosinya


Plak


Tamparan itu terasa sangat perih pada pipi kiri Dara, dan meninggalkan bekas kemerahan


"Beraninya kamu berteriak pada saya. Beraninya seorang pembunuh memaki saya. Ingat, kamu adalah penyebab dua orang yang saya sayangi itu pergi. Jadi jangan pernah gunakan air matamu itu didepan saya seolah kamu merasa tersakiti"

__ADS_1


...


Disudut kamar dengan lampu yang redup dari meja belajar itu Dara menangis hingga dadanya sesak. Rasanya susah sekali bernapas, rasanya ribuan pedang sedang menusuk dadanya secara bersamaan. Apakah benar ini takdir hidupnya, apakah Tuhan tak salah tentang menentukan takdirnya. Aku tak sekuat itu, tapi mengapa Tuhan memberiku takdir yang sangat menyakitkan ini. Aku yang gampang sekali menangis, harus bisa terus pura-pura tersenyum. Aku yang lemah, harus pura-pura kuat didepan orang lain. Lalu harus bagaimana lagi aku bisa bertahan.


Bertahun-tahun Dara harus berjuang dengan sakitnya caci maki dari sang ayah. Mungkin itu tak cukup membuat ayahnya puas juga. Kali ini bahkan sang ayah memakinya dengan "jual diri".


"Bu, Dara capek, Dara lelah bu"


"Bu, kenapa takdir Dara harus sesakit ini bu. Kenapa harus Dara yang menanggung semuanya"


"Dara salah apa bu"


"Ayah, sangat benci aku, bu. Sekuat apapun aku berusaha, ayah tetap tak pernah anggap aku"


"Apa ibu juga benci sama Dara? Sampai ibu pergi tinggalin Dara sebelum Dara mengenal ibu"


"Ka Rinjani bilang ibu cantik"


.


"Kakak yang anak ayah... Kakah yang pintar, kakak yang cantik, dan kakak yang selalu bisa buat ayah bangga"


"Ka, kenapa ka Rinjani tinggalin aku. Kenapa kakak gak ajak aku, ka"


"Hari ini ayah tampar aku lagi kak"


"Tapi, kali ini luka darahnya tak banyak"

__ADS_1


"Mungkin hanya luka hati aku aja yang semakin dalam"


"Ka, sampai kapan aku merasakan ini?"


"Aku capek kak, aku lelah hiks"


"Boleh ya, kalau aku pergi susul ka Rinjani dan ibu disana"


...


Tak akan yang baik-baik saja setelah mendengar kata-kata yang menyakitkan apalagi dari orang yang kita sayangi. Itulah yang dirasakan Dara malam ini, tubuhnya lemas tak sanggup lagi bertahan dengan sesaknya dada. Dia jatuh tepat dibawah shower kamar mandi didalam kamarnya. Dengan tangan yang bergetar dia mencoba meraih tombol untuk menyalakan shower itu. Rasanya dia butuh kesegaran untuk tubuhnya dan pikirannya. Dan air dingin itu semakin lama semakin membasahi seluruh tubuh mungilnya. Air mata yang kembali menetes dari kedua matanya seolah disamarkan dengan air.


Entah Dara harus apa sekarang, dia terlalu lemah untuk melawan sang ayah, orang yang dicintainya. Tapi Dara juga cukup paham jika dirinya tak akan sanggup bila harus bertahan terus. Dia juga punya batas kesabaran, punya batas kekuatan, dan itu tak tau sampai kapan.


Sesak didadanya kali ini cukup hebat. Tapi Dara tak juga beranjak dari posisinya, mungkin dia berpikir akan lebih baik jika mati saja sekarang. Pukulan pukulan mulai dari yang ringan sampai pukulan yang cukup kencang Dara lakukan pada dadanya yang rasa sesaknya sudah mulai membuatnya susah bernapas.


...


Setelah satu jam Dara mencoba pulih dari rasa sesaknya dan juga tangisnya. Kini gadis itu terdiam duduk dikasurnya dengan boneka gajah pemberian sang kakak saat hari ulang tahunnya yang ke 15 tahun. Wangi parfum khas kakaknya ada diboneka itu. Wangi strawberry dari botol parfum sang kakak yang diam-diam selalu Dara ambil dikamar sang kakak dan memakaikannya pada boneka gajah berwarna abu-abu itu. Dara suka wangi parfum sang kakak, sebab itulah Dara selalu ingin mengingat jika boneka itu adalah pemberian sang kakak dengan memberinya parfum yang sama dengan kakaknya itu. Namun setelah kakanya pergi, tak ada lagi parfum itu, tak ada lagi wangi strawberry itu dirumah ini.


Dengan boneka gajah yang masih dalam dekapannya, Dara kembali menangis. Tapi kali ini dia hanya menangis dalam diam. Tatapan matanya kosong, dan tak ada suara isakan dari bibirnya. Kali ini dia hanya mencoba menikmati segala sakitnya dan ingin memaafkan segala yang sakit hari ini sebelum dirinya pergi tidur. Walau besok paginya sudah dipastika Dara tak bisa menyembunyikan mata sembabnya itu disekolah.


Entah kenapa tiba-tiba saja bayangan Dika muncul. Bayangan bagaimana laki-laki itu tersenyum padanya tadi sore ditaman. Bayangan bagaimana laki-laki itu mengusap rambutnya disaat mencoba membersihkan kotoran yang ada dirambutnya. Bayangan bagaimana sikap laki-laki itu yang menurut Dara sangat baik pada seorang gadis. Dan Dara yang kali ini seolah mendengar suara Dika ditelinganya. Dan suara tentang apa yang laki-laki itu ucapkan.


Kata-kata yang selalu diucapkan Dika disaat mereka berbicara seolah mantra ajaib yang bisa membuatnya tenang. Bahkan bisa membuatnya berpikir dari arah pandang yang berbeda. Dara akui Dika membuat hari-harinya berwarna beberapa hari ini.


Rasanya Dara ingin bersama laki-laki itu untuk waktu yang lama. Bersama Dika ia ingin belajar tentang memaafkan. Dan ia juga ingin belajar bagaimana laki-laki itu mudah sekali membantu orang lain, yang Dara juga tau dia pun hidup dengan susah payah. Bagi Dara, Dika adalah laki-laki yang bisa membuatnya kagum dengan hal-hal sederhana yang laki-laki itu lakukan. Dara juga ingat apa yang pernah Dika katakan "jangan terlalu susah payah ngejar bahagia yang rumit, tanpa lu sadar banyak bahagia yang bentuknya sederhana".

__ADS_1


...


"Senyum lu cantik"


__ADS_2