
...
Beberapa hari ini Dara mencoba menghindari Dika. Gadis itu tak lagi membalas pesan yang dikirim Dika, dan tak merespon telepon dari Dika. Setelah kejadian beberapa hari lalu dimana Dika melihat luka diwajahnya dan laki-laki itu terlihat marah. Ditambah Arinda yang bilang pada Dika saat mereka bertemu di cafe tempat Dara bekerja. Arinda bilang jika Dara habis dipukuli oleh ayahnya bukan hanya wajah tapi juga tubuh Dara. Jadilah malam itu Dika mengantarkan Dara pulang sampai kedepan pintu rumahnya dan bertemu dengan sang ayah.
Kedua laki-laki berbeda usia itu saling pandang dengan aura kemarahannya masing-masing. Bakan Dara takut, gadis itu takut diantara laki-laki yang punya aura kemarahan yang terasa mengerikan itu. Dara bisa melihat Dika yang mengepalkan tangannya dan wajah laki-laki itu yang memerah seolah menahan amarah. Dara tak tau apa yang mereka pikirkan.
"Beraninya kamu ajak laki-laki kerumah, dasar gadis murahan"
"Dia temanku ayah"
"Gak ada gadis baik-baik yang berani bawa teman laki-lakinya kerumah selarut ini"
"Dia cuma mau antar aku pulang"
"Murahan ya murahan aja"
"Maaf om, tapi yang dibilang anak om itu benar" kali ini Dika angkat bicara
"Diam kamu, dan harus kamu tau... dia bukan anak saya"
"Ayah"
"Diam, saya gak punya anak murahan seperti kamu"
"Om, bisakah om bersikap dan berkata yang baik pada putri om"
"Saya sudah bilang dia bukan anak saya. Lagi pula kamu orang lain yang gak tau apa-apa"
"Tapi saya tau, kalau ternyata didunia ini ada seorang ayah yang bejat seperti anda"
"Kurang ajar kamu"
Bugh
Pukulan dipipi kiri Dika membuat pemuda itu terjatuh dilantai teras rumah Dara. Dengan cepat Dara membantu Dika untuk kembali berdiri.
"Ayah, ayah keterlaluan"
"Jangan berani kamu ngatur saya. Kamu cuma orang asing yang gak tau apa-apa, jadi kamu gak pantas berbicara seperti itu sama saya"
__ADS_1
"Lalu, apa yang pantas? Apa kata-kata yang paling tepat untuk seorang ayah yang sudah dengan teganya menyiksa anaknya sendiri"
"Kamu-"
Plak
Tamparan yang dilayangkan sang ayah untuk Dika malah mengenai pipi Dara. Dara menghalangi sang ayah yang ingin kembali memukul Dika itu akhirnya harus kembali merasakan tamparan dari sang ayah dipipinya.
"Anda-"
"Dika cukup, udah" Dara mencoba menghentikan Dika yang ingin membalas pukulan ayahnya.
Laki-laki itu tak terima melihat Dara disakiti didepan matanya sendiri. Rasanya sakit melihat seorang wanita disakiti seperti itu. Dika yang selalu mencoba melindungi wanita kini harus melihat bagaimana seorang laki-laki bahkan seorang ayah yang menyakiti putrinya itu didepan matanya. Rasanya sakit sekali.
Setelah Dara yang mencoba melerai kedua laki-laki itu, dia memaksa Dika untuk segera pulang. Dia tak mau Dika bermasalah dengan sang ayah. Apalagi nanti akan berakibat pada dirinya yang semakin dibenci atau bahkan disiksa oleh ayahnya itu.
Dara langsung masuk kedalam rumah setelah memastika Dika pergi dengan motornya. Dan meyakinkan Dika jika dirinya akan baik-baik saja.
Namun, saat dirinya baru saja menyentuk gagang pintu kamar suara sang ayah membuatnya berhenti dan melihat kearah sang ayah.
"Dia dibayar berapa sama kamu sampai berani melawan saya?"
"Oh, atau kamu bayar dia pake tubuh kamu, sampai dia mau membela kamu seperti itu"
"Ayah!"
