Mahadara

Mahadara
episode 23


__ADS_3

...


Dara rasanya semakin galau, perasaannya semakin tak karuan. Dia rindu Dika, rindu laki-laki itu yang menjemputnya disekolah, laki-laki itu yang mentraktirnya es krim di taman, dan laki-laki itu dengan segala kata-kata penenangnya. Dara ingin seperti Dika, yang bebas melakukan apa saja tanpa rasa khawatir. Dara selalu melihat Dika yang tenang dalam hal apapun, laki-laki itu seolah tak pernah takut.


Dara mengakui jika dirinya nyaman dan merasa aman saar berada didekat Dika. Dia selalu merasa dilindungi oleh laki-laki itu. Apalagi dengan sikapnya yang sopan terhadap wanita. Dika tak pernah menyentuhkan berlebihan. Tapi, usapan lembut dikepalanya beberapa kali membuat perasaan Dara berbunga-bunga. Hatinya bergetar dan seolah dirinya terbang seperti peri. Dara tak mengerti perasaan apa yang dia rasakan.


Menurut sahabatnya Arinda, perasaan yang Dara rasakan adalah perasaan cinta. Dara memang tak paham apa itu cinta. Apalagi dirinya tak pernah punya teman dekat laki-laki sebelumnya.


"Tapi kamu nyaman kan,Ra, sama Dika?"


"Iya sih"


"Yaudah sana kamu minta maaf terus bilang kalau kamu sayang sama dia"


"Ih Arinda, masa aku bilang gitu sih"


"Ya emangnya kenapa? Jaman sekarang tuh udah gak harus cowok duluan yang bilang, Ra"


"Ya tapi masa aku bilang gitu sih, malu ah"


"Berarti kamu gak mau minta maaf juga nih sama Dika?"


"Kalau minta maaf sih aku mau"


"Kapan?"


"Yaaa tunggu aku siap"


"Kapan?"


"Hmm nanti"


"Ya, nantinya tuh kapan Dara ku sayang"


"Aku tuh kemarin udah coba mau ngehubungi dia"


"Terus?"


"Tapi gak jadi, aku deg deg an"


"Hahahaha emang gitu tuh kalo lagi salting sama doi"


"Iiihhh Arinda malah ngeledek"

__ADS_1


"Ya kan emang bener, kalau lagi jatuh cinta tuh begitu"


"Emang kamu sama Danil begitu juga?"


"Waktu awal-awal sih iya"


"Aku takut Dika gak maafin aku, Nda. Aku juga takut dia menjauh"


"Ra, aku yakin kok Dika itu mau maafin kamu. Danil bilang, Dika itu cowok yang baik. Ya walaupun tampilannya kayak preman"


"Iya sih"


"Terus nih ya, kalau kamu emang takut Dika menjauh ya kamu harus secepatnya minta maaf sama Dika"


"Iya"


Dua sahabat itu sedang mengobrol ditaman dekat cafe Dara bekerja. Tadi mereka pulang sekolah lebih cepat, karena para guru mau mengadakan rapat. Jadilah mereka berdua disini, Dara yang masih butuh teman bercerita. Dan Arinda yang sedang bosan dirumah jadi berniat mempir sebentar ke cafe Dara bekerja. Tapi karena jam kerja Dara yang masih beberapa jam lagi, jadilah mereka mampir ke taman sambil memakan es krim dan jajan jajan sedikit.


...


Dara sampai dirumah hampir jam setengah satu malam. Tadi, ada meeting sebentar dari bos di cafe sebelum semua karyawan pulang. Jadi, Dara pulang memang sedikit lebih larut. Dara hanya berharap semoga sang ayah tidak memarahinya malam ini. Kerena jujur Dara merasa lelah hari ini, cafe sangat ramai tadi.


Sebelum masuk ke kamar, samar-samar Dara mendengar sesuatu dari arah dapur.


Prang


"Hm"


"Ayah mau apa? Biar Dara yg buat?"


"Teh hangat"


"Yaudah Dara buatin teh ya, ayah tunggu dikamar aja. Ayo Dara bantu ayah ke kamar"


"Saya bisa sendiri"


Dengan sedikit tertatih sang ayah masuk kembali kedalam kamar. Sepertinya ayahnya sedang kambuh penyakitnya. Karena Dara dapat mendengar sedikit suara rintihan dari ayahnya itu. Wajahnya pun pucah, walau dengan penerangan yang minim tapi Dara masih melihat bagaimana raut kesakitan ayahnya. Lampu memang sudah dimatikan, hanya ada lampu kecil dimeja yang ada disudut ruangan. Didapur pun hanya ada lampu didekat kulkas.


