
...
Setelah malam itu, dimana Dara dan Dika berbincang singkat ditaman dan berakhir Dika yang mengantar Dara sampai depan gang rumahnya. Kini mereka berdua terlihat semakin dekat dari hari ke hari. Dika yang sesekali mengantar Dara ke sekolah sebelum dirinya berangkat kerja, atau Dika yang mampir ke cafe tempat Dara bekerja. Sepertinya usaha Danil dan Arinda cukup berhasil dengan mengenalkan mereka berdua.
"Ra, aku antar kamu pulang ya nanti"
"Terimakasih, Wan. Tapi nanti aku udah ada yang jemput" senyum itu muncul diwajah Dara saat mengingat bagaimana nanti Dika akan menjemputnya. Ya, Dika memang berjanji akan menjemputnya sepulang bekerja nanti
"Siapa,Ra?" tanya Awan dengan raut wajah penasaran
"Teman"
"Laki-laki yang beberapa kali mampir kesini itu ya? Laki-laki yang agak sedikit berandalan itu"
"Namanya Dika, dan ya mungkin penampilannya berandalan tapi dia bahkan jauh lebih baik dari aku"
Setelah beberapa kali bertemu dengan Dika, Dara memang selalu dibuat kagum oleh laki-laki itu. Mulai dari cara dia bersikap padanya sebagai seorang laki-laki terhadap perempuan yang cukup sopan. Dara yang tau Dika tak merokok apalagi minum-minuman keras dari Danil waktu itu.
Dika yang rajin ibadahnya. Dan beberapa kali Dara melihat Dika yang bersedekah pada orang-orang dijalanan saat mereka melintas. Bahkan Dika pernah membeli beberapa donat yang dijual seorang anak laki-laki dilampu merah saat Dika akan mengantarkan dirinya kesekolah. Lalu donat itu diberikan kepadanya dengan berkata "buat bekal" Dara sempat bertanya waktu itu kenapa Dika membeli donat untuknya dari anak kecil tadi. Dan dia hanya menjawab "itu rezekinya pagi ini". Entah kenapa walau dengan jawaban singkat seperti itu saja sudah membuat perasaan Dara menghangat. Dia seolah disadarkan tentang caranya bersyukur. Lagi-lagi Dika mampu membuatnya kagum dengan caranya sendiri.
Yang Dara tau, Dika bukanlah dari keluarga yang bergelimang harta. Dara tau jika Dika berkerja disebuah bengkel sebagai montir. Danil pun sempat bercerita sedikit tentang Dika yang suka ikut balapan. Kata Danil, selain hobi Dika mengikuti balapan juga untuk mencari uang demi pengobatan sang adik. Entahlah Dara tak mau terlalu berlebihan untuk tau lebih dalam urusan hidup orang lain. Tapi Dara jadi berpikir, ternyata untuk menjadi baik dan menolong orang tak perlu menjadi kaya terlebih dahulu.
...
"Udah siap?" Dika bertanya pada Dara setelah memastikan gadis itu memakai helmnya dengan benar
"Iya, udah siap kok"
"Tapi ada yang ketinggalan deh"
"Hah apa?"
Tanpa kata-kata lagi, Dika membuka jaket hitam yang dipakainya dan diberikan kepada Dara
"Pake, udara malem bisa bikin sakit ditambah kita naik motor"
Dengan raut wajah bingung Dara pun menerima jaket itu dan memakainya
"Kalo gue terlalu ngebut bilang ya"
Setelah memastikan jaketnya dipakai oleh Dara dan gadis itu duduk dengan baik dijok belakang motornya, Dika melajukan motornya membelah jalanan kota yang sudah mulai sepi itu. Ditemani dengan angin malam itu yang sedikit kencang, tak ada percakapan diantara keduanya.
__ADS_1
"Suka wedang ronde?"
"Hah apa?" Dara terkejut dengan pertanyaan tiba-tina dari Dika itu
"Lu suka wedang ronde ga?"
"Oh, suka aja sih"
Kali ini Dara merasakan motor yang dikentarai mereka berdua berhenti tepat disamping gerobak penjual wadang ronde yang mangkal didepan ruko yang sudah tutup. Setelah turun dan melepas helmnya mereka pun duduk beralaskan tikar yang sudah disediakan sang penjual.
