Mahadara

Mahadara
episode 30. 2


__ADS_3

...


"Dikaaa!!!" semua orang berteriak


Perasaan cemas, khawatir dan takut campur menjadi satu saat teriakan itu terdengar. Dika, laki-laki itu jatuh dari motornya dan menabrak pembatas arena balapan.


Dara yang mendengar teriakan itu pun langsung berlari. Dan dilihatnya Dika yang sudah berlumur darah dari begian kepalanya dan kondisi motor yang hancur. Air mata gadis itu sudah tak bisa lagi dibendung. Badannya sudah bergetar hebat, lemas dan pikirannya kosong.


Bang Ronald sedang berusaha menghubungi ambulance dan Danil dan mencoba menenangkan semua orang yang ada disana.


"D-dika"


"D-dika bangun"


"Jangan buat aku ta-takut"


Suaranya bergetar, menandakan bagaimana sesaknya gadis itu saat ini


"Ra, tenang Ra"


"Di-dika Nda, dika"


"Iya iya, kita bawa Dika kerumah sakit ya. Kita tunggu ambulance ya Ra" pelukan Arinda tak terlepas sedikit pun.


Bagaimana pun dia tau Dara pasti khawatir pada kondisi Dika saat ini. Dirinya pun tak kalah khawatir, tapi rasa khawatirnya tentu tak sebesar Dara.


"Danil mana ambulance nya?"


"Lagi dijalan Ra, sabar ya"


"Itu ambulance nya datang"


"Kamu mau ikut ambulance Ra?" tanya bang Ronald pada Dara yang masih dipeluk oleh Arinda


"Iya bang kalau boleh"


"Iya boleh kok. Yaudah kamu ikut ambulance ya, abang ikutin dari belakang"


"Aku sama Danil juga ikutin dari belakang ya Ra"


"Iya"


...


Didalam ambulance Dara mencoba menggenggam tangan Dika, tangan itu sudah mulai terasa dingin dan perasaannya semakin kalut saja takut Dika meninggalkannya.


"Dika, bangun aku mohon..hiks.. Aku mohon jangan tinggalin aku...aku udah gak punya siapa-siapa, aku gak mau lagi kehilangan seseorang yang aku sayang. Aku sayang sama kamu hiks"


"Aku terlalu takut kehilangan Dika..hiks.. Kamu bahkan janji, kamu janji kan mau terus jagain aku, mau terus lindungi aku dari ayah. Ayo Dika bawa aku pergi dari ayah, tapi jangan kamu yang pergi hiks"


Isakan tangis pilu itu terdengar sepanjang jalan menuju rumah sakit didalam ambulance. Untung saja hari sudah tengah malam dan itu artinya lalu lintas tak ramai malah cenderung kosong. Yang membuat ambulance bisa sampai rumah sakit lebih cepat.


Dibelakang ada motor bang Ronald dan juga Arinda dengan Danil. Bahkan ada beberapa anak-anak lain yang ada dilokasi juga ikut mengantarkan Dika dan mengawal jalannya ambulance.


"Banyak yang sayang sama kamu, mereka mau kamu baik-baik aja, kamu orang baik" melihat cukup banyak motor yang ikut mengantarkan Dika


...

__ADS_1


Ambulance sampai di IGD rumah sakit terdekat dan langsung diturunkan dari ambulance.


"Kalian tunggu disini ya" ucap seorang suster


"Dika, Nda. Dia gak akan kenapa kenapa kan?"


"Iya, kita berdoa ya semoga Dika baik-baik aja"


"Sayang, aku sama yang lain parkir motor dulu ya. Kalau ada apa-apa kabarin aku"


"Iya"


...


Sudah 1 jam Dika ditangani, dan dokter belum juga memberikan keterangan apapun. Dara semakin cemas, bahkan tangannya yang penuh dengan darah gemetar. Tubuhnya lemas dan masih dipeluk Arinda duduk didepan ruang IGD sejak tadi.


"Minum dulu Ra" ucap bang Ronald yang juga khawatir dengan kondisi Dara


"..." gadis itu tak bersuara


Matanya sudah tak menangis bahkan tubuhnya sudah tak segemetar tadi. Tapi gadis itu hanya diam dengan pandangan kosong.


Teman teman yang lain sebagian sudah pulang dan sebagian masih menunggu diluar rumah sakit.


"Selly"


Mereka semua yang ada disana saling pandang lalu melihat ke arah Dara. Mengerti akan maksud Dara, Danil pun bersuara.