"Apa? Benar ucapan saya? Karena gak mungkin dia mau membela kamu seperti tadi kalau tidak ada bayarannya"
"Sehina itu aku dimata ayah? Serendah itukah aku? Bahkan aku udah berusaha jadi putri ayah yang baik, berusaha mengikuti semua kemauan ayah. Tapi, haruskah ayah berkata begitu"
"Iya kamu memang serendah itu. Kamu itu sama seperti ayahmu yang hina"
"Maksud ayah?" raut wajah terkejut tak bisa disembunyikan dari Dara
"Saya selalu bilang kan kalo kamu itu bukanlah anak saya. Itu bukan hanya sekedar ucapan saya yang membenci kamu. Tapi memang kamu bukanlah putri saya"
"Maksudnya apa, yah?"
"Kamu adalah anak dari hasil perselingkuhan istri saya dengan mantan pacarnya"
__ADS_1
Tes
Setetes air mata jatuh dipipi Dara saat mendengar kata-kata ayahnya itu. Fakta baru yang Dara tau tentang hidupnya dan kebencian ayahnya selama ini.
"Istri saya terpengaruh oleh rayuan dari laki-laki mantan pacarnya itu. Sampai mereka berani selingkuh dibelakang saya. Hubungan mereka terlalu jauh sampai istri saya hamil kamu disaat saya sedang pergi dinas keluar negeri"
"Itu bohong kan, yah?" rasanya masih tidak percaya dengan semua fakta itu
"Buat apa saya bohong. Saya berbaik hati menerima kamu itu karena permintaan terakhir istri saya sebelum pergi setelah melahirnkan kamu. Andai laki-laki itu tidak mati karena kecelakaan mungkin saya sudah menyerahkan kamu padanya"
"Jadi..."
"Iya, jadi kamu bukanlah anak saya. Dan kamu adalah anak haram dari hasil perselingkuhan istri saya"
Hiks
Dara tak bisa berkata-kata lagi. Kakinya lemas, tubuhnya terjatuh seolah nyawanya hilang separuh. Sang ayah yang tak merasa iba pada dirinya langsung masuk kekamarnya tanpa peduli rasa kesakitan Dara karena semua fakta yang dia katakan tadi.
Dengan langkah lemas Dara memasuki kamarnya. Gadis itu terduduk dilantai dekat ranjang dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya. Betapa remuk hatinya mendengar semua fakta itu. Ditambah dirinya yang ternyata seorang yatim piatu. Sekarang dia tau kenapa ayahnya sangat membencinya. Lalu masih pantaskah dirinya memanggil laki-laki itu ayah.
...
Setelah fakta tentang dirinya yang baru saja Dara tau dan setelah kejadian Dika dengan sang ayah. Dara memilih menjauhi laki-laki itu. Dirinya merasa malu dan takut. Malu karena dirinya yang ternyata hanyalah seorang anak haram, dan takut jika Dika akan berurusan lagi dengan ayahnya. Dara juga tidak mau jika Dika teribat terlalu jauh dalam masalah hidupnya yang menyedihkan itu.
Semakin hari Dara mencoba menghindari Dika. Semakin hari juga dirinya merasa tertekan. Kata-kata sang ayah masih saja terus berputar dikepalanya. Bahkan Dara sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Dara selalu menangis dibawah guyuran air didalam kamar mandi disaat malam hari. Dara yang sudah beberapa hari ini meminum obat tidur untuk membantu dirinya tidur dengan tenang. Dara yang beberapa hari ini tak terlihat senyumnya.
Bahkan Arinda hingga mba Dewi juga bingung tentang perubahan sikap Dara itu. Dara yang tak lagi menanggapi candaan demi candaan yang diberikan oleh Awan. Bahkan dia akan keluar dari pintu belakang cafe disaat dirinya tau Dika menjemputnya didepan cafe.
...
Dara pun bingung dengan dirinya. Seolah tak ada lagi tujuan hidup yang dipegangnya. Hidupnya terasa hampa dalam sekejap, terasa hancur walau selama ini pun hidupnya sudah tak baik. Pikiran-pikiran untuk menyerah terasa lebih menyenangkan untuk kondisinya saat ini.
Beberapa hari ini, sang ayah juga tak ada dirumah. Ayahnya itu sedang ada tugas dinas keluar kota. Kondisi itu cukup menguntungkan untuk Dara yang bingung harus bersikap seperti apa disaat dirinya tau jika laki-laki itu bukanlah ayah kandungnya.
"Jadi memang benar kalo aku bukan anak ayah"
...
"Ada apa sebenarnya?"
__ADS_1