
Matahari sudah kembali keperaduannya. Angin pantai berhembus dengan cukup kencang. Ditemani bulan yang bersinar dengan sempurna dengan pantulan cahayanya diatas air laut yang menemami sepasang muda mudi yang sedang duduk disebuah kursi kayu dipinggir pantai. Dua buah kelapa hijau yang dipesan sang pria seolah menjadi saksi kebisuan diantara keduanya sejak 30 menit yang lalu. Sang pria mencoba untuk memecah kebisuan diantara mereka.
"Gimana olimpiade kemarin?"
"Belum ada hasilnya, tapi semoga aja kali ini dapet hasil yang baik"
"Gue doain"
"Aku boleh tanya?"
"Apa"
"Kamu kenapa gak sekolah? Danil bilang umur kamu 1 tahun lebih tua dari aku"
"Ada hal yang buat gue berhenti untuk sekolah"
"Boleh tau hal apa itu?"
"Nanti ya, nanti gue akan cerita sama lu kalo udah waktunya"
"Huum iya"
Keheningan kembali terjadi diantara mereka. Dengan pandangan yang lurus kearah laut lepas itu, mereka seolah sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tadi sepulang sekolah dan seperti biasa Dika yang menjemput Dara berencana langsung mengantarkan gadis itu ketempat kerjanya. Tapi, Dara bilang hari ini dia libur, jadi Dika berniat mengantar gadis itu pulang saja kerumahnya. Lagi-lagi Dara bilang ingin Dika mengajaknya mencari ketenangan. Kemana pun laki-laki itu membawanya pergi Dara tak masalah. Dia percaya Dika tak akan membawanya ketempat yang aneh-aneh. Dan disinilah mereka sekarang.
Disebuah pantai yang tak ramai, hanya ada beberapa pengunjung dan penjual. Tapi cukup bisa membuat suasana hati sedikit tenang.
Dara rasanya masih penasaran dengan hidup Dika. Namun, dia juga rasanya tak bisa terlalu banyak bertanya. Ditambah respon Dika yang selalu saja menjawab "nanti akan ada waktunya lu tau". Hal itulah yang membuat Dara tak berani bertanya terlalu dalam.
"Gue punya adik. Dia mirip sama lu, dia manis" ucapa Dika itu membuat Dara mengarahkan arah pandangnya pada laki-laki disebelahnya itu
Namun, Dara kali ini hanya ingin menjadi pendengar saja. Dia hanya akan mendengarkan cerita demi cerita dari laki-laki yang baru dikenalnya belum lama ini.
"Dia anak yang manis dan penurut. Dia punya kekurangan yang buat gue selalu ingin jaga dia. Sama kayak gue yang pengen jaga lu terus"
"Iya"
"Dia anak yang baik, tapi sayang nasibnya gak terlalu baik. Dan gue cuma mau jadi kaka yang baik buat dia"
"Iya"
__ADS_1
"Nanti kalo gue ajak lu ketemu sama dia. Lu mau?"
"Aku boleh ketemu adik kamu?"
"Iya, gue mau ngenalin lu sama dia"
"Iya, aku mau"
"Terimakasih ya"
"Iya sama-sama"
"Lu mau tau kenapa gue gak ngerokok atau minum?"
"Kenapa?"
"Ibu gue selalu ngelarang gue untuk mendekati hal-hal kayak gitu. Apalagi ibu gue takut banget gue pake obat-obatan terlarang"
"Jadi bukan karena alergi?"
"Haha ya gue alergi juga sama hal-hal yang dilarang sama ibu gue"
"Gak, dia gak tau soal balapan. Tapi gue yakin dia tau tanpa gue kasih tau"
"Kalau ayah kamu?"
"Dia cuma tau gue anak laki-laki yang akan terus menjaga adiknya"
"Orang tua kamu hebat. Dia bisa mendidik kamu dengan luar biasa seperti sekarang"
Pandangan Dika kini beralih pada gadis disebelahnya itu. Tatapan yang Dara rasa punya ribuan makna itu seolah sedang mejelaskan tentang rasa sakit, kekuatan, dan kesedihan yang coba diaembunyikan oleh laki-laki itu.
Entah ada apa sebenarnya atau kata-katanya ada yang salah te tentang laki-laki itu. Yang membuat Dika seolah membuka kembali luka hidupnya.