Setelah teh buatannya siap, Dara langsung mengantarnya kekamar sang ayah. Dia juga ingin memastikan ayahnya sudah meminum obantnya malam ini.


Tok tok tok


"Ayah"

__ADS_1


"Masuk"


"Ayah, ini teh hangatnya"


"Hm"


"Ayah udah minum obatnya"


"Belum"


"Loh kok belum. Yaudah ini Dara siapin obatnya ya"


"Hm"


"Ini ayah, diminum dulu obatnya. Biar ayah cepat sembuh, ayah harus semangat buat sembuh ya"


"Jangan ngatur saya"


"Iya, maaf ayah"


"Udah, saya mau istirahat. Keluar kamu"


"Iya ayah. Yaudah ayah istirahat ya, selamat malam ayah"


Tak ada jawaban dari ayahnya. Laki-laki tua itu langsung memakai selimutnya dan membalikkan tubuhnya membelakangi Dara.


Setelah menutup pintu kamar ayahnya. Dara langsung masuk ke kamarnya dan membersihkan diri. Hari ini memang cukup lelah, apalagi di cafe tadi Dara hampir tak bisa istirahat. Tapi Dara juga senang, hari ini ayahnya tak marah-marah, bahkan dia bisa mengucapkan selamat malam pada ayahnya itu. Walau ayahnya tak merespon, tapi setidaknya Dara bisa memastikan ayahnya itu sudah meminum obatnya dan istirahat.


Setelah bersih-bersih dan berganti pakaian. Dara langsung saja merebahkan tubuhnya diranjang. Besok adalah hari minggu, yang artinya Dara libur sekolah. Dara berniat besok akan digunakannya untuk belajar sebelum pergi bekerja sore harinya. Karena hari ini rasanya Dara malas untuk belajar. Dia ingin istirahat dari belajar, pikirannya juga sedang tidak fokus. Semenjak pembicaraannya siang tadi dengan Arinda sahabatnya itu. Dara selalu memikirkan ucapan Arinda yang mengatakan jika dirinya punya perasaan yang lebih dari sekedar sahabat pada Dika.


Tapi, kalau untuk mengatakan perasaannya duluan pada Dika, Dara jelas tak setuju. Tentu saja dirinya tak punya keberanian untuk itu. Untuk minta maaf saja Dara masih harus mengumpulkan keberanian, apalagi mengatakan perasaannya.


Entah sejak kapan perasaan itu ada. Padahal sebelumnya Dara merasa biasa saja jika sedang didekar laki-laki itu. Bahkan Dara tak pernah memikirkan laki-laki itu seperti ini.


Tapi, setelah dirinya menjauh dari laki-laki itu. Dara jadi semakin sering memikirkan Dika, bahkan perasaannya pun selalu tak tenang. Seperti khawatir tentang kondisi laki-laki itu. Apa dia makan dengan baik, apa dia sehat dan lainnya. Aneh, iya Dara pun merasa aneh dengan perasaannya itu.


Jika, yang dikatakan Arinda benar, lalu dirinya harus bagaimana. Apa Dika juga punya perasaan yang sama dengannya. Atau bahkan Dara akan sama seperti Arinda yang mempunyai kekasih.


Ah, membayangkannya saja sudah membuat Dara tersenyum saat ini. Dan tanpa disadari jarum jam hampir menunjukkan angak 2 malam. Hah apa selama itu dirinya memikirkan Dika. Bahkan Dara bisa merasa nyaman hanya dengan memikirkan laki-laki itu. Sungguh aneh dipikirnya, punya mantra apa Dika sampai bisa membuatnya sepeti ini.


"Yaampun aku tuh kenapa sih, masa yang dibilang Arinda benar kalau aku sayang sama Dika. Tapi aku gak bisa bohong, aku tuh kepikiran dia terus. Apa aku hubungin dia sekarang ya. Eh, tapi kan ini udah malem banget nanti ganggu dia istirahat"


Dika

__ADS_1


Iya...


...


__ADS_2