
...
Dara kaget Dika ternyata membalas pesannya. Dia pikir laki-laki itu sudah istirahat dan akan melihat pesan yang ia kirim besok hari. Gadis itu jadi bingung harus membalas apa lagi. Awalanya Dara memang ingin mengajak Dika bertemu besok untuk meminta maaf. Namun, entah kenapa sekarang dirinya jadi deg deg-an.
Blm tdur?
Getaran diponselnya menyadarkan Dara dari lamunannya. Ternyata Dika kembali mengiriminya pesan, setelah tak ada lagi respon dari Dara.
Iya, belum
Ada masalah?
Hah, gk ada kok
Syukurlah
Dika
Y
Hmm
Apa?
Besok ada wktu?
Gue tnggu d taman jam 4 sore y
Eh, iya
Ydh skrng lu tdur, udh mlm
Iya, selamat malam Dika
Slmt mlm
Malam itu ditutup dengan keduanya yang sama-sama merasakan salah tinggah. Dara yang terkejut karena Dika yang mengerti maksudnya yang ingin bertemu laki-laki itu besok. Dan dirinya yang juga tak mengerti kenapa dia bisa mengucapkan selamat malam lebih dulu. Rasanya jantung Dara lepas dari tempatnya.
Sedangkan Dika, jujur laki-laki itu juga merasakan perasaan aneh pada dirinya. Jantungnya berdebar cepat, dan seolah ada angin sejuk yang berhembus dihatinya. Sebenarnya sebelum Dara mengiriminya pesan. Dika sudah berniat akan menjemput gadis itu sepulang sekolah besok. Tapi ternyata Dara lebih dulu mengajaknya bertemu. Walau gadis itu belum sempat bilang, namun Dika sudah yakin tentang itu. Anggap saja dia terlalu percaya diri.
Tapi, yang membuatnya kini terus tersenyum adalah ucapan selamat malam dari gadis itu. Gadia yang beberapa hari ini sudah membuat kepalanya pusing memikirkannya. Ditambah perasaan aneh yang ada dihatinya setiap kali memikirkan gadis itu.
Dan Dika tak mau berbohong kali ini, jika dirinya rindu dengan Dara. Rindu dengan tatapan mata gadis itu. Suara lembutnya dan senyumnya yang indah. Rasanya Dika tak sabar ingin cepat bertemu dengan gadis yang sudah membuatnya hampir gila beberapa hari ini.
...
Pagi harinya, Dara bangun dengan wajah ceria dan bibir yang terus tersenyum. Entah seolah dia dapat energi baik untuk hari ini. Ah, apa mungkin ini efek dari pesan Dika tadi malam yang membalas ucapan selama malam darinya. Entahlah Dara tak tau, tapi yang dia tau hari ini dirinya merasa jauh lebih baik dan merasa bahagia.
"Selamat pagi, yah"
"Hm"
"Ini sarapan buat ayah. Dan ini obat yang harus ayah minum pagi ini"
"Ya"
"Yaudah kalau gitu Dara pamit berangkat sekolah ya, Yah. Ayah jangan lupa habiskan sarapannya dan diminum obatnya"
"Ck bawal"
"Hehehe, dadah ayah"
__ADS_1
Laki-laki paruh baya itu heran dengan sikap Dara pagi ini. Ada apa dengan anak itu, kenapa hari ini ceria sekali. Bahkan Dara memasak cukup banyak untuk sarapan pagi ini.
...
Setelah turun dari angkot tepat didepan halte sekolahnya. Kini Dara berjalan menuju gerbang sekolahnya bersama dengan siswa lain yang juga baru datang.
"Ada apa nih. Kayaknya ada yang lagi bahagia"
"Ihh Arinda ngagetin aja"
"Kamu aja yang gak dengar aku panggil dari tadi, Ra"
...
"Kamu beneran gak mau bareng aku, Ra?"
"Iya, beneran"
"Yaudah hati-hati ya"
"Iya siap"
Bel pulang sekolah sudah berbunyi dari 15 menit yang lalu. Dara dan Arinda yang berjalan bersama keluar sekolah itu harus berpisah diarea parkir sekolah. Arinda yang hari ini membawa sepeda motornya dan Dara yang menolak ajakan pulang bersama sahabatnya itu.
Tadi 10 menit sebelum bel pulang berbunyi. Dara mendapat sebuah pesan dari Dika, jika laki-laki itu akan menjemputnya. Padahal tadi malam laki-laki itu yang bilang jika mereka bertemu langsung di taman. Entahlah Dara juga bingung, tapi juga senang bisa dijemput oleh Dika lagi. Tapi hatinya tak bisa tenang sedari tadi.
Dara memang tak bilang apapun pada Arinda. Maka dari itu, Dara menolak ajakan Arinda untuk pulang bersama.
