
...
Tak semua bisa mudah dimaafkan, dan mungkin ada beberapa hal yang butuh waktu lama untuk bisa dimaafkan. Sakit demi sakit tak selalu bisa mengajarkan arti memaafkan. Bahkan ada yang merubahnya menjadi beban. Mungkin itulah yang terjadi pada sang ayah. Tapi bagi Dara, mungkin memang ini balasan untuk Dara yang sudah membuat sang ibu pergi. Dara setuju dengan ucapan ayahnya itu. Tapi, haruskah ayahnya menyebut dirinya seorang pembunuh. Tak ada yang ingin ditinggal pergi oleh orang yang disayang, dan Dara pun tak meminta pada Tuhan untuk membawa ibunya pergi disaat dirinya lahir. Semua memang sudah takdirnya.
...
Hari ini, Dara datang kesekolah dengan mata sembabnya. Arinda yang melihat sahabatnya itu datang dengan kondisi yang tak baik pun mengerti. Sudah pasti itu ada kaitannya dengan ayah sahabatnya itu. Kondisi yang seperti itu bukan hanya kali ini Arinda lihat. Mungkin murid-murid yang tak terlalu menyadari mata bengkak Dara. Tapi, Arinda bisa melihat itu walau dari jarak yang cukup jauh seperti sekarang.
Arinda yang baru saja sampai disekolah setelah diantar oleh sang kekasih itu melihat Dara yang baru saja turun dari angkot di depan gerbang sekolah. Langkah gadis itu lemah dengan jaker berwarna biru yang dipakainya. Arinda yang melihat itu pun menghentikan langkahnya dan berniat untuk menunggu Dara. Keningnya semakin berkerut disaat melihat mata sembab sang sahabat.
Ya Tuhan, ada apalagi ini
Semakin Arinda berteman lama dengan Dara, maka semakin iba ia dibuatnya. Arinda merasa kasihan dengan hidup Dara yang menyakitkan. Bagi sebagian murid, Dara adalah definisi sempurna. Dara yang cantik, pintar, baik, dan selalu ramah pada orang lain seolah bentuk lain dari bidadari. Bahkan mereka berpikir hidup Dara sangatlah sempurna dengan jabatan sang ayah yang cukup penting disalah satu perusahaan. Tanpa mereka tau, bagaimana beratnya hidup Dara selama ini.
"Dara" panggil Arinda saat Dara melewatinya begitu saja
Sepertinya sahabatnya itu sedang melamun, sampai tak sadar ada dirinya disana.
"Eh, kamu baru dateng juga,Nda"
"Ada apa lagi?" pertanyaan itu langsung dilontarkan Arinda pada Dara, seolah ia butuh penjelasan secepatnya
"Biasa,Nda, ayah" dengan mencoba tersenyum Dara menjawabnya
"Bisa gak sih lu keluar dari rumah itu, Ra. Aku tuh bener-bener gak tega liat kamu kayak gini terus"
"Nanti... Nanti ada waktunya aku pergi, Nda"
...
Perkataan Dara tadi pagi masih mengganggu pikiran seorang Arinda. Entah apa maksud perkataan Dira tadi. Mungkin memang sebuah kalimat biasa, tapi Arinda merasa lain dengan ucapan Dara itu. Arinda merasa akan ada sesuatu yang terjadi dan membuat sahabatnya itu pergi.
Huft, semoga aja gak ada apa-apa
Arinda sejujurnya sangat takut kehilangan Dara. Selain sahabat, Dara itu sudah ia anggap sebagai saudara, dimana ia yang anak tunggal merasa punya saudara perempuan. Dan Dara juga adalah perempuan yang sudah mengajarkannya sabar dan kuat yang luar biasa. Dari Dara, Arinda juga belajar bagaimana memaafkan. Arinda selalu ingin melindungi Dara bagaimanapun caranya, sama seperti Dara yang pernah menolongnya sewaktu dirinya dibully pada tahun pertama masuk sekolah SMP. Arinda setuju dengan julukan murid-murid lain pada Dara, yaitu bidadari.
"Hari ini kamu kerja, Ra?"
"Iya aku kerja. Kenapa?"
__ADS_1
"Aku mau mampir ya nanti sama Danil"
"Mau kencan?"
"Hehehe iya, sekalian kasih semangat kamu kerja"
"Haha ada-ada aja kamu. Iya nanti aku tunggu ya"
...
Disebuah cafe dengan desaign yang cukup nyaman untuk sekedar minum kopi atau mencicipi kue kue manis ini. Dara sedang bersiap dengan seragamnya ditemani dengan candaan ringan dari para karyawan yang lain. Tadi disaat dirinya baru saja datang, mba Dewi sempat bertanya soal mata sembabnya hari ini. Ternyata bukan hanya Arinda yang menyadari kondisi Dara hari ini, tapi juga mba Dewi seniornya dicafe itu. Bahkan mba Dewi sempat memastikan jika tak ada luka sedikitpun ditubuhnya. Karena biasanya disaat Dara datang dengan luka ditubuhnya, maka mba Dewi dengan penuh perhatian akan mengobati luka-luka itu.