"Iya, mereka hebat. Gue beruntung pernah punya mereka dihidup gue, walau sekarang gue cuma punya adik gue aja"
"Memang orangtua kamu kemana?"
"Mereka udah meninggal beberapa tahun yang lalu"
__ADS_1
"Maaf, aku gak bermaksud" Dara meminta maaf saat dirinya sadar tentang kesalahan membahas orangtua dari Dika
"Gak apa-apa kok"
...
Setelah pembicaraan dipantai tadi. Kini keduanya sudah berada diatas motor, dengan Dika yang berniat mengantar Dara pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Keduanya menikmati perjalanan pulang dengan keheningan. Mereka seolah sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Dika yang berpikir tentang bagaimana sikap Dara seteleh mengetahui sedikit perihal hidupnya. Dan Dara yang berpikir tentang bagaimana Dika yang hidup hanya dengan sang adik yang tak mudah. Dara cukup tau bagaimana rasanya hidup tanpa seorang ibu.Tapi Dara tak tau bagaimana hidup juga tanpa seorang ayah. Walau selama ini dia pun tak tau rasanya mendapat kasih sayang seorang ayah seperti apa.
Bagi Dara awalnya hidup Dika tak sepedih itu. Dara pikir Dika sama seperti remaja laki-laki lainnya, misalnya seperti Danil yang hidup dengan keluarga yang baik-baik saja. Tapi ternyata Dika punya hidup yang tak baik-baik saja. Apalagi tadi Dika sempat bilang kalau hidupnya mulai terasa rumit setelah ayahnya meninggal dan disusul dengan ibunya yang juga meninggal.
Tapi, Dara cukup kagum dengan Dika yang mengalami masa-masa sulit hidupnya dengan tetap memegang teguh nasihat sang ibu. Terlebih soal ibadah yang Dara sedikit tau dari kekasih sahanatnya, Danil. Dara yakin, semasa hidupnya, orangtua Dika mendidik laki-laki itu dengan sangat luar biasa. Sampai setelah mereka tinggal pergi pun, Dika tetap menjadi anak laki-laki yang baik.
...
"Terimakasih ya udah antar aku pulang"
"Iya sama-sama. Udah sana lu masuk"
"Maaf juga udah bikin kamu selalu repot dorong motor setiap antar aku sampai depan rumah begini"
"Gak apa-apa, yang penting gue bisa pastiin lu sampe rumah dengan selamat"
"Kamu orang baik. Aku yakin hidup kamu dan adik kamu kedepannya juga pasti akan baik"
"Terimakasih buat doanya"
...
Malam ini Dara tak bisa tidur dengan nyenyak. Bayang-bayang tatapan mata Dika dipantai tadi tak bisa Dara pungkiri banyak kesakitan yang coba disembunyikan laki-laki itu. Sepertinya ada kesakitan yang sangat mendalam yang masih dirasakannya. Dara tak mau bertanya, dia hanya ingin Dika yang bercerita dengan sendirinya, senyaman laki-laki itu saja. Karena bagi Dara, jika Dika percaya padanya maka laki-laki itu pasti akan bercerita sendiri tanpa diminta.
Entah perasaan apa yang ada didalam hati Dara saat ini. Tapi, dia merasa ingin terus mendukung apapun yang dilakukan Dika. Dan ingin terus berada disamping laki-laki itu apapun cerita hidup tentang laki-laki itu yang dia ketahui nantinya. Karena bagi Dara setiap manusia punya cerita masa lalunya masing-masing. Dan dirinya tentu tak boleh menghakimi itu. Sebab kita tak tau bagaimana proses orang itu bisa berdamai dengan rasa sakit masa lalunya.
Karena Dara pun punya cerita masa lalu juga yang cukup menyakitkan. Bahkan hidupnya masih jauh dari kata baik-baik saja sampai sekarang. Semua kuatnya selama ini hanyalah pura-pura. Jujur, rasa menyerah itu selalu jadi bayangan paling indah untuk Dara. Tapi lagi-lagi dia seolah tertahan oleh suatu hal yang masih membuatnya bertahan sampai saat ini.
...
"Aku ingin kuat sepeti Dika"
__ADS_1