"Makasih bang. Bang pesen 1 lagi ya"
"Iya mas"
"Kamu kurang?" tanya Dara yang bingung mendengar Dika memesan wedang ronde lagi, padahal punyanya saja baru selesai dibuat dan belum dimakan
Tak ada jawaba dari laki-laki itu. Hanya ada senyuman yang diberikan Dika pada Dara
"Dimakan dulu biar hangat badannya"
"Iya"
"Ini mas wedang rondenya"
"Sebentar ya"
Setelahnya Dara melihat Dika berjalan menyebrang jalan. Tepat disebrang jalan didepan ruko yang sudah tutup itu, Dika memberika wedang rondenya pada seorang bapak tua yang sedang duduk. Dilihat dari sebuah karung dan beberapa kardus yang dibawanya, sepertinya bapak itu seorang pumulung. Setelah memberikan mangkok wedang ronde itu Dika kembali duduk disebelahnya.
"Kenapa kamu kasih bapak itu wedang ronde?"
"Itu rezekinya dia"
Tanpa disadari bibir Dara tersenyum dan hatinya menghangat melihat bagaimana laki-laki itu begitu baik pada orang lain
"Kenapa senyum-senyum?"
"Ha, ga apa-apa. Cuma lagi mikir aja"
"Mikir apa? Aneh-aneh ya pasti"
"Iih enak aja. Aku tuh lagi mikir pengen kayak kamu yang ga pernah mikir berkali-kali kalo mau bantu orang lain"
__ADS_1
"Nolong orang lain tuh jangan pake alasan. Sedekah itu gak harus kaya dulu, dan sedekah juga gak bikin rezeki berkurang"
"Kamu hebat"
"Jangan berlebihan, lu cuma belum kenal gue aja"
"Aku mau tanya boleh?"
"Apa"
"Kamu kenapa gak ngerokok?"
"Ha"
"Hm, waktu ditempat balapan itu aku liat kamu gak ngerokok kayak Danil dan yang lainnya"
"Oh, gue alergi nikotin"
"Oh gitu ya"
"Terus kata Danil kamu kalo baca al-qur'an juga bagus ya?"
"Jangan percaya. Mana ada orang kayak gue bisa ngaji"
"Iya, Danil bilang gitu kok. Katanya kamu juga rajin sholatnya"
"Jangan terlalu percaya kalo lu denger cerita tentang gue yang berlebihan"
...
Setelah selesai dengan wedang ronde dan membayarnya, kini melanjutkan perjalanan menuju rumah Dara. Masih dengan jaket Dika yang dipakai gadis itu. Berkali kali Dika selalu menanyakan apakah dirinya terlalu kencang membawa motornya. Dan Dara yang meyakinkan jika Dika tak ngebut dengan kecepatan motornya sudah cukup.
Lagi-lagi Dara meminta untuk diturunkan depan gang rumahnya. Dara tak berani jika harus turun didepan rumahnya. Dia takut itu akan menjadi masalah jika ayahnya tau Dara diantar pulang oleh seorang laki-laki. Mungkin bukan seperti khawatir seorang ayah pada anak gadisnya, Dara tau ayahnya tak sepeduli itu pada dirinya. Hanya saja Dara tak mau nantinya berdebat yang akhirnya membuat hati Dara kembali sakit. Ditambah Dara pasti akan datang ke sekolah dengan mata yang sembah besok pagi.
"Terimakasih ya"
"Iya sama-sama. Udah sana pulang"
Dika selalu memastikan gadis itu sampai kerumahnya dan masuk, maka barulah dirinya pergi. Awalnya Dika bingung kenapa Dara tak mengijinkannya mengantar gadis itu sampai kedepan rumahnya. Tapi, Dika paham, mungkin Dara takut dimarahi oleh orang tuanya karena diantar oleh pria malam-malam begini. Jadi, Dika pun tak keberatan kalau harus menurunkan Dara didepan gang sesuai permintaan gadis itu. Yang penting Dika memastikan dulu Dara sampai dan masuk kerumahnya dengan selamat sebelum dirinya pergi.
"Selamat malam cantik"
__ADS_1
"Kamu buat aku makin kagum sama kamu"
...