"Kamu yakin baik-baik aja?" nada khawatir itu bisa Dara rasakan dari pertanyaan mba Dewi pada dirinya
"Iya mba, aku yakin"
"Ada yang luka?"
"Gak kok mba, kali ini gak ada luka" mencoba tersenyum untuk meyakinkan mba Dewi jika dirinya benar baik-baik saja
"Tapi, pipi kamu sedikit merah, Dar" ya, mba Dewi bisa melihat warna merah samar dipipi kiri Dara, dan mencoba menyentuh dagu gadis itu dengan telunjuknya
"Masih ada obatnya?"
"Masih, mba tenang aja ya"
"Kalo obatnya habis bilang sama mba ya"
"Iya siap, terimakasih mba ku sayang" pelukan hangat itu Dara berikan pada mba Dewi yang sudah Dara anggap seperti kakanya bahkan ibunya
Dara yang sejak kecil tak tau bagaimana rasa hangatnya pelukan dan kasih sayang seorang ibu.
Hanya bisa mendapatkannya dari sang kaka, Rinjani. Namun setelah kepergian sang kakak, Dara kehilangan pelukan dan kasih sayang itu. Dan sekarang, setelah Dara bekerja di cafe dan bertemu dengan mba Dewi, Dara kembali merasakan itu semua. Bahkan mba Dewi lah yang selalu khawatir bila dirinya sedih. Dan mba Dewi juga yang akan sibuk mencari obat untuk luka-luka ditubuhnya.
Bahkan mba Dewi sempat menawarkan Dara untuk tinggal dirumahnya menjadi adiknya. Tapi, Dara cukup tau diri, dimana mba Dewi yang sudah menjadi seorang istri dan ibu itu tak baik jika membawanya tinggal dirumahnya bersama sang suami. Apalagi mereka tak ada ikatan darah sedikitpun. Dara hanya bisa meyakinkan mba Dewi jika dirinya bisa menjaga diri dan akan tetap baik-baik saja.
Ya, mba Dewi memang tau bagaimana cerita hidup Dara. Hal itulah yang membuatnya khawatir dengan Dara dan bersikap seperti itu.
...
__ADS_1
Hari sudah pukul 8 malam. Dan Arinda menepati janjinya untuk datang ke cafe tempat Dara bekerja. Tapi gadis itu tidak hanya datang dengan kekasihnya. Arinda datang memasuki cafe dengan tangan bergandengan dengan Danil, dan dibelakangnya ada laki-laki berbadan tinggu dengan kaos hitam serta topi hitam. Dara mengenal siapa laki-laki itu.
"Hay, nih aku bawa Dika biar kamu makin semangat kerjanya" dengan nada candaan itu Arinda menyapa Dara
"Eh ada Arinda, apa kabar sayang" sapa mba Dewi yang cukup mengenal Arinda sebagai sahabat dari Dara
"Baik kok mba. Mba Dewi ih makin cantik aja deh"
"Bisa aja kamu tuh. Tunggu deh.. yang ini kan pacar kamu, terus yang ganteng ini siapa?"
"Ih pacar aku juga ganteng ya mba.. yang ini itu calon pacarnya Dara, namanya Dika" tunjuk Arinda pada Dika dan mengenalkannya pada mba Dewi
"Eh calon pacar Dara. Wah kayaknya harus aku interview dulu nih"
"Hahaha boleh aja mba"
...
Setelah kedatangan Arinda dan Danil bersama dengan Dika tentunya. Suasana hati Dara sedikit lebih baik. Gadis itu sudah tak terlihat begitu murung seperti sebelumnya. Ditambah dengan ledekan-ledekan yang dilontarkan oleh Arinda atau mba Dewi, belum lagi Danil juga ikut menggodanya.
Tapi, Dara bingung dengan sikap Dika yang terkesan membiarkan meledek mereka berdua. Laki-laki itu diam dengan gelas kopi dihadapannya. Dia hanya akan berbicara ketika ditanya atau diajak berbicara, selebihnya ya haya memperhatikan.
Arinda dan Danil pulang lebih dulu setelah cafe itu tutup. Tapi tidak dengan Dika yang masih menunggu Dara diatas motornya. Helm sudah terpasang dikepalanya dan satu helm yang sedang ia pegang.
"Udah" ucapnya setelah memasangkan dengan baik helm itu di kepala Dara
"Makasih" senyum manis itu terlihat dari bibir mungil Dara
"Kalo lu ngerasa gue terlalu ngebut bilang ya"
"Iya, siap kapten hehehe"
"Gue seneng liat lu senyum kayak gitu. Jangan sedih-sedih lagi ya, banyak yang sayang sama lu"
Disaat itu juga, Dara merasakan dadanya berdegup sangat cepat. Dan ia merasakan perasaan yang aneh. Apalagi Dika mengucapkan itu sambil memegang kepalanya yang sudah terpasang helm.
...
Gue selalu mau liat senyum itu
__ADS_1