Mahadara

Mahadara
episode 27. 2


__ADS_3

...


Hari minggu pun tiba dimana Dika menepati janjinya. Dara sudah siap dan menunggu dihalte dekat rumahnya. Tanpa disadari dari kejauhan ada yang memperhatikannya dengan tatapan marah.


Tin tin


Suara klakson motor itu membuat Dara bangun dari duduknya. Laki-laki dengan kaos putih dilapisi dengan jaket hitam itu tampak lebih tampan dari biasanya. Apalagi siang ini Dika memakai kacamata hitam yang menambah ketampanannya. Pakaian yang rapih juga membuat Dara sedikit terkejut. Memandang laki-laki itu dengan tatapan kagum sebentar dan tersadar ketika,


"Udah mandangin gue nya"


"Eh"


"Ayok, panas nih"


"Iya"


"Kali ini gue boleh bilang sesuatu gak?"


"Apa? Kalau kamu ngebut aku harus bilang?"


"Bukan"


"Terus apa?"


"Tolong pegangan sama gue"


"Eh pegangan?"


"Iya, karna ini lumayan jauh"


"Hmm gini" Dara mencoba beranikan diri memegang jaket Dika


"Bukan, tapi gini" Dika mengambil tangan Dara dan melingkarkan pada pinggangnya


Tanpa Dika tau pipi Dara dudah memerah dan jantungnya pun berdetak sangat cepat. Dan orang yang memperhatikan Dara semakin terlihat marah lalu menjalankan mobilnya dengan cepat.


"Tuh mobil ngebut banget" ucap Dika yang kaget


"Kayak kenal mobilnya" ucap Dara yang hampir berbisik


"Siap?"


"Eh iya siap"


"Jangan dilepas ya"


...


Kurang lebih satu jam mereka akhirnya sampai disebuah danau. Danau itu tak terlalu ramai, dengan rindangnya pepohonan disekitarnya banyak yang memilih untuk bermain dengan keluarga.


"Indah banget danaunya"


"Suka?"


"Iya suka, udaranya juga sejuk walau ini udah siang"


"Tunggu sini ya, gue mau beli minum dulu"


Dika kembali tapi tak hanya membawa air minum. Tapi juga membawa semangkok bakso ditangannya.


"Kok jadi beli bakso?"


"Buat cemilan ngobrol"


"Makasih" Dara menerima botol air mineral yang sudah dibuka oleh Dika


"Buka mulutnya"

__ADS_1


"Apa?"


"Buka mulut lu"


"Aaaa"


"Enak?"


Ternyata Dika menyuapinya bakso yang tadi dibelinya.


"Gue suka tempat tenang gini. Rasanya nyaman, ya walau gak terlalu sepi"


"Terus kenapa kamu ajak aku kesini kalau masih ada yang kurang suka"


"Hahaha masa gue ngajak lu ketempat yang sepi. Jadi fitnah nanti"


"Kemarin ngajak ke pantai yang sepi" dengan suara yang kecil Dara memjawab agar Dika tak dengar


"Hahaha maaf ya"


"Maaf kenapa"


"Maaf bawa lu ke pantai yang sepi kemarin"


"Eh, iya gak apa-apa kok"


Ternyata dia denger


"Gue juga denger kok ucapan lu waktu di pantai kemarin"


"Hah, u-ucapan aku yang mana?"


"Gue boleh jawab ucapan lu yang dipantai aja gak?"


"Maksudnya?"


"Gue juga suka sama lu"


"Boleh gue jujur?"


"Apa?"


"Gue nyaman sama lu, gue juga pernah bilang kan kalau gue mau jaga lu dan lindungin lu terus. Dan gue serius soal itu"


"Hah"


"Aku sayang sama kamu Dara"


Dara terdiam, bingung dan kaget menjadi satu. Dara benar-benar tak menyangka Dika akan mengucapkan hal itu padanya.


"Gue gak minta lu kasih gue jawaban. Gue cuma berusaha jujur sama apa yang gue rasa, gue gak mau menyesal nantinya"


"Menyesal?"


"Iya menyesal karena gak jujur sama perasaan gue"


"Tadi kamu sekarang balik ke gue"


"Haha, lebih suka yang mana?"


"Kamu"


"Iya aku juga suka kamu"


"Ish Dika" Dara yang malu berusaha menutup wajahnya dengan kedua tangannya agar Dika tak melihat wajahnya yang merah seperti tomat


"Pacar"

__ADS_1


"Hah"


"Ya kamu pacar aku sekarang"


"Ih kata siapa"


"Jadi gak mau nih?"


"Ya bukan gitu"


"Terus apa?"