Sekarang disinilah Dara, dihalte depan sekolah untuk menunggu Dika menjemputnya. Tempat biasa dimana Dika selalu menjemput dan mengantarnya sekolah.
Tin tin
"Udah siap?"
"Ayo"
...
Setelah 20 menit, akhirnya mereka sampai di taman yang tak jauh dari rumah Dara. Tadi gadis itu sempat bilang, jika hari ini Dara libur bekerja. Jadilah Dika mengajak gadis itu ke taman didekat rumahnya.
"Nih, diminum dulu"
"Eh iya, terimakasih"
"Maaf ya"
"Hah"
"Gue minta maaf. Maaf udah jauhin lu beberapa hari ini"
"Harusnya aku yang bilang maaf sama kamu" dengan wajah tertunduk, Dara merasa bersalah pada laki-laki disampingnya itu
"Gue yang salah, gak bisa ngertiin kondisi lu. Gue salah udah berbuat gak baik sama bokap lu waktu itu"
"Gak, Dika gak salah, tapi aku yang salah. Aku tau kamu cuma mau melindungi aku dari ayah. Tapi aku juga gak mau kamu nantinya berurusan sama ayah. Aku gak mau kamu kenapa kenapa"
"Hey, gue ini laki-laki. Udah sewajarnya kalau ngelindungi lu dan jagain lu"
"Maaf ya, udah jauhin kamu beberapa hari ini. Aku egois, padahal niat kamu baik"
"Iya gak apa-apa kok. Udah ah lu jangan sedih gitu. Oh ya, lu dapet salam dari Selly"
__ADS_1
"Ah iya, yaampun aku kangen sama Selly"
"Jadi lu mau maafin gue kan?"
"Iihh Dika, kan harusnya aku yang minta maaf sama kamu"
"Hahaha yaudah, kita saling maafin ya"
...
Setelah saling menjelaskan kesalah pahaman beberapa hari lalu. Kini Dika sedang mengantarkan Dara sampai kerumahnya. Dika mengantarkan Dara sampai didepan pintu rumah gadis itu. Tak lagi sampai didepan gang rumah gadis itu seperti biasanya. Karena Dika sudah bertekad untuk melindungi Dara. Bahkan menyelamatkan gadis itu dari siksaan ayahnya.
"Udah sana masuk"
"Makasih ya udah mau anter aku sampai rumah"
"Iya sama-sama. Bokap lu belum pulang?"
"Iya belum, biasanya ayah pulang malam"
"Oh gitu, yaudah lu masuk terus istirahat"
"Iya, kamu hati-hati ya bawa motornya"
"Siap"
...
Malam ini ayah Dara tak pulang. Entah kemana sang ayah hingga tak pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Dan barusan Dara mendapat pesan dari ayahnya itu.
Saya gk plng
Dara sempat bertanya kenapa ayahnya itu tak pulang. Tapi, seperti biasanya, ayahnya itu tak akan pernah merespon pesan yang Dara kirimkan. Malam ini Dara sendirian dirumah, pikirannya masih melayang pada pertemuannya dengan Dika sore tadi.
"Kalo ada apa-apa bilang ya sama gue"
"Iya"
"Dan kalo bokap lu sampe mukul lu lagi, lu harus bilang sama gue"
"Kenapa?"
"Biar gue bantuin bales bokap lu"
"Eh jangan"
"Ra, gue tau lu sayang sama bokap lu, tapi lu juga gak bisa terus-terusan biarin diri lu tersiksa. Bokap lu udah keterlaluan, semarah apapun dia sama lu, dia gak pantes lakuin itu sama lu"
"Tapi aku sayang ayah"
"Iya gue paham. Tapi itu bisa membahayakan lu. Pokoknya kalo bokap lu sampe nyakitin lu lagi, lu harus berani ngelawan, atau gue yang akan bawa lu pergi"
"Iya"
...
Dara tau, tak ada keraguan dalam kata-kata Dika tadi sore itu. Dia tau Dika adalah laki-laki yang tak pernah mengingkari kata-katanya. Dan Dara juga tau jika Dika serius dengan itu semua. Tapi, itulah yang Dara takutkan. Takun semuanya terjadi, takut jika ayahnya kembali menyakitinya dan Dika tau akan hal itu lalu membawanya pergi. Atau bahkan laki-laki itu yang akan bertengkar dengan sang ayah seperti malam itu.
Memikirkan itu semua membuat Dara mengantuk. Sepertinya dia memang butuh istirahat, apalagi malam ini cukup tenang tanpa ada pertengkaran dulu dengan sang ayah seperti malam-malam sebelumnya.
...
__ADS_1
"Bapak harus di rawat beberapa hari"