"Besok gue akan bawa Selly kesini, Ra"


"Kamu mau pulang aja, Ra? Istirahat" kini bang Ronald yang bersuara


"Besok kamu bisa kesini lagi, abang janji kalau ada kabar dari Dika nanti abang langsung hubungi kamu"


"Ayok, Ra pulang aku antar"


"Aku mau tunggu Dika"


Mereka pun tak bisa memaksa Dara. Karena mereka tau bagaimana khawatirnya gadis itu. Apalagi sebelum dan saat balapan pun gadis itu sudah terlihat cemas seolah memiliki firasat tentang kejadian itu.


"Pah"


"Loh kamu sama siapa kesini?"


"Sama Adit, dia ada didepan sama yang lain"


"Kan aku bilang gak usah kesini udah malem sayang. Terus anak-anak sama siapa?"


"Aku minta tolong sama bik Ani untuk jaga anak-anak malam ini"


"mba Dewi?!"


"Dara"


"Kok mba Dewi bisa disini? Terus bang Ronald"


"Mba tuh istirnya bang Ronald"

__ADS_1


"Hah, jadi..."


"Ya jadi mba Dewi juga kenal sama Dika, kenal banget malah sudah mba anggap dia adik sama seperti kamu, adiknya mba"


Pelukan itu langsung saja diberikan oleh mba Dewi melihat bagaimana kondisi Dara saat ini. Dia tau pasti gadis itu sangat khawatir dengan kondisi Dika. Dan dia juga tau, bagaimana Dika menyayangi gadis ini. Diam-diam ternyata Dika juga suka bercerita tentang Dara padanya. Dan itu juga permintaan Dika untuk merahasiakan jika mereka sudah saling mengenal. Bahkan sudah cukup lama.


"Keluarga pasien" dokter keluar dari ruang IGD


"Saya kakanya dok" bang Ronald pun menghampiri sang dokter


"Pasien berhasil melewati masa kritisnya, luka dikepalanya membuat pasien kehilangan cukup banyak darah. Tapi kami tak bisa memberikan terlalu banyak karena stoknya yang hanya ada sedikit. Jadi saya mau minta tolong untuk keluarga mencari darah dengan golongan O. Karena kami masih butuh sekitar 5 kantong darah lagi secepatnya"


"Baik dok, akan saya usahakan dapat secepatnya"


...


"Aku, golongan darah aku O" ternyata Dara memiliki golongan darah yang sama dengan Dika


"Aku juga" mba Dewi pun sama


"Yaudah kalian langsung temui suster ya. Hati-hati bund" bang Ronald pun mengijinkan kedua wanita itu mendonorkan darahnya


Walau ada sedikit khawatir dengan kondisi kedua wanita itu masing-masing.


Bang Ronald langsung menghubungi semua orang yang dia kenal. Untuk mencari donor darah yang cocok dengan Dika.


Ternyata jalannya dipermudah, beberapa teman-teman yang masih menunggu diluar rumah sakit ternyata memiliki golongan darah yang cocok. Syukurlah jadi mereka bisa lebih cepat memberikan darah itu untuk Dika.


"Dika tuh orang yang baik, makanya banyak yang nolong gini. Semuanya seolah dipermudah" Danil bersuara disebelah Arinda


"Iya ya, ini mungkin balasa atas kebaikannya Dika selama ini"


"Bahkan banyak yang respon gue dengan mereka yang mau bantu cari pendonor lainnya" kini bang Ronald yang bersuara


"Sekarang gue percaya bang, kalau kita berbuat baik maka kebaikan itu akan kembali ke diri kita sendiri dengan bentuk yang bermacam-macam"


"Iya lu bener"


"Bang"


"Eh Adit ada apa?"


"Nih dimakan dulu, ada rejeki"


"Dari mana? Anak-anak yang beliin?"


"Bukan, tapi dari tukang nasi goreng didepan rumah sakit ini"


"Kok bisa?"


"Katanya anggap aja itu doa biar Dika cepat sembuh. Karena bapak itu pernah beberapa kali ditolong sama Dika"


"Dia kenal Dika?"


"Iya, tadi pas anak-anak makan disana cerita dan ternyata bapak itu kenal sama Dika"


"Masya Allah"

__ADS_1


Benar-benar kebaikan yang mendapatkan balasannya dalam berbagai bentuk. Dan malam itu mereka semua bisa menyaksikan kebaikan-kebaikan Dika selama ini yang satu persatu mendapatkan balasannya.


__ADS_2