"Ya, iya mau" dengan wajah yang menunduk dan suara yang kecil, tapi Dika tetap bisa mendengarnya


"Yes"


...


Setelah menghabiskan waktu didanau sampai sore hari. Kini Dika membawa Dara untuk makan disebuah tempat makan sederhana. Dika bilang itu adalah tempat makan favorit ibunya dulu jika mereka sedang kedanau itu. Dara baru tau ternyata dulu keluarga Dika sering piknik disekitar danau itu.


Sang penjual rumah makan itu masih cukup mengenali Dika. Dan sempat bertanya kemana kedua orangtuanya. Dika bilang jika orang tuanya sudah meninggal karena sakit. Dara hampir saja dikira adik dari Dika. Tapi sebelum itu terjadi, Dika sudah lebih dulu bilang bahwa Dara adalah calon istri laki-laki itu. Dan itu membuat Dara mencubit kecil perut Dika.


Mereka makan nasi dan berbagai lauk pauk yang tersedia disana. Ternyata uniknya rumah makan itu memasak masih dengan kayu bakar. Pantas saja Dara merasakan ada aroma khas dari masakan masakan yang ada disana.


Dika bilang, dulu dia sempat takut untuk makan disini karena ada seorang nenek yang melayani. Itu adalah nenek dari pemilik rumah makan itu. Namun karena Dika dan keluarga yang cukup sering makan disana hampir setiap hari libur, membuatnya tak takut lagi dengan nenek itu.


Tapi nenek itu sudah meminggal beberapa tahun yang lalu. Ternyata tak jauh dari waktu meninghalnya orangtua Dika.


Setelah selesai makan, kini Dara yang minta ditemani Dika kepantai yang mereka datangi kemarin. Dara mau melihat pantai iti sore hari, karena kemarin katanya gadis itu tak bisa melihat pemandangan apapun selain langit gelap dengan bulannya.


"Mau liat sunset?"


"Iya mau"


"Ayok, aku tau tempat yang bagus buat liat sunset"


"Wahh bagus banget ya"


"Sebentar lagi sunset, suka?"


"Suka banget"


"Makasih ya"


"Buat apa?"


"Udah mau nyaman sama aku"


"Makasih juga ya, udah mau terima cewe kayak aku"


"Kalo gitu makasih juga udah mau terima aku dan masa lalu aku"


"Semua orang punya kesalahan dimasa lalu. Yang penting kita mau belajar untuk gak ulangi lagi kesalahan itu"


"Gemes banget pacar aku"


"Ish jangan bikin aku deg deg an"


"Hahaha"


Mereka berdua menikmati sunset sore itu dengan hati yang berbunga bunga. Melupakan sejenak permasalahan hidup masing-masing. Biarlah semilir angin pantai itu membuat mereka tenang sebentar. Melepaskan segala beban yang selama ini membuat berat pundah mereka.


Dari sudut pantai yang berbeda dari para pengunjung lain. Dara bisa melihat sunset dari sudut yang berbeda tapi jauh lebih indah. Setelah sekian lama tak melihat sunset akhirnya Dara bisa kembali melihat keindahan alam itu. Yang sebelumnya Dara meihat sunset dengan kak Rinjani, lalu setelahnya Dara hanya bisa melihat sunset seorang diri yang berakhir dirinya tak mau lagi melihat sunset, karena hanya akan teringat pada kakaknya itu.


Tapi hari ini, Dara kembali melihat sunset dengan tangan yang digenggam seseorang dengan penuh ketulusan. Laki-laki yang sudah berani membuatnya nyaman beberapa bulan itu seolah tak peduli dengan sakitnya. Laki-laki yang datang dengan suka rela untuk membantunya sembuh dari segala takut dan membuatnya berani untuk tak membiarkan luka itu terus menyakitinya. Laki-laki yang dengan berani melawan kerasnya sang ayah. Dan laki-laki yang tak pernah ingkar janji. Seulas senyum itu Dara berikan pada laki-laki yang kini sedang menatapnya disinari dengan warna jingga sunset yang indah.


Mereka mengagumi satu sama lain dan menguatkan satu sama lain. Tak ada yang tak mungkin bagi keduanya untuk bisa merasa nyaman dengan caranya masing-masing.

__ADS_1


...


Pukul 11 malam Dara sampai dirumahnya tentu dengan Dika yang mengantarnya. Sebelum pulang tadi Dika sempat membawa Dara ketempat bang Ronald karena Dika ada urusan sebentar disana. Dan disana ternyata ada Arinda juga dengan Danil tentunya. Jadilah Dara pulang larut malam.


__ADS_2